Di Antara Rindu dan Tenang
Aku sedang menjemput tenang.
Dengan diam.
Dengan menghadapi segala kegaduhan yang tak pernah benar-benar berhenti di dalam kepala. Dengan rindu yang menetap di dada dan enggan melonggarkan ikatannya. Dengan pertarungan panjang antara hati yang ingin kembali dan logika yang memintaku untuk tetap melangkah pergi.
Aku sedang menjemput tenang.
Meski jalannya tidak mudah.
Aku pernah mencoba berlari. Berlari dari kenyataan yang tak sejalan dengan harapan. Berlari dari rasa kehilangan yang terus mengetuk ingatan. Berlari dari segala kemungkinan yang tak pernah bisa menjadi nyata.
Tapi semakin jauh aku berlari, semakin aku sadar bahwa tenang tidak pernah menungguku di ujung pelarian.
Aku bahagia?
Ya.
Sesaat.
Aku tenang?
Tidak.
Sebab bahagia dan tenang ternyata bukan hal yang sama. Bahagia bisa hadir sebentar lalu pergi. Sedangkan tenang adalah rumah yang harus dibangun perlahan di dalam diri.
Dan aku belum berhasil menemukannya saat itu.
Setiap kali aku merasa sudah berada di jalan yang benar, selalu ada langkah yang membawaku kembali pada persimpangan yang sama. Pada kenangan yang sama. Pada nama yang sama.
Hingga akhirnya aku lelah.
Lelah mengejar ketenangan dengan cara-cara yang justru menjauhkanku darinya.
Maka kali ini aku memilih berhenti sejenak.
Bukan untuk menyerah.
Melainkan untuk belajar memahami bahwa mungkin selama ini aku salah mengartikan tenang.
Aku pikir tenang adalah ketika semua rasa itu hilang.
Padahal bukan.
Tenang bukan tentang melupakan.
Bukan pula tentang memaksa hati berhenti merindu.
Tenang adalah ketika aku mampu hidup berdampingan dengan segala yang tak bisa kumiliki, tanpa harus terus-menerus berharap agar semesta mengubah takdirnya.
Dan kali ini, aku ingin belajar ke sana.
Perlahan.
Aku kembali melangkah. Membangun benteng yang seharusnya tak lagi mudah runtuh. Menata ulang hati yang sempat kehilangan arah. Mengumpulkan serpihan diriku yang pernah tercecer pada harapan-harapan yang tak menemukan jalannya.
Meski di antara banyak nama yang pernah hadir dan pergi, masih ada satu nama yang sesekali singgah dalam benak.
Masih ada satu nama yang diam-diam kusebut di hadapan-Nya.
Bukan untuk kumiliki.
Bukan untuk kembali.
Bukan pula untuk kutunggu.
Melainkan untuk kuserahkan.
Sebab ada beberapa rindu yang memang tidak diciptakan untuk diperjuangkan.
Hanya untuk diterima keberadaannya, lalu dilepaskan perlahan bersama doa-doa yang paling diam.
Dan mungkin...
Di situlah tenang yang selama ini kucari sedang menungguku.










