Menjaga Hari, Menemukan Damai
Kita sering kali lupa, bahwa jatah waktu yang kita miliki di bumi ini dihitung mundur oleh detik yang tak pernah mau menunggu. Akal sehat diciptakan bukan sekadar untuk menimbang benar dan salah, melainkan untuk menjaga agar jiwa tidak lelah singgah pada hal-hal yang sia-sia.
Aku pernah terjebak dalam riuh yang sia-sia. Melangkah tanpa arah, menghabiskan detik demi detik hanya untuk mengejar hal-hal yang pada akhirnya tak meninggalkan apa pun di dalam dada—selain rasa hampa yang kian membesar.
Namun, ada satu titik di mana aku memilih untuk berhenti.
Logikaku berbisik pelan, menyadarkanku bahwa hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk merawat hal-hal yang tak pernah memberi kebaikan. Seseorang yang benar-benar memahami arti bertumbuh tak akan membiarkan harinya berlalu tanpa kebaikan yang bermakna bagi jiwanya sendiri.
Sebab menyayangi diri sendiri adalah tentang bagaimana kita menjaga waktu yang tersisa—agar tak ada lagi hari yang terbuang tanpa arti.
Inilah mengapa seseorang yang benar-benar berakal, tidak akan membiarkan hari-harinya habis terkikis oleh sisa keraguan, atau merawat rindu pada tempat yang salah. Ia tahu persis bagaimana menakar pulang; mana lelah yang kelak menjadi buah kebaikan, dan mana penat yang hanya menguap menjadi debu di ujung jalan.
Kini, aku belajar memilih berdamai dengan sunyi, merajut jeda dengan penuh kesadaran, dan memastikan setiap jengkal langkah meninggalkan jejak yang menenangkan. Karena hidup terlalu singkat untuk dipertaruhkan pada hal-hal yang tidak menumbuhkan kedamaian di dalam diri.








