Rindu yang Menepi
Kali ini, rinduku sunyi. Bukan karena aku tak lagi merasa kehadirannya, tapi karena aku membiarkan ia mundur dengan sendirinya. Jika kemarin rindu ini terlalu berisik, terlalu berani berdiri paling depan di kepala, kali ini ia mundur perlahan. Mencari sudut paling aman untuk menyendiri.
Rindu itu, kini sunyi dan sepi. Bahkan ia mulai kehilangan keberanian untuk menguasai isi hati dan kepala. Jika kemarin ia masih gagah berdiri, bahkan berlari mencari si tuan rumah, hari ini ia diam. Keberaniannya luruh bersama waktu. Mungkin ia mulai paham, bahwa tidak semua pintu yang pernah terbuka akan selalu menyambutnya kembali. Ada lelah yang akhirnya mengalahkan keras kepalanya. Hingga akhirnya tak ada lagi godaan untuk mengetuk, tak ada lagi desakan untuk didengar. Ia tak lagi melangkah ke mana pun, tak mencari siapa pun.
Ia hanya terus berjalan mundur. Memberi ruang bagi kebahagiaan-kebahagiaan baru dan riuh tanggung jawab yang kini bermukim di kepala. Rindu itu tidak mati, ia hanya memilih menjadi penonton pasif. Ia menepi, duduk manis di ambang pintu, menyaksikan aku hidup dan melanjutkan hari.
Mungkin sekali waktu ia ingin menangisi kekalahannya, karena tak lagi mampu menguasai aku yang sering kali lemah dan luluh saat ia datang mengetuk dengan begitu hebat. Kali ini, rindu itu menepi. Tak mati. Hanya menepi. Hanya memberi jarak padaku yang ingin terus melangkah menikmati hidup yang tak lagi ada tentangnya. Rindu itu menepi. Pasif. Berdiam membiarkan aku terus tumbuh mengejar segala impian. Rinduku sungguh sunyi. Tak lagi mengetuk, tak lagi memanggil nama yang pernah menjadi rumahnya. Ia hanya duduk diam di sudut hati, menjadi saksi bahwa pernah ada seseorang yang begitu berarti, tanpa harus meminta untuk kembali.









