Kamis, 22 Januari 2026

Lelah yang Menyadarkan

Kamis, Januari 22, 2026 0 Comments

 


Aku sedang lelah pada diriku sendiri.

Lelah karena berkali-kali kalah bukan oleh siapapun. Tapi oleh ego yang ingin dimenangkan.
Kalah oleh nafsu yang ingin dibenarkan.
Dan kalah oleh perasaan yang sering kali lebih lantang daripada logika.

Aku tahu sejak awal. bahwa ia datang bukan untuk tinggal.
Aku tahu ia hanya singgah atas nama penasaran.
Aku tahu kehadiranku mungkin tak lebih dari mampir di rasa ingin tahunya.
Tapi pengetahuanku kalah oleh sisi rapuhku sendiri—
yang ingin diyakinkan, ingin dianggap berarti, ingin dipilih, ingin diperhatikan lebih, ingin dianggap istimewa walau hanya sebentar.

Namun kali ini semesta memilih cara yang paling sunyi untuk menyadarkanku
Bukan oleh bentakan, bukan dengan tamparan bukan pula oleh kehilangan besar.
Hanya lewat cerita sederhana yang datang tanpa diminta. Cerita yang tak bermaksud sedikitpun menyakitiku, namun membangunkanku untuk semakin sadar bahwa ternyata selama ini dugaanku benar. Dugaanku tidak pernah salah. Hatiku tidak keliru dalam menerka, karena yang keliru hanyalah aku, karena memilih mengabaikannya..

Dan suara yang dulu sempat kuabaikan, ternyata juga benar.

Di titik ini aku merasa kalah.
Lelah.
Payah.
Dan marah pada diriku sendiri—
karena tahu kebenaran, tapi tetap berjalan ke arah yang menyakitkan.

Namun di tengah kekacauan itu, aku melihat sesuatu yang tak bisa kupungkiri:
Tuhan masih sangat baik padaku.

Dia tidak membiarkanku jatuh terlalu jauh.
Dia tidak membiarkanku terus tersesat dalam pembenaran. Dia menurunkan kesadaran sebelum aku benar-benar kehilangan arah. Dia mengingatkanku bahwa tidak semua perhatian adalah cinta, dan tidak semua yang membuat berdebar layak diperjuangkan.

Meski di saat yang bersamaan aku masih menyimpan banyak pertanyaan.
Tentang kejujuran.
Tentang luka kecil yang kupilih diamkan.
Tentang rasa percaya yang sempat goyah.

Tapi hari ini aku memilih untuk berhenti berisik.
Berhenti memeluk rasa yang hanya membuatku semakin lelah.
Berhenti mencari pembenaran atas sesuatu yang sejak awal sudah salah.

Aku memilih diam, bukan karena tak sakit, tapi karena aku tak ingin kehilangan diriku sendiri hanya untuk membuktikan apapun.

Aku ingin belajar berhenti mencari validasi dari rasa yang sementara. Aku ingin belajar menundukkan ego yang ingin menang sendiri. Belajar melepaskan rasa penasaran yang menipu. 

Dan belajar memaafkan diriku sendiri—
bukan karena aku tidak bersalah,
tapi karena aku ingin pulang dengan hati yang lebih utuh.

Perlahan... aku belajar pulang. Pulang ke batas. Pulang ke sadar. Pulang ke diriku yang ingin tenang, bukan menang.

Aku memang telah kalah
Tapi aku tidak hilang.
Dan mungkin, di titik paling payah ini,
aku sedang benar-benar belajar untuk kembali.

Dan jika sampai saat ini rasanya masih sakit, atas kebodohanku sendiri. Biarlah! Setidaknya kali ini aku tahu kemana arah pulangku.

Senin, 19 Januari 2026

Zona Kalut

Senin, Januari 19, 2026 0 Comments

Jika ada satu hari istimewa yang memberiku kesempatan menentukan pilihan—mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin—mungkin aku akan memilih untuk menghilang sejenak dari kehidupanku hari ini.

Menghilang dari radar.
Menjauh dari manusia-manusia yang tahu persis siapa aku.
Melangkah di antara wajah-wajah asing yang tak mengenalku, agar aku bisa bernapas tanpa harus menjelaskan apa pun.

Jika ada satu hari istimewa yang memberiku kuasa untuk meralat masa lalu, aku ingin mengubah keadaan saat aku bertemu dan mengenal mereka yang tanpa kusadari membawaku berjalan terlalu jauh keluar dari koridor yang seharusnya.
Aku ingin memilih untuk tidak membiarkan apa pun menjadikanku jatuh, hancur, dan kehilangan arah.

Namun hidup tidak pernah bekerja sesuai dengan mimpi-mimpiku.
Keindahannya bukan tentang mengulang waktu atau merapikan kesalahan menjadi versi yang seharusnya terjadi di kepalaku.
Karena untuk semua itu, aku tak pernah benar-benar punya kuasa.
Tapi justru keindahan tentang perjalanan ini adalah bagaimana aku bisa terus melangkah menghadapi setiap kekalutan yang ada.

Dan untuk kali ini, yang aku tahu hanya satu:

Aku lelah.
Dan sialnya, aku tak bisa berhenti kapan pun aku mau.

Mungkin aku tidak sedang ingin pergi ke mana pun.
Aku hanya ingin berhenti sebentar
agar tidak terus melukai diriku sendiri
atas nama bertahan.

Karena bertahan tanpa arah
tak ubahnya mengurung diri
di penjara yang kubangun
dengan tanganku sendiri.

Selasa, 13 Januari 2026

Hari Perenungan

Selasa, Januari 13, 2026 0 Comments


Selamat datang di tanggal sejarahmu.
Tanggal di mana suaramu pertama kali menggema menyapa dunia.
Tanggal di mana udara dunia pertama kali kau hirup, dan doa-doa dipanjatkan oleh mereka yang menantimu dengan cinta.

Tanggal di mana air mata dan senyum bahagia berbaur menjadi satu kesatuan yang hangat.
Tanggal di mana tangismu menjadi salam pertamamu pada dunia, dengan tatapan mata yang masih begitu suci.

Selamat menjejaki usia baru di tanggal yang sama.

Jika di tahun-tahun yang telah berlalu tanggal ini selalu kau sambut dengan kebahagiaan yang utuh, atau justru dengan harapan yang melangit dan berujung kecewa, biarkan hari ini menjadi hari perenunganmu yang paling menenangkan.

Bukan masalah jika hari ini kamu hanya mampu menitikkan air mata saat mengingat momen-momen indah yang tak bisa terulang.
Bukan masalah jika kamu hanya mampu tersenyum getir saat menyadari betapa sesungguhnya kamu butuh dipeluk dengan tulus dan hangat.

Bukan masalah pula ketika kamu berdiri di depan cermin, tersenyum bangga pada bayanganmu sendiri, lalu berbisik pelan,
“Kamu hebat. Sudah bertahan sejauh ini.”

Hari ini, biarkan menjadi hari perenungan terpanjang atas segala kejadian yang telah kamu lalui.
Biarkan memorimu berbicara—tentang ribuan cerita yang tergores, tawa yang menggema, dan tangis yang kau sembunyikan rapat-rapat.

Tentang betapa sering kamu jatuh, terpuruk, lalu tetap memilih bangkit dan memperbaiki langkahmu.

Biarkan kenangan menari dalam benakmu.
Bukan untuk menyakitimu, melainkan sekadar menyapa dan mengingatkan bahwa setiap langkah yang kau jalani tak pernah mudah.

Biarkan kenangan itu memperlihatkan betapa luasnya sabar yang telah kau bentangkan, hingga perlahan kau petik hasilnya.
Biarkan ia memelukmu sebentar—menguatkan pijakanmu agar kelak kamu tak lagi lari saat badai datang.

Tak apa hari ini tanpa perayaan megah.
Karena hakikat pertemuanmu dengan tanggal sejarahmu bukan untuk dirayakan, melainkan direnungkan.

Tentang apa yang masih perlu kamu bawa untuk langkah berikutnya,
dan apa yang harus kamu relakan pergi—meski hati terasa berat.

Sekali lagi, selamat menikmati hari istimewamu.
Selamat mengenang sejarah hidup yang telah kamu lalui selama ribuan minggu.

Sabtu, 10 Januari 2026

Senja yang Sama

Sabtu, Januari 10, 2026 0 Comments

 

Tiga tahun yang lalu. Di atap salah satu gedung pencakar langit, kami menikmati indahnya guratan langit senja di ibu kota. "Aku ingin kamu tau, bahwa aku hanya butuh kamu untuk melengkapi hidupku." Kalimat itu mengalir dari lisannya begitu halus, seperti desir angin yang dengan lembut membelai wajah. Setelah obrolan panjang tentang banyak hal, aku heran, kenapa harus kalimat itu yang seolah menjadi penutupnya? 

Aku terdiam, sambil mencari tanda-tanda kepalsuan dari tatap matanya yang begitu dalam. Tapi aku tak menemukan itu. 

"Will you marry me?" Pertanyaan itu terdengar lembut dan penuh pengharapan. Pertanyaan itu, seolah ingin membunuh keraguan yang mungkin bisa ia tangkap dari senyum atau bahkan dari tatap mataku. 

"Kamu gak perlu menjawabnya sekarang kalau kamu butuh waktu untuk .... "

"Ya, aku mau." Ucapku memotong kalimatnya. 

Kali ini, dia yang menatapku dengan ragu. 

"Ya. Aku mau menjadi pendamping hidupmu, seumur hidup." Tegasku memangkas keraguannya. 

Kami saling bertukar senyum, senyum bahagia yang disaksikan oleh langit senja ibu kota. Sejak hari itu, kami seringkali merancang cerita tentang masa depan. Menjalani hari-hari dengan banyak belajar saling memahami. 

Namun kini, aku kembali berdiri di tempat yang sama.  Menikmati semburat jingga yang begitu indah. Sambil membaca ulang undangan pernikahan digital yang dikirimkan salah satu teman kantorku beberapa minggu yang lalu. 

Ada nama serta foto dia yang tertera begitu jelas. Bersanding dengan wanita yang konon adalah pilihan orangtuanya. Jangan tanya bagaimana sakitnya aku melihat kenyataan ini. Tiga tahun kami berjalan merangkai impian bersama, dan tiba-tiba kami dipaksa berpisah sebelum benar-benar saling memikili. 

Kini, setelah berjeda empat bulan semenjak perpisahan itu, aku berdiri di tempat yang sama sambil mencoba tersenyum melihat potret cincin kawin di jari kanan yang ia unggah di laman media sosialnya, meski ada sayatan luka yang tak berdarah, tak terlihat, tak bersuara, namun sangat menyakitkan.

Dan kesakitan ini membuatku belajar, bahwa sebaik apapun rencana manusia pada akhirnya kita hanya akan dihadapkan pada dua pilihan ; belajar bersyukur ketika rencana itu sejalan dengan takdir atau belajar ikhlas dan sabar saat realita tak bersahabat dengan segala rencana.

Jumat, 09 Januari 2026

Tenang yang Kupelajari

Jumat, Januari 09, 2026 0 Comments


Berdamai seperti apa yang harus ku cipta?
Tenang seperti apa yang harus ku hadapi?
Percaya yang bagaimana yang harus ku pelihara?

Jika melihat namanya saja mendatangkan memori yang membuat dadaku bergetar.
Jika mendengar namanya saja menghidupkan peperangan dalam batin dan logika—antara percaya, dan tenggelam di cerita lama.

Entah…
Aku yang terlalu lugu, atau aku hanya terlalu lelah berkompromi tentang banyak hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

Kali ini, aku sedang melatih hatiku untuk tidak berisik.
Tidak mendorong pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja jawabannya akan melukaiku sendiri
Tidak menuntut kejujuran yang bisa jadi hanya akan dibungkus dengan diam.

Aku memilih tenang.
Bukan karena aku tak tahu.
Bukan karena aku tak merasa apa-apa.
Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk bertengkar dengan pikiran perasaanku sendiri.

Aku sadar, bahwa tenang ini bukan kemenangan.
Ia hanya cara paling sunyi agar aku tidak terlihat hancur di depan siapapun yang melihat aku baik-baik saja.

Aku diam bukan karena aku tidak tahu. Aku diam karena aku tahu terlalu banyak, dan kebenaran itu—jika diucapkan—hanya akan mengajarkanku kehilangan dengan cara yang lebih kejam.

Maka aku memilih tenang
Membiarkan hatiku berdarah tanpa suara. Menyembuhkan luka tanpa saksi.

Mungkin di balik semua diam yang kupelajari, aku sedang belajar sesuatu yang lebih sulit dari marah dan kecewa: belajar menerima tanpa penjelasan, belajar melepaskan tanpa suara, belajar ikhlas— meski hatiku belum sepenuhnya siap.

Dan di antara semua ketenangan dalam diam yang kupelajari hari ini, aku perlahan mengerti satu hal: ikhlas bukan tentang menghapus rasa, melainkan tentang menerima bahwa tidak semua kebenaran perlu diperjuangkan dengan suara.


Untuk hari ini, aku memilih tidak bertanya, tidak menuntut, tidak mengorek kebenaran yang mungkin hanya akan menambah perih. Aku memilih menjaga diriku sendiri. Karena aku sedang belajar -meski perlahan- tentang tenang dan mengikhlaskan tanpa harus benar-benar lupa.

Kamis, 20 November 2025

Pelukan yang Tertunda

Kamis, November 20, 2025 0 Comments

 


“Pa, minggu depan aku sidang skripsi.” Ucap Andhita di sela makan malamnya bersama Papa.

“Hmm. Terus kenapa?” jawab Papa. Masih dengan aura dingin, dan tak peduli seperti biasanya.

Andhita menarik senyum pahit yang ia coba sembunyikan dari tatapan sang ayah. Seperti biasa, Ta! Lu ada tapi seolah tak terlihat! Ngapain juga kasih laporan, apalagi berlagak minta didoakan. Lucu! Gumam Andhita dalam hati.

“Terus kenapa kalau kamu mau sidang? Semuanya udah dibayarkan, kan? Apa lagi?” tanya Papa tanpa keramahan sedikitpun.

“Gak, Pa. Cuma mau kasih tau dan minta doa dari Papa aja.” jawab Andhita sambil menahan perih dalam hatinya.

“Oh.” Jawab Papa dengan sangat singkat yang langsung bangkit dari kursinya dan meninggalkan Andhita di ruang makan sendirian.

Ini bukanlah kejadian pertama yang Andhita dapatkan dari Papanya. Mestinya enggak harus sesakit ini, Ta. Bukannya udah biasa dengan perlakuan seperti itu? Andhita bertanya kepada dirinya sendiri.

Ya! Sikap dingin, tak peduli, dianggap tak ada, bahkan seringkali disebut sebagai anak pembawa sial, sudah sering kali Andhita dapatkan semenjak lima tahun lalu sang mama pergi untuk selamanya.

Andhita menyeka air mata yang sudah siap terjun bebas dari ujung matanya. Sebisa mungkin ia menahan rintik air matanya sambil membereskan piring kotor dan meja makan agar terlihat rapih kembali.

Selesai membereskan piring-piring dan dapur serta ruang makan, Andhita kembali ke kamarnya. Ia segera merebahkan badannya di atas tempat tdirunya yang hanya berukuran 60x120cm. Ia merasa sangat lelah. Bukan karena pekerjaan rumah apalagi persiapan sidang skripsinya. Karena yang membuatnya merasa sangat lelah adalah sikap papanya sendiri. Bertahun-tahun lamanya Andhita berada di keadaan yang sama sekali membuat ia tak nyaman. Bertahun-tahun pula ia terjebak dalam keadaan merindukan kedua orangtuanya.

Andhita membalikkan badan, menatap potret mama dan papanya yang ia pajang di atas nakas samping tempat tidur. Ia pun merubah posisinya. Ia duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap potret mama dan papa yang kini sudah berada dalam genggamannya.

“Aku berdosa banget ya, Ma? Udah membuat Mama harus meninggalkan Papa secepat ini?” lirih Andhita sambil menatap potret sang Mama yang tersenyum begitu manisnya.

“Ma, semenjak Mama pergi, aku bukan cuma kehilangan Mama. Aku juga kehilangan Papa. Papa ada secara fisik di sini, aku yang menemani Papa setiap hari semenjak Mama pergi. Tapi nyawa dan hati Papa gak ada lagi buat aku, Ma. Aku rindu Papa yang dulu. Aku rindu Papa yang hangat dan perhatian sama aku, Ma. Dosa ku besar banget ya, Ma? Sampe Tuhan harus menghukumku seperti ini?” lanjut Andhita sambil menatap potret Mama dan Papa nya bergantian. Ia biarkan wajahnya basah oleh air mata. Ia membiarkan bulir air mata itu membicarakan kerinduan yang menyesakkan dadanya selama ini.

***

Lima tahun lalu.

Andhita baru saja melewati hari terakhir ujian sekolahnya. Sebagai tanda syukurnya, Andhita meminta ijin kepada Mama untuk pergi jalan-jalan dengan sahabat-sahabatnya sepulang sekolah sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan karena mereka sudah melewati hari-hari ujian sekolah yang cukup menjadi beban untuk mereka.

Dengan segala pertimbangan, Mama mengijinkan Andhita pergi bersama sahabat-sahabtnya itu. “Tapi nanti pulangnya Mama yang jemput. Kasih tau aja kalian jalan kemana.” Titah sang Mama kepada Andhita. Dengan senang hati Andhita mengiyakan pesan sang Mama.

Setelah seharian penuh berjalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya, Andhita merasa puas. Senyum tak lepas dari wajahnya. Ia kemudian ingat pesan mama untuk menghubunginya saat sudah siap untuk dijemput pulang.

"Ma, aku di mall biasa ya. Sebentar lagi pulang." Ucap Andhita ketika sambungan telepon dijawab oleh Mama.

“Tunggu di situ, Mama segera jemput.” Suara hangat Mama memberikan rasa aman dan nyaman di telinga Andhita.

“Oke, nanti aku tunggu di lobi pintu utama aja ya, Ma.”

“Iya. Tunggu ya.”

Andhita menunggu dengan hati penuh gembira, membayangkan akan menceritakan keseruan hari ini pada Mama di perjalanan pulang.

Namun, menit berlalu hingga tanpa terasa sudah bergulir satu jam. Mama belum juga datang. Berkali-kali Andhita melirik jam di ponselnya, sambil matanya panjang menatap jalan menunggu Mama datang dengan vios kesayangannya. Kalau dari kantor Mama harusnya lima belas menit juga udah sampe. Ini kenapa belum keliatan juga ya? Bisik hati Andhita yang sudah mulai cemas. Hingga akhirnya telepon dari Papa masuk.

“Andhita, kamu di mana sekarang?” suara Papa terdengar berbeda, lebih cepat dan cemas.

“Di mall biasa, Pa. Lagi nunggu Mama jemput ini. Mama tadi bilang sudah mau jemput aku.” Jawab Andhita.

“Pulang sendiri, sekarang!”jawab Papa dengan begitu tegasnya.

“Tapi, Pa.”

“Papa bilang pulang sendiri, sekarang!” Dengan cepat papa memotong ucapan Andhita.

 “Mama… Mama kecelakaan, kondisinya kritis sekarang.” lanjut Papa singkat, seakan berat mengatakan hal itu.

Dunia Andhita terasa runtuh seketika. Kakinya lemas, jantungnya berdegup tak karuan.

“Nyokap gue kecelekaan, Re.” ucap Andhita kepada Rena yang masih setia menemaninya. Rena berusaha menenangkan, namun Andhita tak bisa mendengar apa pun. Dengan tatapan kosong, derai air mata, juga rasa bersalah yang mendadak memeluknya erat, ia hanya terdiam duduk tanpa tau harus berbuat apa.

Sehari pasca kecelakaan itu, Mama meregang nyawa di ruang ICU. Rasa bersalah Andhita semakin menjadi. Murkanya sang Papa tak bisa ia hindari. Sejak hari itu, Andhita disebut sebagai anak pemberi musibah. Bahkan yang menyebutnya seperti itu adalah ayahnya sendiri. Lelaki sebagai cinta pertamanya. Lelaki pertama tempat ia berlindung.

***

Andhita menggenggam potret itu semakin erat, mengingat malam itu—malam yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi malam terakhirnya bersama Mama. Dalam pikirannya, ia selalu membayangkan bahwa jika ia tidak pergi bersama teman-temannya, mungkin Mama masih ada di sini.

Ia ingin meminta maaf pada Papa atas hari itu. Namun setiap kali ia mencoba, hanya dingin yang didapatnya. Andhita tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau meminta pengertian Papa. Hanya kesedihan, rasa bersalah, dan jarak yang semakin lebar yang ada di antara mereka.

Andhita pulang larut malam, membawa kepenatan setelah sidang skripsi yang akhirnya selesai. Seusai sidang skripsi, Andhita tidak segera pulang ke rumah. Ia memilih untuk singgah sebentar ke makam Mama. menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bisa sampai menyelesaikan kuliahnya tanpa mama, juga kehangatan sang papa.

Sesampainya di rumah, ia menemukan Papa duduk di ruang tamu, terlihat termenung dengan tatapan kosong.

“Sidang sudah selesai, Pa,” ucapnya pelan, berharap ada sedikit kehangatan dari Papa.

Papa menatapnya sejenak, kemudian mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak, Andhita tidak lagi bisa menahan perasaannya. Ia pun segera duduk di samping Papa setelah meletakkan beberapa bawaannya di sofa kecil di sampingnya.

“Papa, aku cuma ingin Papa tahu, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah berusaha untuk sampai di titik ini. Aku hanya ingin Papa bangga atas pencapaianku, Pa.”

Papa tak sedikitpun bergeming.

“Tapi kenapa Papa selalu melihat aku sebagai anak yang membawa sial? Kenapa aku selalu disalahkan atas kepergian Mama?” Suaranya mulai bergetar. Tangisnya pun mulai pecah.

Papa masih terdiam, matanya sedikit membelalak, seakan kalimat itu menusuk jauh ke dalam dirinya. Beberapa detik berlalu tanpa ada respons. Andhita merasa lega, sekaligus takut. Andhita menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, hatinya sudah telanjur memanas.

“Papa tahu nggak, selama lima tahun ini aku selalu merasa sendirian. Aku kehilangan Mama, lalu Papa juga pergi.”

“Papa ada, gak pernah pergi. Dan kamu tau itu.” sergah Papa cepat.

 “Papa memang ada di sini, tapi aku merasa seperti anak yatim. Setiap hari aku merasa bersalah karena Mama pergi saat ingin jemput aku, dan aku tahu Papa menyalahkanku! Papa ada di sini, tapi Papa menjauh. Aku merasakan itu, Pa!”

Papa terdiam, ekspresinya masih dingin, tapi ada bayangan rasa sakit di matanya. “Papa… nggak pernah bermaksud begitu, Ta.”

“Kalau nggak, kenapa Papa selalu bersikap seolah aku ini nggak penting? Kenapa semenjak nggak ada Mama perhatian Papa hanya berupa materi, uang, uang dan uang? Aku cuma mau Papa sadar aku masih di sini, Pa. Aku rindu Papa yang dulu. Yang hangat. Yang perhatian. Papa yang… pernah sayang sama aku dengan begitu sempurna.” Tangin Andhita semakin pecah.

Papa menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, tatapannya melunak. Ia meletakkan tangannya di atas lututnya, suaranya rendah dan berat.

“Papa kehilangan arah waktu Mama pergi, Ta. Selama ini… Papa nggak tahu cara menghadapi rasa bersalah dan kehilangan itu. Papa pikir dengan menyalahkan, dengan bersikap dingin, semua rasa itu bakal hilang. Tapi ternyata justru Papa membuat jarak kita semakin jauh.”

 “Papa tahu, setiap malam aku selalu bertanya-tanya, apa aku memang salah? Apa aku yang buat Mama pergi? Apa aku sejahat itu dalam hidup Papa? Dan kenapa Papa nggak pernah kasih aku jawaban?” getar suara Andhita mengucapkan itu.

Papa akhirnya menundukkan kepalanya. “Kamu nggak pernah salah, Ta. Mama pergi karena kecelakaan, itu bukan salahmu. Tapi Papa butuh waktu lama untuk menerimanya. Papa menyesal nggak pernah kasih kamu kesempatan untuk bicara.” Ujar Papa dengan suaranya yang mulai serak.

Andhita semakini terisak, dan tanpa disadari, Papa meraih tangannya. Ini pertama kali sejak bertahun-tahun mereka saling berjarak dan menjauh. Semenjak lima tahun berlalu, mungkin ini sentuhan pertama Papa kepada Andhita, sentuhan dengan penuh perasaan. Hangat, sekaligus menyakitkan.

“Aku rindu Mama, Pa. Aku rindu keluarga kita yang dulu. Aku cuma ingin kita bisa kembali, walaupun mungkin nggak sempurna seperti dulu. Dita rindu Papa yang dulu. Yang selalu ada buat Dita di kondisi apapun. Dita cukup kehilangan Mama, Pa. Dita nggak mau kehilangan Papa. Dita kangen Papa.” Lirih suara Andhita mengutarakan isi hatinya.

Papa mengangguk pelan, matanya basah. “Papa juga rindu, Ta. Dan kalau kamu mau, kita bisa mulai lagi. Mungkin pelan-pelan, tapi Papa janji nggak akan biarkan kamu merasa sendirian lagi.”

“Dita boleh peluk Papa?” tanya Dita sambil menatap wajah Papa dengan matanya yang basah.

Tanpa menjawab, Papa menarik Andhita kedalam pelukannya.

Hangat. Menenangkan. Merasa aman dan nyaman. Itulah yang dirasakan Andhita. Kehangatan, rasa nyaman dan aman yang selama lima tahun ini ia kehilangannya.

“Dita kangen Papa. Jangan menjauh lagi ya, Pa. Dita minta maaf.” Lirih Andhita dalam pelukan Papa.

Dengan lembut Papa mengecup puncak kepala Andhita. Ada getar rindu yang tak bisa dipungkiri oleh Papa. Juga ada rasa bersalah atas sikapnya yang selama ini mengabaikan dan menyalahkan putri semata wayangnya itu.

“Papa yang minta maaf. Kamu nggak salah, Ta. Maaf sudah membuat kamu harus merasa kehilangan Papa juga.”

Andhita tak dapat menjawab apapun. Pelukannya semakin erat. Tangisnya pun semakin pecah. Kali ini, tangis yang berderai dari matanya adalah tangis haru karena kembalinya Papa yang selama ini ia rindukan. Tuhan, tolong panjangkan waktuku dan Papa untuk bisa selalu bersama. Untuk menebus segala kerinduan yang selama ini ku simpan sendirian. Tolong, jangan jemput Papa untuk pulang sebelum aku membahagiakannya.

Senin, 17 November 2025

Rindu Yang Ku Peluk Sendiri

Senin, November 17, 2025 0 Comments



Ketika kamu mengatakan bahwa ini adalah cinta, aku dengan tegas menyangkalnya. Bukan. Kali ini bukan lagi perihal cinta. Entah… bahkan aku merasa cinta ini telah habis ditelan kecewa realita. Aku tak lagi mengerti apa makna dari sebuah kata mencintaimu, setelah sekian banyak fakta yang kau hadirkan di depan mataku—mata yang dulu masih menatapmu penuh rasa.

Jika kamu bertanya apakah ini perihal rasa sayang yang masih tertinggal, mungkin aku akan menjawab dengan ragu bahwa iya… ada sedikit rasa yang tertinggal. Tapi kali ini aku hanya ingin peduli secukupnya, tanpa dua perasaan itu. Perasaan yang dulu sempat membuatku jatuh, terpuruk, meratapi harapan yang ternyata menyakitkan.

Aku pernah berjuang melepasmu, juga berusaha melupakanmu. Namun setiap usahaku selalu berakhir sama: sia-sia. Selalu ada kata mustahil yang berdiri di antara aku dan keinginan untuk benar-benar menjauh darimu. Aku mencoba menanam bibit benci, berharap itu bisa mengusir bayangmu dari hidupku—tapi aku gagal. Kamu terlalu melekat dalam memori kenangan indah untuk bisa kubenci.

Aku kira waktu akan mampu meniadakanmu dari pikiranku. Aku kira, aku bisa begitu yakin bahwa setiap rasa yang tertuju padamu akan lenyap. Tapi ternyata, rindu lebih berkuasa. Ia selalu menemukan celah untuk menghadirkanmu di sela-sela langkahku. Ia selalu berhasil menggoyahkan keputusanku untuk tidak lagi memikirkan dan mengkhawatirkan segala hal tentangmu. Ia menyadarkan ku, bahwa ternyata cinta yang hanya sebentar singgah, rupanya memilih tinggal lebih lama. Dalam ruang diam yang mengubahnya menjadi rindu yang sunyinya tak bisa ku tolak. Rindu yang tahu dirinya tak punya ruang untuk kembali, namun mengingkannya pulang ke hati kecil yang sangat merindu.

Namun pada akhirnya aku selalu sadar, rindu ini cukup ku peluk sendiri, dalam diam, dalam sunyi, dalam harapan yang tak pernah menjelma nyata. Karena kita tidak akan pernah bisa bersama.

Selasa, 21 Oktober 2025

Ikhlas Yang Tertinggal

Selasa, Oktober 21, 2025 0 Comments


Terkadang aku berpikir...

Kenapa kesunyian selalu berhasil memutar kembali rekam kenangan yang sudah ku kubur perlahan? Kenapa sepi selalu mengetuk dinding hati hanya untuk menghadirkan rindu? Kenapa kesendirian selalu memunculkan senyuman yang selalu ingin aku lupakan?

Jujur, aku tak pernah benar-benar menemukan jawabannya. Mungkin karena hati tak pernah benar-benar bisa menolak apa yang pernah membuatnya bahagia. Mungkin karena dia terlalu berharga atau terlalu dalam menggoreskan rasa.
Atau mungkin, karena aku terlalu sering berusaha melupakan, sampai lupa caranya menerima bahwa kehilangan juga bagian dari hidup yang harus dijalani.

Kehilangannya membuat aku belajar. Belajar melepaskan dan mengikhlaskan. Aku pun belajar bahwa ikhlas bukan berarti berhenti mengingat, tapi berhenti berharap semua bisa kembali seperti dulu.
Ikhlas adalah ketika aku bisa menatap luka yang sama tanpa lagi merasa perih.
Ikhlas adalah saat aku bisa menyebut namanya dalam doa, tanpa menuntut takdir untuk mengulang pertemuan. Ikhlas adalah saat aku tau dia bahagia, aku pun ikut tersenyum karenanya. Ikhlas adalah saat aku bisa menceritakan tentangnya di hadapan Tuhan tanpa harus memaksa untuk dipersatukan.

Tapi, Ikhlas pun masih boleh merindukan, kan? Merindu tanpa harus tau apakah rindu ini bersambut atau terabaikan.

Dan kini, setiap kali rindu datang tanpa permisi, aku hanya tersenyum kecil.
Bukan karena sudah lupa, tapi karena akhirnya aku paham—
beberapa hal hanya hadir untuk dipertemukan bukan untuk dipersatukan, dan karena beberapa hal memang harus dibiarkan pergi, untuk kita menjadi lebih baik atau menemukan yang lebih tepat.

Senin, 25 Agustus 2025

Lupa yang Tak Pernah Nyata

Senin, Agustus 25, 2025 0 Comments

Aku tahu, hidup ini adalah perjalanan siklus dari sebuah pertemuan, perpisahan, tawa, dan juga air mata. Semua pasti akan terjadi. Entah siapa lebih dulu memilih untuk meninggalkan, ataupun ditinggalkan. Sama hal nya dengan kita. Tiba-tiba Tuhan mempertemukan, tapi seketika, keadaan memaksa kita untuk saling melepaskan. 

Aku pikir, aku akan dengan mudah melupakan. Sama seperti ketika waktu dengan mudah mempertemukan, dan aku dengan mudah menyambut kehadiranmu. Nyatanya, melupakanmu ternyata bukan soal peran sang waktu, tapi soal luka yang tak pernah berhenti mencari cara untuk mengingat. Aku selalu mencoba menghapus tentangmu perlahan, menutup bayangmu dari ingatan. Namun yang terjadi adalah setiap langkah untuk menjauh, selalu menyeretku kembali pada jejakmu.

Aku mencoba menyibukkan diri, mengisi hari dengan tawa baru, berjalan di jalan yang tak pernah kita lalui bersama. Tapi tetap saja, bayanganmu selalu hadir di sela-sela senyumku yang paling pura-pura. Segala tentangmu selalu hadir dalam rindu yang paling sunyi, yang ku sembunyikan di balik tirai malam.

Mereka bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi mengapa setiap detik justru membuatku lebih sakit? Mengapa aku merasa semakin jauh dari sembuh? Padahal aku sudah berusaha sekuat itu. Hingga merapalkan namamu dihadapan Tuhan pun sudah hampir ku tiadakan. Tapi kenapa? Kenapa lagi-lagi harus tentang kamu yang membuat gaduh isi kepalaku?

Pada akhirnya, aku tahu seberapa banyak aku berjuang untuk melupa, sebanyak itu pula aku tersiksa.
Dan seberapa banyak cerita baru tercipta, sebanyak itu pula cerita lama melekat— dan menjadi pemenangnya. Aku benci harus mengakuinya, tapi fakta yang ada memang kamu masih jadi alasan dari setiap kosongku. Dan aku masih kalah, dalam peperangan yang seharusnya bisa kumenangkan.

Selasa, 19 Agustus 2025

Sunyi Di Antara Aku dan Dia

Selasa, Agustus 19, 2025 0 Comments


Aku tak tahu sejak kapan jarak ini tumbuh tanpa bisa kutahan.
Mungkin sejak kata-kata berhenti mencari telinga, dan rindu berhenti menemukan tempat pulang.
Mungkin sejak matanya tak lagi menatap dengan rasa, hanya dengan sekilas yang hambar.
Sejak saat itu, aku seperti hidup di dunia yang sama, tapi di ruang yang berbeda.

Ada aku, dengan segenggam rindu yang terus berdegup.
Ada dia, dengan segenggam alasan yang tak pernah ingin ia ceritakan.
Dan di antara kami, ada sunyi.
Sunyi yang lebih bising daripada keramaian.
Sunyi yang menggigit lebih dalam daripada dingin malam.

Aku benci sunyi ini.
Aku benci bagaimana aku masih terus menaruh harap,
sementara dia seperti sengaja meluruhkan setiap detik bersamaku menjadi abu.
Aku benci menatap layar ponsel yang kosong dari kabarnya,
padahal dulu ia pernah menjadi suara yang paling kurindukan.
Kini, ia hanya bayang samar yang berdiri di kejauhan,
membiarkan aku menunggu sesuatu yang tak lagi ingin ia beri.

Kadang aku bertanya,
apa salahku hingga hangatnya berubah jadi beku?
Kenapa aku masih berusaha menyulam kembali,
sementara dia perlahan merobek setiap benang yang kupintal?

Aku ingin membencinya, benar-benar membenci.
Tapi bagaimana bisa?
Jika setiap bayangannya masih menetap di dalam mataku.
Jika setiap kenangan tentangnya masih menempel di napasku.
Jika setiap luka yang ia torehkan justru semakin menegaskan betapa aku masih mencintainya.

Dan setiap kali aku mencoba pergi, ada sesuatu yang menahanku—
seolah hatiku sendiri menjadi penjara yang kuncinya ia simpan.
Sunyi di antara aku dan dia bukan sekadar jeda,
ia adalah dinding tinggi yang tak bisa kutembus.
Aku mengetuk, tapi dia tak pernah menjawab.
Aku menunggu, tapi dia tak pernah kembali.

Yang paling menakutkan adalah…
barangkali dia memang sudah benar-benar pergi,
sementara aku masih berdiri di tempat yang sama,
terikat oleh janji yang hanya aku anggap suci.

Mungkin, di antara aku dan dia,
yang benar-benar tinggal hanyalah sunyi.
Sunyi yang menolak pergi,
bahkan saat aku sudah tak punya tenaga lagi untuk bertahan.