Kanvas yang Berbeda
Aku tahu, kali ini kamu sedang melukis warna yang berbeda pada kanvas cerita hidupmu.
Warna-warna kelam yang dahulu memenuhi hampir setiap sudutnya, menyimpan cerita tentang dia, tentang mereka, tentang segala hal yang pernah membuatmu kehilangan arah, perlahan kau biarkan memudar.
Bukan karena kau ingin berpura-pura bahwa semua itu tak pernah ada.
Melainkan karena kau mulai mengerti, bahwa hidup tak seharusnya berhenti pada satu warna yang pernah membuatmu kehilangan cahaya.
Dan di tengah sunyi, mungkin untuk kesekian kalinya kau bertanya kepada dirimu sendiri,
“Mau sampai kapan?”
Di antara setiap titik dan garis yang kau titahkan di atas kanvas kehidupan, selalu terselip banyak tanya.
Tentang hari-hari yang pernah dilalui.
Tentang warna yang pernah dipilih.
Tentang beberapa goresan yang mungkin tak akan pernah benar-benar bisa dihapus, meski waktu telah berkali-kali mencoba memudarkannya.
Namun bukankah hidup ini tak selalu malam?
Bukankah gelap tidak pernah benar-benar tinggal selamanya?
Dan bukankah setiap kita berhak memilih warna yang berbeda untuk hari-hari yang masih tersisa?
Kita memang tidak bisa kembali ke halaman pertama.
Tidak bisa menghapus titik yang telah tergores.
Tidak bisa menarik kembali garis yang terlanjur tercipta.
Tetapi barangkali, memang bukan itu yang diminta oleh kehidupan.
Barangkali beberapa warna memang harus tetap tinggal di sana—bukan untuk terus dikenang, melainkan untuk mengingatkan bahwa kanvas ini pernah melewati musim yang berbeda.
Dan setelahnya, masih ada ruang.
Masih ada bagian yang belum tersentuh warna.
Masih ada lembar kehidupan yang menunggu untuk disapukan dengan sesuatu yang lebih lembut.
Kakimu akan terus melangkah.
Dan setiap jejaknya adalah warna yang kembali kau goreskan di atas kanvas kehidupan.
Maka, jika kelam yang selalu memberi warna, kapan kau akan mengambil kembali kuasmu?
Jika selama ini kau mendamba secercah cahaya di tengah gelap yang mencekam, mengapa terus memandangi warna yang sama?
Berjalanlah.
Tak perlu terburu-buru.
Tak perlu pula memaksa setiap warna menjadi sempurna.
Biarkan satu warna menemukan warna lainnya.
Biarkan setiap goresan tumbuh bersama waktu.
Sebab mungkin, kanvas kehidupan memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sempurna.
Ia hanya meminta kita untuk terus melukis.
Menambahkan warna di atas warna lama.
Membiarkan setiap goresan memiliki tempatnya masing-masing.
Hingga suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, kita tidak lagi hanya melihat betapa gelapnya warna yang pernah memenuhi kanvas.
Kita akan melihat bagaimana cahaya perlahan menemukan jalannya sendiri.
Bukan untuk menghapus gelap,
melainkan untuk membuat kita tahu bahwa di antara keduanya, masih ada begitu banyak warna yang belum pernah kita coba.
Karena sejatinya, kehidupan ini hanyalah persinggahan.
Dan kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak halaman yang masih tersisa.
Maka mungkin, yang perlu kita lakukan bukanlah terus menyesali warna yang telah tergores,
melainkan memberi makna pada setiap warna yang masih bisa kita ciptakan.
Sebab pada akhirnya, bukan tentang seberapa gelap kanvas yang pernah kita miliki.
Melainkan tentang warna apa yang kita pilih untuk menjadi sapuan terakhir di atas kanvas kehidupan.









