Bros Kecil Dari Amira
Sangat kecil. Bahkan mungkin tidak akan menarik perhatian siapa pun jika ia
diletakkan di antara banyak benda lainnya.
Tapi sore itu, seorang anak perempuan datang menghampiriku dan
menyerahkannya dengan kedua tangannya.
"Ini hadiah buat Ambu dari aku."
Aku menerimanya sambil tersenyum, diliputi rasa tak percaya.
Entah mengapa, benda kecil itu terasa jauh lebih besar daripada ukurannya.
Sore itu, baru saja aku memasuki masjid, gadis kecil itu langsung
menghampiriku. Ia menunjukkan sebuah benda kecil yang ada di tangannya.
Awalnya aku pikir ia hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.
"Bagus nggak, Ambu?"
"Bagus banget!"
Lalu tanpa kuduga, ia menyerahkannya kepadaku.
"Ini hadiah buat Ambu dari aku."
Namanya Amira.
Seorang anak perempuan yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar.
Dan entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hatiku hangat.
Bukan karena bros kecil yang kini berada di tanganku.
Bukan karena hadiah itu.
Tetapi karena ada seorang anak yang, entah sejak kapan, menyimpan sedikit
ruang di pikirannya untuk memikirkan gurunya.
Ia melihat sesuatu.
Mungkin ia menyukainya.
Mungkin ia merasa benda itu indah.
Lalu ia berpikir untuk memberikannya kepadaku.
Sesederhana itu.
Namun bagiku, tidak sesederhana itu.
Karena ini bukan tentang sebuah bros.
Ini tentang rasa.
Tentang perhatian.
Tentang cara seorang anak mengekspresikan kasih sayangnya kepada gurunya.
Dan aku bersyukur.
Sangat bersyukur.
Karena rasanya seperti Allah sedang mengirimkan jawaban, sekali lagi, atas
doa yang pernah kupanjatkan sebelum memulai amanah ini.
Aku pernah meminta kepada Allah agar ketika aku mengajar di TPQ, di
lingkungan tempat tinggalku sendiri, hal pertama yang ingin kutanamkan kepada
anak-anak bukanlah sekadar kemampuan membaca Iqra'.
Aku ingin mereka merasa nyaman.
Aku ingin mereka merasa aman.
Dan aku ingin mereka merasa bahagia ketika datang untuk belajar.
Aku ingin mereka tahu bahwa masjid dan ruang belajar ini bukan tempat yang
membuat mereka takut.
Bukan tempat di mana mereka harus selalu merasa salah ketika belum bisa.
Tetapi tempat di mana mereka boleh tumbuh perlahan, dengan cara mereka
masing-masing.
Dan mungkin...
Allah sedang memperlihatkan kepadaku bahwa doa itu mulai tumbuh.
Di hari ketujuh belas pertemuan tatap muka bersama anak-anak, aku menerima
sebuah hadiah kecil.
Sebuah bros.
Benda yang mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain.
Tetapi sore itu, ia mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih besar.
Bahwa ternyata, rasa nyaman yang kita tanamkan kepada seseorang bisa kembali
kepada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita duga.
Kadang dalam bentuk pelukan.
Kadang dalam sebuah senyuman.
Kadang dalam kalimat sederhana,
"Ambu, aku kangen ngaji."
Dan sore itu...
Dalam bentuk sebuah bros kecil dari seorang anak perempuan bernama Amira.
Mungkin menjadi guru memang bukan selalu tentang seberapa banyak ilmu yang
berhasil kita pindahkan kepada anak-anak.
Kadang, menjadi guru adalah tentang membuat seorang anak merasa cukup aman
untuk datang menghampiri kita, tersenyum, lalu berkata,
"Ini hadiah buat Ambu dari aku."
Dan saat itu terjadi, kita sadar...
Barangkali bukan hanya mereka yang sedang belajar.
Aku pun sedang belajar.
Belajar bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar.
Terkadang ia hanya berupa sebuah benda kecil, dari tangan kecil seorang anak,
yang diam-diam membawa pesan begitu besar:
"Ambu, aku senang berada di sini."
Dan untuk seorang guru... Mungkin itu sudah lebih dari cukup.









