Ruang yang Tetap Ia Sisakan
Setiap kali gema takbir berkumandang, yang datang bukan hanya kemenangan—melainkan sepi yang tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu membawa kembali satu wajah.
Satu suara.
Satu rumah yang dulu penuh.
Entah sudah hari raya ke berapa yang harus ia lewati tanpa kehadirannya. Namun ia tetap tersenyum. Menyapa orang-orang. Terlihat baik-baik saja, seperti yang diharapkan. Padahal di dalam, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai—air mata yang selalu menemukan jalannya sendiri.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ia jangkau.
Pagi itu, ia tetap bangun lebih awal. Dapur kembali hidup, meski tak lagi seramai dulu. Ia memasak seperti biasanya. Mengiris, merebus, menunggu. Gerakannya hafal. Tangannya bekerja seperti mengingat sesuatu yang tak ingin dilupakan. Di meja makan, ia menata semuanya dengan rapi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tak ada yang benar-benar bertanya.
Tak ada yang benar-benar tinggal.
Menjelang siang, rumah itu kembali sepi.
Ia duduk sendiri di depan meja makan.
Ia menarik napas pelan.
Akhirnya, ia tersenyum kecil.
Di luar, gema takbir masih terdengar. Dan untuk kesekian kalinya, ia merayakan hari raya— dengan satu ruang di hatinya yang tetap ia sisakan untuknya.









