Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2025

Pelukan yang Tertunda

Kamis, November 20, 2025 0 Comments

 


“Pa, minggu depan aku sidang skripsi.” Ucap Andhita di sela makan malamnya bersama Papa.

“Hmm. Terus kenapa?” jawab Papa. Masih dengan aura dingin, dan tak peduli seperti biasanya.

Andhita menarik senyum pahit yang ia coba sembunyikan dari tatapan sang ayah. Seperti biasa, Ta! Lu ada tapi seolah tak terlihat! Ngapain juga kasih laporan, apalagi berlagak minta didoakan. Lucu! Gumam Andhita dalam hati.

“Terus kenapa kalau kamu mau sidang? Semuanya udah dibayarkan, kan? Apa lagi?” tanya Papa tanpa keramahan sedikitpun.

“Gak, Pa. Cuma mau kasih tau dan minta doa dari Papa aja.” jawab Andhita sambil menahan perih dalam hatinya.

“Oh.” Jawab Papa dengan sangat singkat yang langsung bangkit dari kursinya dan meninggalkan Andhita di ruang makan sendirian.

Ini bukanlah kejadian pertama yang Andhita dapatkan dari Papanya. Mestinya enggak harus sesakit ini, Ta. Bukannya udah biasa dengan perlakuan seperti itu? Andhita bertanya kepada dirinya sendiri.

Ya! Sikap dingin, tak peduli, dianggap tak ada, bahkan seringkali disebut sebagai anak pembawa sial, sudah sering kali Andhita dapatkan semenjak lima tahun lalu sang mama pergi untuk selamanya.

Andhita menyeka air mata yang sudah siap terjun bebas dari ujung matanya. Sebisa mungkin ia menahan rintik air matanya sambil membereskan piring kotor dan meja makan agar terlihat rapih kembali.

Selesai membereskan piring-piring dan dapur serta ruang makan, Andhita kembali ke kamarnya. Ia segera merebahkan badannya di atas tempat tdirunya yang hanya berukuran 60x120cm. Ia merasa sangat lelah. Bukan karena pekerjaan rumah apalagi persiapan sidang skripsinya. Karena yang membuatnya merasa sangat lelah adalah sikap papanya sendiri. Bertahun-tahun lamanya Andhita berada di keadaan yang sama sekali membuat ia tak nyaman. Bertahun-tahun pula ia terjebak dalam keadaan merindukan kedua orangtuanya.

Andhita membalikkan badan, menatap potret mama dan papanya yang ia pajang di atas nakas samping tempat tidur. Ia pun merubah posisinya. Ia duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap potret mama dan papa yang kini sudah berada dalam genggamannya.

“Aku berdosa banget ya, Ma? Udah membuat Mama harus meninggalkan Papa secepat ini?” lirih Andhita sambil menatap potret sang Mama yang tersenyum begitu manisnya.

“Ma, semenjak Mama pergi, aku bukan cuma kehilangan Mama. Aku juga kehilangan Papa. Papa ada secara fisik di sini, aku yang menemani Papa setiap hari semenjak Mama pergi. Tapi nyawa dan hati Papa gak ada lagi buat aku, Ma. Aku rindu Papa yang dulu. Aku rindu Papa yang hangat dan perhatian sama aku, Ma. Dosa ku besar banget ya, Ma? Sampe Tuhan harus menghukumku seperti ini?” lanjut Andhita sambil menatap potret Mama dan Papa nya bergantian. Ia biarkan wajahnya basah oleh air mata. Ia membiarkan bulir air mata itu membicarakan kerinduan yang menyesakkan dadanya selama ini.

***

Lima tahun lalu.

Andhita baru saja melewati hari terakhir ujian sekolahnya. Sebagai tanda syukurnya, Andhita meminta ijin kepada Mama untuk pergi jalan-jalan dengan sahabat-sahabatnya sepulang sekolah sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan karena mereka sudah melewati hari-hari ujian sekolah yang cukup menjadi beban untuk mereka.

Dengan segala pertimbangan, Mama mengijinkan Andhita pergi bersama sahabat-sahabtnya itu. “Tapi nanti pulangnya Mama yang jemput. Kasih tau aja kalian jalan kemana.” Titah sang Mama kepada Andhita. Dengan senang hati Andhita mengiyakan pesan sang Mama.

Setelah seharian penuh berjalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya, Andhita merasa puas. Senyum tak lepas dari wajahnya. Ia kemudian ingat pesan mama untuk menghubunginya saat sudah siap untuk dijemput pulang.

"Ma, aku di mall biasa ya. Sebentar lagi pulang." Ucap Andhita ketika sambungan telepon dijawab oleh Mama.

“Tunggu di situ, Mama segera jemput.” Suara hangat Mama memberikan rasa aman dan nyaman di telinga Andhita.

“Oke, nanti aku tunggu di lobi pintu utama aja ya, Ma.”

“Iya. Tunggu ya.”

Andhita menunggu dengan hati penuh gembira, membayangkan akan menceritakan keseruan hari ini pada Mama di perjalanan pulang.

Namun, menit berlalu hingga tanpa terasa sudah bergulir satu jam. Mama belum juga datang. Berkali-kali Andhita melirik jam di ponselnya, sambil matanya panjang menatap jalan menunggu Mama datang dengan vios kesayangannya. Kalau dari kantor Mama harusnya lima belas menit juga udah sampe. Ini kenapa belum keliatan juga ya? Bisik hati Andhita yang sudah mulai cemas. Hingga akhirnya telepon dari Papa masuk.

“Andhita, kamu di mana sekarang?” suara Papa terdengar berbeda, lebih cepat dan cemas.

“Di mall biasa, Pa. Lagi nunggu Mama jemput ini. Mama tadi bilang sudah mau jemput aku.” Jawab Andhita.

“Pulang sendiri, sekarang!”jawab Papa dengan begitu tegasnya.

“Tapi, Pa.”

“Papa bilang pulang sendiri, sekarang!” Dengan cepat papa memotong ucapan Andhita.

 “Mama… Mama kecelakaan, kondisinya kritis sekarang.” lanjut Papa singkat, seakan berat mengatakan hal itu.

Dunia Andhita terasa runtuh seketika. Kakinya lemas, jantungnya berdegup tak karuan.

“Nyokap gue kecelekaan, Re.” ucap Andhita kepada Rena yang masih setia menemaninya. Rena berusaha menenangkan, namun Andhita tak bisa mendengar apa pun. Dengan tatapan kosong, derai air mata, juga rasa bersalah yang mendadak memeluknya erat, ia hanya terdiam duduk tanpa tau harus berbuat apa.

Sehari pasca kecelakaan itu, Mama meregang nyawa di ruang ICU. Rasa bersalah Andhita semakin menjadi. Murkanya sang Papa tak bisa ia hindari. Sejak hari itu, Andhita disebut sebagai anak pemberi musibah. Bahkan yang menyebutnya seperti itu adalah ayahnya sendiri. Lelaki sebagai cinta pertamanya. Lelaki pertama tempat ia berlindung.

***

Andhita menggenggam potret itu semakin erat, mengingat malam itu—malam yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi malam terakhirnya bersama Mama. Dalam pikirannya, ia selalu membayangkan bahwa jika ia tidak pergi bersama teman-temannya, mungkin Mama masih ada di sini.

Ia ingin meminta maaf pada Papa atas hari itu. Namun setiap kali ia mencoba, hanya dingin yang didapatnya. Andhita tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau meminta pengertian Papa. Hanya kesedihan, rasa bersalah, dan jarak yang semakin lebar yang ada di antara mereka.

Andhita pulang larut malam, membawa kepenatan setelah sidang skripsi yang akhirnya selesai. Seusai sidang skripsi, Andhita tidak segera pulang ke rumah. Ia memilih untuk singgah sebentar ke makam Mama. menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bisa sampai menyelesaikan kuliahnya tanpa mama, juga kehangatan sang papa.

Sesampainya di rumah, ia menemukan Papa duduk di ruang tamu, terlihat termenung dengan tatapan kosong.

“Sidang sudah selesai, Pa,” ucapnya pelan, berharap ada sedikit kehangatan dari Papa.

Papa menatapnya sejenak, kemudian mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak, Andhita tidak lagi bisa menahan perasaannya. Ia pun segera duduk di samping Papa setelah meletakkan beberapa bawaannya di sofa kecil di sampingnya.

“Papa, aku cuma ingin Papa tahu, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah berusaha untuk sampai di titik ini. Aku hanya ingin Papa bangga atas pencapaianku, Pa.”

Papa tak sedikitpun bergeming.

“Tapi kenapa Papa selalu melihat aku sebagai anak yang membawa sial? Kenapa aku selalu disalahkan atas kepergian Mama?” Suaranya mulai bergetar. Tangisnya pun mulai pecah.

Papa masih terdiam, matanya sedikit membelalak, seakan kalimat itu menusuk jauh ke dalam dirinya. Beberapa detik berlalu tanpa ada respons. Andhita merasa lega, sekaligus takut. Andhita menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, hatinya sudah telanjur memanas.

“Papa tahu nggak, selama lima tahun ini aku selalu merasa sendirian. Aku kehilangan Mama, lalu Papa juga pergi.”

“Papa ada, gak pernah pergi. Dan kamu tau itu.” sergah Papa cepat.

 “Papa memang ada di sini, tapi aku merasa seperti anak yatim. Setiap hari aku merasa bersalah karena Mama pergi saat ingin jemput aku, dan aku tahu Papa menyalahkanku! Papa ada di sini, tapi Papa menjauh. Aku merasakan itu, Pa!”

Papa terdiam, ekspresinya masih dingin, tapi ada bayangan rasa sakit di matanya. “Papa… nggak pernah bermaksud begitu, Ta.”

“Kalau nggak, kenapa Papa selalu bersikap seolah aku ini nggak penting? Kenapa semenjak nggak ada Mama perhatian Papa hanya berupa materi, uang, uang dan uang? Aku cuma mau Papa sadar aku masih di sini, Pa. Aku rindu Papa yang dulu. Yang hangat. Yang perhatian. Papa yang… pernah sayang sama aku dengan begitu sempurna.” Tangin Andhita semakin pecah.

Papa menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, tatapannya melunak. Ia meletakkan tangannya di atas lututnya, suaranya rendah dan berat.

“Papa kehilangan arah waktu Mama pergi, Ta. Selama ini… Papa nggak tahu cara menghadapi rasa bersalah dan kehilangan itu. Papa pikir dengan menyalahkan, dengan bersikap dingin, semua rasa itu bakal hilang. Tapi ternyata justru Papa membuat jarak kita semakin jauh.”

 “Papa tahu, setiap malam aku selalu bertanya-tanya, apa aku memang salah? Apa aku yang buat Mama pergi? Apa aku sejahat itu dalam hidup Papa? Dan kenapa Papa nggak pernah kasih aku jawaban?” getar suara Andhita mengucapkan itu.

Papa akhirnya menundukkan kepalanya. “Kamu nggak pernah salah, Ta. Mama pergi karena kecelakaan, itu bukan salahmu. Tapi Papa butuh waktu lama untuk menerimanya. Papa menyesal nggak pernah kasih kamu kesempatan untuk bicara.” Ujar Papa dengan suaranya yang mulai serak.

Andhita semakini terisak, dan tanpa disadari, Papa meraih tangannya. Ini pertama kali sejak bertahun-tahun mereka saling berjarak dan menjauh. Semenjak lima tahun berlalu, mungkin ini sentuhan pertama Papa kepada Andhita, sentuhan dengan penuh perasaan. Hangat, sekaligus menyakitkan.

“Aku rindu Mama, Pa. Aku rindu keluarga kita yang dulu. Aku cuma ingin kita bisa kembali, walaupun mungkin nggak sempurna seperti dulu. Dita rindu Papa yang dulu. Yang selalu ada buat Dita di kondisi apapun. Dita cukup kehilangan Mama, Pa. Dita nggak mau kehilangan Papa. Dita kangen Papa.” Lirih suara Andhita mengutarakan isi hatinya.

Papa mengangguk pelan, matanya basah. “Papa juga rindu, Ta. Dan kalau kamu mau, kita bisa mulai lagi. Mungkin pelan-pelan, tapi Papa janji nggak akan biarkan kamu merasa sendirian lagi.”

“Dita boleh peluk Papa?” tanya Dita sambil menatap wajah Papa dengan matanya yang basah.

Tanpa menjawab, Papa menarik Andhita kedalam pelukannya.

Hangat. Menenangkan. Merasa aman dan nyaman. Itulah yang dirasakan Andhita. Kehangatan, rasa nyaman dan aman yang selama lima tahun ini ia kehilangannya.

“Dita kangen Papa. Jangan menjauh lagi ya, Pa. Dita minta maaf.” Lirih Andhita dalam pelukan Papa.

Dengan lembut Papa mengecup puncak kepala Andhita. Ada getar rindu yang tak bisa dipungkiri oleh Papa. Juga ada rasa bersalah atas sikapnya yang selama ini mengabaikan dan menyalahkan putri semata wayangnya itu.

“Papa yang minta maaf. Kamu nggak salah, Ta. Maaf sudah membuat kamu harus merasa kehilangan Papa juga.”

Andhita tak dapat menjawab apapun. Pelukannya semakin erat. Tangisnya pun semakin pecah. Kali ini, tangis yang berderai dari matanya adalah tangis haru karena kembalinya Papa yang selama ini ia rindukan. Tuhan, tolong panjangkan waktuku dan Papa untuk bisa selalu bersama. Untuk menebus segala kerinduan yang selama ini ku simpan sendirian. Tolong, jangan jemput Papa untuk pulang sebelum aku membahagiakannya.

Kamis, 30 Maret 2023

Dipatahkan Realita

Kamis, Maret 30, 2023 0 Comments

 


Aku tidak pernah jatuh cinta sedalam ini. Menaruh harapan kepada orang yang sama dalam waktu yang cukup panjang. Ya, tiga tahun waktu yang cukup lama untuk menunggu dan menantinya menjadi milikku, bukan? Aku tahu, dia telah menjalin hubungan serius dengan seseorang. Ia bersama teman sekelasnya, sudah menjalin hubungan yang cukup serius. Bahkan kabar terakhir yang ku dengar darinya, mereka akan membawa hubungan itu hingga ke jenjang pernikahan selepas wisuda nanti.

Bagas. Nama lelaki yang selama ini telah membuatku berhasil jatuh cinta sedalam ini. Dia kakak seniorku sejak di bangku SMA hingga di kampus yang sama. Ia memiliki rahang yang tegas, mata yang tajam, alis mata yang cukup tebal, serta tinggi badan sekitar 170 cm, yang akhirnya menjadi daya pikat tersendiri di mataku. Jarak rumah kami yang begitu dekat, hanya berbeda satu blok, membuat hubungan aku denganya pun begitu dekat sejak lama. Kami sering kali menghabiskan waktu untuk sekadar berdiskusi singkat. Atau di saat aku butuh bantuannya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Atau sekadar menghabiskan malam minggu yang panjang dengan ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati semangkuk bakso dan es campur. Namun semua kedekatan kami terjalin sebelum ku tahu ia telah memiliki tambatan hati.

Aku mundur perlahan.

Minggu, 17 April 2022

Allah, Sang Pemberi Rezeki

Minggu, April 17, 2022 0 Comments


‘Telur habis, minyak goreng menipis, gula habis. Hhhfff besok harus belanja lagi kalau begitu.’ Desis bu Ratna setelah mengontrol keadaan dapur asrama.

Keadaan pondok pesantren yatim dhuafa yang dikelola bersama mediang suaminya sedang tidak baik-baik saja. Terutama dalam keadaan pemasukan finansial. Ia harus benar-benar putar otak untuk mengatur keuangan yang pemasukannya tak seberapa. Tak jarang ia mengetuk pintu menjalin silaturrahim kepada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari donatur pesantren, dan meminta sedikit infaknya untuk pesantren. Agar dapur bisa terus ngebul.

“Ya Allah, Ya Rabb… bantu kami. Kirimkanlah rezeki untuk anak-anak santri kami melalui orang-orang baik yang Engkau gerakkan hatinya. Cukupkanlah segala kebutuhan mereka ya, Rabb. Dzat yang Maha Pengasih Maha Penyayang.” Pinta Bu Ratna pada suatu malam seusai tahajudnya. Ia tahu, bahwa hanya ada satu dzat yang tidak pernah mengecewakan dan akan selalu mengabulkan segala permintaannya, Allah. Entah bagaimana cara-Nya, seringkali Bu Ratna merasakan Maha Kuasanya Allah dengan mengirimkan orang-orang baik yang mencukupi kebutuhan makan sehari-hari untuk anak-anak santri di tempatnya.

Keesokan harinya, ia mendapat kabar bahwa akan ada salah seorang kerabatnya yang ingin berkunjung. Tentu hal tersebut disambut dengan sangat baik oleh Bu Ratna. Pukul sembilan pagi, sang kerabat yang ditunggu pun tiba.

“Berdua aja?” tanya Bu Ratna menyapa sang kerabat saat baru tiba.

Kamis, 14 April 2022

Bijak Bermedia Sosial

Kamis, April 14, 2022 0 Comments

“Assalammualaikum…” terdengar suara Ayah yang baru pulang kerja. Dhira yang sedang sibuk dengan tugas sekolahnya segera keluar kamar menyambut kedatangan sang Ayah. Tiga hari tidak bertemu dengan Ayahnya merupakan kerinduan terberat bagi Dhira.

“Walaikumsalam… Ayah….” Sapa Dhira yang langsung menghambur kepelukan Ayah. Ayah yang masih duduk di kursi tamu demi melepas penat sejenak langsung tersenyum bahagia mendapatkan pelukan hangat dari anak perempuan semata wayangnya.

“Ibu mana, Nak?” tanya Ayah setelah melepaskan pelukannya dan mendaratkan kecupan hangat di kening Dhira.

“Lagi ke luar tadi sama abang Faiz.” Jawab Dhira. “Aku kira Ayah akan pulang selepas Isya.” Lanjut Dhira.

“Enggak, Alhamdulillah kerjaan Ayah selesai lebih cepat dari perkiraan.”

“Alhamdulillah, soalnya Dhira kangen banget sama Ayah.” Ucap Dhira sambil menyandarkan kepalanya di lengan Ayah.

“Baru juga tiga hari enggak ketemu Ayah.” Ledek Ayah.

“Tiga hari tuh lama, Ayah!” rajuk Dhira.

“Iya..iya..maaf.” Jawab Ayah sambil mencubit kecil hidung Dhira yang mungil. “Ayah ke kamar dulu ya, istirhat dulu. Nanti kita buka puasa dan terawih di rumah aja, ya..” lanjut Ayah.

“Siap ayah! Dimanapun asal sama Ayah, Dhira ikut!” jawab Dhira sambil berlagak seperti prajurit yang sedang hormat kepada komandannya.

“Tolong kasih tahu Fawwaz dan Farzan, Ayah tunggu buka puasa di rumah.” Perintah Ayah sebelum benar-benar memasuki kamar.

Tanpa menunda, Dhira langsung menghubungi Fawwaz, kakak pertama, dan juga Farzan, kakak kedua yang sedang berada di kampus masing-masing. Setelah itu, Dhira kembali melanjutkan mengerjakan tugas sekolahnya di kamar.

Tidak lama kemudian,

Rabu, 13 April 2022

Tak Ada yang Tertolak

Rabu, April 13, 2022 0 Comments


 

((10/30)) Ditinggalkan oleh seseorang yang paling penting dalam hidup ini adalah hal yang paling menyesakkan. Ditambah ada amanah besar yang harus dijalankan. Sedangkan ilmunya belum banyak diwariskan.

Bingung! Ingin menyerah! Ingin pergi meninggalkan, namun rasnaya sulit. ‘Ah, Abi, aku harus bagaimana?’ pertanyaan itu sering kali terlontar dalam diamku.

Tujuh tahun lalu, Abi kembali ke kampung abadi dengan begitu tenang, dan terlihat bahagia. Terpancar dari wajahnya yang bersih, bercahaya, dan juga tersenyum setelah ruhnya terlepas dari jasad. Ia meninggalkan sebuah pesantren sebagai ladang dakwahnya. Pesantren yang mengutamakan menampung anak-anak yatim dhuafa.

Selasa, 12 April 2022

Bukan Milik Kita

Selasa, April 12, 2022 0 Comments


 9/30

Beberapa hari lalu, aku membaca berita tentang dua orang anak lelaki yang ditinggalkan di pinggir jalan oleh orangtunya. Ada juga tayangan berita yang memberitahukan tentang seorang bayi yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Yang sempat viral adalah tentang seorang ibu yang tega menggorok anaknya dengan dalih ia tak ingin anaknya merasakan sakit karena kejamnya hidup baginya.

Mungkin bagi mereka itu bentuk dari kasih sayang mereka. Mereka tentu berpikir bahwa anak-anak mereka harus tumbuh bahagia dan berkecukupan. Aku yakin mereka tentu juga pedih melakukan itu semua, namun mereka seolah tak memiliki pilihan. Padahal, bagi seorang anak, hidup bersama dengan orangtuanya adalah sebuah kebahagiaan itu sendiri.

Ah, rasanya Miris! Sedih!

Senin, 14 Februari 2022

Coming Back (part 1)

Senin, Februari 14, 2022 1 Comments

 

Oktober, 2016.

Sejak hari itu, aku ingin membuktikan kepadanya, bahwa tanpanya aku akan baik-baik saja. Ya! Setidaknya aku tidak ingin terlihat lemah didepannya. Aku tidak ingin dia melihat air mata menetas dari sudut mataku. Walau hanya setetes! Tidak akan ku biarkan dia melihatnya. Aku tidak ingin dia merasa bahwa lelaki baik di bumi ini hanya dia saja. Masih banyak lelaki baik yang akan datang dan menggantikan posisi mu kelak di hatiku. Itu yang aku katakan dan aku tancapkan dalam hatiku yang basah karna menangisi perpisahan itu. Tentu saja aku katakan itu demi menguatkan hati dan diriku atas keputusannya yang begitu tiba-tiba. Walau nyatanya aku nyaris tak bisa bernapas dan berdiri saat dia katakan perpisahan itu dengan begitu tegas.

Senin, 25 Oktober 2021

Manusia Hanyalah Manusia

Senin, Oktober 25, 2021 0 Comments


 Manusia, hanyalah manusia

Sehebat apapun ia di mata manusia lainnya, tetap saja ia hanyalah manusia biasa, yang tidak sehebat itu, karena ia sama-sama diciptakan oleh Tuhan yang sama.

Semanis apapun ia pada seseorang, tetap saja ia hanyalah manusia biasa, yang tanpa disadari akan berubah menjadi hal terpahit bagi orang lain. Karena waktu dapat merubahnya

Sebaik apapun ia, tetap saja ia hanyalah manusia biasa, yang memang tidak sebaik itu, karena ada masanya dimana waktu membuat ia berubah menjadi sosok yang tidak pernah bisa dikenali lagi

Jumat, 05 Maret 2021

Hai Ayah, Aku Rindu

Jumat, Maret 05, 2021 0 Comments

Hai Ayah, pada malam ku bisikkan rindu. Rindu yang tak pernah kunjung temu. Aku rindu, Ayah. Rindu akan hadirmu di sini. Dengan segala tawa candamu. Cerita dukamu. Keluh perjuanganmu. Peluk hangatmu. Aku rindu, Ayah.

 

Hai Ayah, pada mimpi ku ucap terimakasih. Karena temu itu akhirnya nyata. Nyata yang sesaat. Nyata pada dunia mimpi. Membuat ku tersenyum saat membuka mata. Dan menangis saat ku beranjak. Karena temu pada dunia nyata, tak akan kunjung tiba.

 

Hai Ayah,

Selasa, 01 Desember 2020

Memilih Setia

Selasa, Desember 01, 2020 0 Comments


Pagi ini benar-benar kelabu bagiku. Walau langit begitu cerah dan mentari begitu gagah. Entah, sudah berapa bulir air mata yang jatuh membasahi sajadahku sejak tahajud tadi. Aku begitu sesak. Begitu terluka. Hingga aku tak tau lagi harus bersikap apa selain diam dan menikmati hangatnya setiap tetes air mata yang jatuh membasahi wajah.


"Kamu kenapa, de?" Tanya mas Revan seusai shalat dhuhaku. Dan ini pertanyaan ke sekian yang dilontarkannya sejak subuh tadi.


"Enggak apa-apa. Aku hanya kangen Papa." Selalu begitu jawabku.


Aku mencoba untuk tak berdusta kepadanya. Aku memang merindukan Papa. Lalu hadir sebuah masalah yang kini tanpa sadar membuatku semakin merindukan sosok Papa. Karena bagiku, Papa adalah satu-satunya lelaki terbaik yang aku miliki dan tak akan pernah menyakiti anak perempuan satu-satunya ini.

Sabtu, 03 Oktober 2020

Menanti Senja

Sabtu, Oktober 03, 2020 0 Comments


Dua bulan sudah berlalu, dan Rina masih setia pada tempat dan waktu yang sama selama dua bulan ini.

Lepas waktu asar, hingga maghrib menjelang, ia dengan setia menanti semburat senja hadir sambil menikmati es kelapa muda di tempat langganannya, di pesisir pantai.

Ia seperti mendapati kekuatan dan semangat baru untuk menghadapi hari esok ketika guratan senja menyapanya di penghujung hari. Menatap matahari terbenam dengan perlahan seolah menjadi candu baginya.

Walau pada akhirnya, ketika malam menyapa, ia akan tetap merasakan hal yang sama. Rindu, sakit, juga kehilangan.

Bagaimana tidak? Ketika cinta bersama Senja-nya mulai tumbuh dan semakin berbunga, justru ia harus dihadapi oleh kenyataan untuk selalu menanti Senja yang tak akan pernah kembali dalam pelukannya.


Malam itu ....

Selasa, 29 September 2020

Perjodohan Terindah (Bagian 3)

Selasa, September 29, 2020 0 Comments

 


“Sama siapa?” desakku. Tiba-tiba ia menatapku begitu dalam dengan wajah yang sangat serius.

“Sama seorang perempuan.” Jawabnya mengerjaiku.

“Ya Tuhan, Jay! Gue juga tau lah sama perempuan! Kalau sama laki-laki artinya lu ‘sakit.’ Gue serius nih Jay.” Kata ku dengan ajntung yang berdegup lebih cepat karena melihat tatapan Jay tadi.

“Udah ah, balik yuk ke kelas.” Ajaknya sambil melangkah lebih dulu.

Aku mendengus kesal dengan sikap Jay yang seperti ini. Sumpah demi apapun, aku ingin sekali mengetahui seseorang yang istimewa di hati Jay saat ini. Aku mencoba menjaga jarak langkahku dengannya. Ia yang sudah berada beberapa langkah di depanku menghentikan langkahnya, dan kembali ke sampingku.

“Cepetan dong jalannya, Kei! Lama banget lu kaya siput!” katanya sambil merangkulku. Ia memang sudah sering seperti itu denganku. Mungkin baginya itu hal yang biasa, namun belakangan bagiku hal itu menjadi tak biasa.

Bukan karena perlakuannya atau sikapnya, tapi aku menjadi tak seperti biasa karena perasaanku sendiri. Perasaan tidak biasa yang perlahan timbul akibat keakraban kami setiap hari. Perasaan yang sulit sekali aku kontrol akhir-akhir ini. Perasaan yang berharap ia lebih dari seorang sahabat sekaligus rival dalam memperebutkan posisi peringkat pertama di kelas.

Sabtu, 26 September 2020

Perjodohan Terindah (bagian 2)

Sabtu, September 26, 2020 1 Comments

 


 

__Bagian 1__ 

“Tujuh tahun yang lalu??” Tanya Ayah, Ibu, dan juga kedua orangtuanya secara berbarengan.

Ya, tujuh tahun yang lalu, aku bertemu dan mengenal dia saat kami masih berseragam abu-abu. Ia teman sekelas ku sejak kelas satu semester dua. Sejak aku pindah ke sekolah Pelita Nusantara dari sekolah favoritku di Bandung.

Setelah nyaris sepuluh tahun kami di Bandung, Ayah harus kembali lagi ke Jakarta dan fokus mengurus bisnisnya di Jakarta. Oleh sebab itu aku mau tidak mau harus rela meninggalkan kota kembang menuju ibu kota.

Di Pelita Nusantara itulah aku mengenal Jay, begitu aku memanggilnya atas permintaan ia saat kami pertama kali berkenalan. Jay satu-satunya teman lelaki yang akrab dengan ku. Aku sendiri pun heran dengan diriku sendiri yang bisa begitu dekat dan akrab dengan Jay hanya dalam waktu kurang dari dua bulan keberadaanku di Pelita Nusantara.

Bagiku Jay sosok yang begitu hangat kepada siapapun. Ia termasuk seorang lelaki yang begitu supel kepada siapa saja. Aku nyaris tak pernah melihat ia memiliki musuh, atau sekedar mendengar omongan miring tentang dirinya. Bukan saja hangat, ramah, dan supel. Ia juga sosok yang cerdas, secara fisik bisa diaktakan dia tampan, tinggi, belum lagi ia adalah kapten basket di sekolah. Tak heran jika cewek-cewek di sekolah saat itu banyak yang mencari perhatiannya dan berusaha mendekatinya. Herannya, dari sekian banyak teman wanita di sekolah, tidak ada satu pun di antara mereka yang menarik perhatiannya Jay.

Aku seolah kembali ke masa itu. Masa di saat kami masih bisa bersama-sama. Saling bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal di sekolah. Jay dan aku seperti dua orang yang selalu ditakdirkan untuk berada di kelas yang sama sejak pertama kali aku datang di Pelita Nusantara hingga hari perpisahan sekolah kami tiba.

Jumat, 25 September 2020

Perjodohan Terindah (bagian 1)

Jumat, September 25, 2020 0 Comments

 


Aku nyaris tak percaya dengan apa yang berada di hadapanku saat ini. Biodata seorang laki-laki dalam sebuah map, yang kini di tangan membuat aku tak bisa berkedip beberapa saat. Ia adalah lelaki yang ingin Ayah kenalkan kepadaku.

“Dia anak dari sahabat Ayah yang udah lama ingin sekali Ayah kenalkan sama kamu. Ayah dan sahabat ayah berharap kalian bisa berjodoh suatu hari nanti, dan kami ingin kalian bisa saling berkenalan saja dulu.” Terang Ayah saat aku membaca biodata di hadapanku.

“Bagaimana, Key? Kamu mau?” tanya Ayah membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk memberi jawaban kepada Ayah.

“Kamu tidak keberatan kan, Nak?” tanya ibu sekedar meyakinkan.

“Tidak Ibu. Tidak sama sekali.” Jawabku untuk meyakinkan Ayah dan Ibu. Terlihat senyum lega dan bahgaia di wajah mereka yang mulai nampak keriput halus. Tanda mereka sudah mulai menua.

“Ibu dan Ayah tidak akan memaksa menjodohkan kamu dengan dia. Kami hanya berusaha untuk memperkenalkan kamu dengan dia dulu. Ya, syukur-syukur memang kamu setuju dengan perjodohan ini dan cocok dengan dia. Kalaupun tidak, ya sudah, tidak masalah.” Kata Ayah. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ayah. Jikalau saja Ayah tahu yang sebenarnya. Ah, biarlah waktu yang akan memberitahu Ayah yang sebenarnya, bisikku dalam hati.

Sabtu, 11 April 2020

Sebuah Jawaban (Part 2)

Sabtu, April 11, 2020 2 Comments

Senja mulai menurunkan tirainya, dan aku masih menikmati waktu dengan memandang potret Kenan. Beginilah caraku menikmati waktu tiap akhir pekan. Berdiam diri di kamar, merehatkan pikiran dan badan yang sudah lelah memikirkan kerjaan di butik, sambil memandangi potret Kenan. Lelaki yang tak pernah mampu aku biarkan untuk pergi dari hati dan pikiran.

Tiba-tiba saja ponselku berdering. Nomor tanpa nama tertera di layar ponselku. Aku pun menjawab panggilan itu dengan sedikit keraguan.

“Halo Ta, apa kabar?” Sapa orang di sebarang telepon.

Aku tak percaya dengan suara yang baru saja aku dengar! Aku merasa seperti sedang berhalusinasi bahwa potret yang berada di genggamanku itu bersuara.

“Halo, Ta.” Suara di sebrang telepon memanggilku lagi. Dadaku seketika berdetak lebih cepat dari normalnya. Ada rasa bahagia tak terkira. Setelah dua tahun benar-benar tidak ada komunikasi, tidak lagi mendengar suaranya, dan kini suara itu kembali menyapa. Aku nyaris ingin menjerit bahagia karenanya.

“Hai, Kenan. Aku baik. Kamu?” jawabkku dengan sebisa mungkin menyembunyikan getar suaraku.

“Aku baik. Bisa keluar rumah sebentar?” tanya Kenan. Aku langsung mengintip dari jendela kamarku yang berada di lantai atas, dan melihat ia sedang berdiri di depan rumahku.

“Bisa, tunggu sebentar.” Jawabku yang langsung memutuskan sambungan telepon, dan mengganti baju secepat kilat. Lalu berlari menuruni anak tangga.

Sebuah Jawaban (Part 1)

Sabtu, April 11, 2020 0 Comments

“Ta, besok aku tetap harus pergi. Papa minta aku menggantikannya sementara waktu mengurus usahanya yang di Singapur.” Kata dia sore itu, di tempat makan favorit kami, sepulang aku kuliah. Dia menjemputku sore itu sepulang kerja. Aku dan dia terpaut usia empat tahun. Dia sudah sibuk dengan dunia kerjanya, sedang aku, sedang sibuk memikirkan proposal skripsi.

Aku hanya diam mendengar keputusannya. Aku bisa apa? Aku tak ingin menjadi wanita egois, aku tidak ingin merusak hubungan harmonis antara anak dan ayahnya. Maka lebih baik aku mengalah, bukan?

“Ta, kenapa diam? Ngomong lah, Ta. Jangan diam aja.” Pintanya sambil menatapku.

“Pergilah kalau memang kamu harus pergi, jaga dirimu baik-baik selama di sana.” Jawabku sambil mengalihkan pandangan darinya.

“Apa kita enggak bisa coba untuk …”

“Gak perlu. Kamu tau prinsip aku, kan? Aku enggak mau ganggu kamu. Aku mau kamu fokus dengan urusan kamu di sana.”Ucapku memotong kalimatnya. Aku tahu apa yang akan dia minta. Dia pun hanya terdiam mendengar keputusanku.

Sore itu, tempat dan makanan favoritku seolah berubah rasa. Tempat itu menjadi tempat menyimpan cerita bahagiaku dengannya, juga saksi atas perpisahan kami. Makanan kesukaanku pun terasa begitu hambar. Aku benar-benar tidak bias menikmati momen kebersamaan dengannya sore itu. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.

“Aku mau pulang.” Pinta ku tak lama kemudian.

Rabu, 01 April 2020

Cinta Dalam Netra

Rabu, April 01, 2020 1 Comments

 

 

Sudah dua tahun perpisahan itu terjadi. Tapi bagi Aksa kejadian itu seperti baru kemarin. Semua masih terlihat begitu jelas dan nyata. Tatapan mata, raut wajah, serta rasa kecewa dari gadis itu masih bisa ia lihat dengan jelas. Seandainya saja kesalahan itu tidak pernah terjadi, pasti dia masih bersama gue di sini. Bisik hati Aksa begitu lirih sambil menatap langit-langit kamarnya.

Fany, gadis cantik nan mungil serta pintar. Dialah yang tidak pernah bisa menghilang dari pikirannya, ataukah memang Aksa yang tidak berani menghilangkannya? Entahlah, yang pasti Aksa masih merasa begitu kehilangan sejak perpisahan itu. 

Perempuan yang ia kira tidak akan pernah membawa pengaruh besar dalam hidupnya itu ternyata telah menyihirnya tanpa sadar. Perempuan yang ia pikir sama dengan perempuan-perempuan lainnya, ternyata berbeda. Aksa pun baru menyadarinya sejak malam itu, malam perpisahan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

 

Jumat, 27 Maret 2020

Bayang Masa Lalu

Jumat, Maret 27, 2020 1 Comments
Raka belum bisa tertidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia mengambil gawainya yang tersimpan di atas nakas samping tempat tidur. Melihat tanggal yang tertera di layar utama. 19 Februari. Tanggal ulangtahunnya. Bisik hati Raka. Ingin ia mengetik sebuah pesan yang akan dikirim kepada si dia yang sedang berulang tahun. Namun tiba-tiba wanita yang sudah dinikahi selama tiga tahun ini, yang sedang tertidur di sampingnya terbangun dan melihat Raka sedang menatap layar gawainya.
"Belum tidur, Mas?" Tanya sang istri di sela rasa kantuknya.
"Belum, gak bisa tidur. Gak tau kenapa." Jawab Raka sambil meletakkan kembali gawainya, lalu kembali merebahkan badan di samping sang istri.
"Aku tau caranya biar kamu bisa tidur." Kata sang istri yang langsung memijat kepala Raka.
Andai kamu yang melakukan ini buat aku. Sempurna pasti kebahagiaan aku. Ucap Raka dalam hati sambil membayangkan seseorang yang sedang berulang tahun hari itu.

Subuh menjelang. Raka sudah bangun lebih dulu sebelum istrinya terbangun. Ia tak benar-benar bisa tidur semalaman. Hati dan pikirannya melayang kepada satu sosok yang tidak pernah sanggup ia lupakan. Satu sosok yang pernah singgah sebagai cinta pertamanya dan tak akan pernah pergi.
"Kamu sudah rapih, Mas? Mau berangkat ke kantor?"
Tanya sang istri yang baru saja terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi. 
"Iya, aku harus menyiapkan materi untuk meeting hari ini." Jawab Raka sambil merapihkan dasinya.
"Aku buatkan sarapan dulu ya, sebentar." Kata sang istri sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Enggak perlu, aku udah bikin roti bakar tadi. Sudah aku siapkan juga untuk dibawa ke kantor. Kamu masuk pagi hari ini?" 
Sang istri berbalik badan dan kembali duduk di pinggir ranjang. Ada sedikit rasa bersalah menyelinap dalam hatinya. Harusnya aku bisa bangun lebih pagi. Biar mas Raka tidak menyiapkan segalanya sendiri. Bisik hati istri Raka.
"Iya, aku masuk pagi. Tapi nanti jam setengah delapan aku baru berangkat kayanya." Jawab sang Istri yang berprofesi sebagai perawat.
"Ya sudah. Aku pamit ya. Kamu nanti hati-hati berangkatnya. Aku juga sudah buatkan kamu roti bakar untuk sarapan. Jangan lupa dimakan." Kata Raka yang disusul kecupan hangat di kening sang istri. Rutinitas wajib sebelum mereka berpisah untuk menjalankan tugas masing-masing

Minggu, 15 Maret 2020

Hingga Akhir Waktu (part 2)

Minggu, Maret 15, 2020 2 Comments

“Kakak jawab dulu pertanyaan Rei, ada apa Kak Radit ke sini?”

“Cuma mau memastikan enggak ada sesuatu yang buruk terjadi sama kamu.” Jawab Radit yang tanpa ia sadari, sedari tadi tangannya terus menggenggam tangan Reina. Seperti seseorang yang takut kehilangan.

“Selain itu?” pancing Reina.

"Enggak ada, cuma itu." jawab Radit yang langsung melepaskan genggaman tangannya.

"Bohong. Ada apa, Ka sebenarnya?" desak Reina. 

Radit pun langsung terlihat salah tingkah.

“Hm... I wanna Say, I love you, Rei.” Jawab Radit sedikit taku sambil menatap mata Reina. Reina langsung  mengalihkan pandangnnya. Ia tidak ingin melihat dan meyakini dirinya lagi bahwa Radit benar-benar serius. Tatapannya sudah meyakinkan dirinya bahwa Radit sungguh serius mengatakan itu.

“Jangan bercanda, Kak!” kata Reina yang masih saja mengalihkan pandangannya. Raditpun segera memegang wajah Reina dengan kedua telapak tangannya, dan menatap mata Reina dalam–dalam.

“Look at me! Apa Kakak terlihat sedang berbohong?” tanya Radit.

Sabtu, 14 Maret 2020

Rindu Tak Berujung (Part 3)

Sabtu, Maret 14, 2020 0 Comments
Kejadian itu kembali menari di kepalaku. Padahal ini sudah tahun ke tiga aku tak pernah lagi bertemu tatap wajah dengannya. Ada desiran rindu yang begitu menggebu dalam hati. Tapi aku bisa apa? Hadirku hanya akan merusak kebahagiannya. Dia sudah terlihat sangat bahagia. Setidaknya itu yang tertangkap olehku saat aku menatapnya dari kejauhan, atau sekedar memantau akun media sosialnya. 

Dia sepertinya sudah menemukan lelaki lain yang membuatnya jauh lebih bahagia. Saat dulu pergi, ia tak akan pernah tahu bahwa langkah kepergiannya membawa hati yang telah ku serahkan begitu utuh hanya untuknya. Aku ingin ia kembali bersama hati yang telah aku berikan. Aku ingin melangkah jauh serius dengannya. Walau aku pikir itu tidak mungkin.