Tak Pernah Pergi
Bima baru saja meletakkan
pulpennya di atas kertas yang baru saja ia coret dengan nada-nada baru yang ia
ciptakan. Sekali lagi matanya melirik kalender yang berada di depannya.
Tanggal yang sama. Bulan yang
sama. Sudah setahun,La.Rasanya masih sama. Seperti baru kemarin.
Bima tersenyum getir. Bayangan
seorang perempuan yang pernah menjadi rumahnya yang begitu utuh, kembali menari
di pelupuk matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap inci kamarnya.
Kamar ini, masih sama. Masih
ada bayangan kamu. Masih ada suara kamu, masih ada cerita tentang kamu.
Tatapan Bima berhenti pada
gaun pengantin yang terbungkus rapih dan ia biarkan menggantung dalam lemari
kaca khusus baju-baju penting miliknya.
Bima beranjak. Membuka pintu
lemari. Mengambil gaun itu.
Memeluk dan mencium gaun itu
begitu dalam seolah si pemilik gaun sedang memakainya.
Nala, aku kangen banget sama
kamu. Lirih Bima diiringi air matanya yang jatuh satu persatu ke
gaun yang berada dalam pelukannya.
Setiap kali memeluk gaun itu,
Bima membayangkan ia sedang memeluk Nala. Seseorang yang bukan hanya pernah
berperan sebagai istri untuk Bima, tapi juga pernah menjadi rumah ternyaman dan
teraman ketika Bima sedang merasa begitu jatuh.
Bima memejamkan mata.
Membiarkan bau melati yang tersisa pada gaun itu membawanya pulang setahun
kebelakang.
Setahun yang lalu, rumah itu
masih berisik. Di bulan-bulan pertama pernikahannya, Nala pernah menggerutu
kepada Bima hanya karena Bima tidak ingin mencuci piring. Sampai akhirnya,
untuk membuang rasa kesalnya, Nala menuliskan post-it dan menempelkannya di
pintu kulkas. dengan tulisannya yang miring Nala menuliskan : Wahai Bima
Mahesa, bagian kamu cuci piring. Bagian aku memasak.”
“Kenapa sih harus di taro di
pintu kulkas gitu notes-nya?” protes Bima.
“Biar kamu gak bisa lagi
bilang ‘maaf sayang, aku lupa’” jawab Nala mengikuti gaya Bima ketika sedang
mengeluarkan alasan andalannya.
Bima menahan tawa. Dan Nala
merasa menang.
Setiap kali ada undangan untuk
manggung di café-café, Nala tidakpernah absen untuk mendampingi Bima. Dia akan
menjadi penonton paling depan yang memberikan dukungan untuk Bima dengan
senyuman manisnya yang tulus penuh rasa bangga. Bahkan Nala seringkali meminta
Bima untuk membuatkan satu lagu khusus tentang dirinya, dan selalu dijawab Bima
dengan kalimat, “Iya, nanti aku bikin kalau moodnya oke.” Jawaban itu berhasil
membuat Nala cemberut, dan Bima menahan tawa.
Nala tak pernah tahu, bahwa
diam-diam Bima sedang menuliskan lagu untuknya.
Di usia pernikahan mereka yang
ke-18 bulan, kamar ini begitu hening. Nala duduk di lantai. Bersandar pada
tempat tidur. Memeluk lutut. Hasil USG di tangannya terlipat. Pundaknya masih
sedikit berguncang.
“Dia tidak berkembang, Bi. Dia
gugur, Bi. Maaf. Aku gagal menjaganya.” Bisik Nala begitu lirih.
Bima menelan ludah. Ia ikut
merasakan sakit. Gitarnya ia sandarkan ke tembok. Malam itu Bima tidak main
gitar bersama Nala seperti malam-malam sebelumnya. Bima juga tidak melanjutkan
untuk menciptakan lirik-lirik indah. Ia hanya memeluk Nala sampai tenang. Sampai
Nala bisa tertidur dalam peluknya.
Bulan ke-22. Tepat seminggu
sebelum tanggal ini. Nala menunjuk tembok dapur yang sedikit retak dan sudah
terlihat kotor.
“Tahun depan kita renov ya,
Bi. Kita cat warna krem. Biar kayak rumah Ibu.” Pinta Nala sambil tersenyum
membayangkan area dapur semakin cantik.
Bima mengangguk tak membantah
sedikitpun. Ia sudah membayangkan suara Nala yang banyak mengatur agar kerjaan
Bima tertata rapih.
Tapi … tahun depan itu tidak
pernah datang. Tidak akan pernah datang.
Bima membuka mata. Gaun di
pelukannya sudah basah. Kamar ini pun terasa lebih hening dan menyakitkan.
Setahun lalu, di kamar yang
sama, di tanggal yang sama. Saat Bima membuka mata, ia mendapati Nala yang tak
lagi bersuara saat ia membangunkannya. Ia mendapati Nala yang sudah sangat
pucat. Dingin. Satu tangan berada di atas dada Bima.
“La … bangun. Jangan bikin aku
takut, La.” Getar suara Bima saat itu membangunkan Nala.
Berkali-kali Bima mencari
detak nadi Nala. Tapi tak ketemu. Bima mencoba mencari suara detak jantung
Nala, tapi tak lagi terdengar.
Bima memanggil dokter keluarga
untuk memastikan bahwa ia salah. Tapi jawaban dokter justru meyakinkannya bahwa
Nala tidak akan pernah bangun lagi.Pagi itu, menjadi pagi yang mencipta luka
yang tak pernah reda untuk Bima.
Sudah setahun berlalu, tapi
Bima tak pernah benar-benar bisa melepaskan Nala dari pikirannya. Dari hatinya.
Lagu-lagu yang pernah ia ciptakan hanya menjadi kenangan yang mengabadikan nama
Nala dalam musik ciptaannya.
Gaun dalam pelukannya ia
letakkan di atas tempat tidur. Bima mengambil gitar. Memainkan satu persatu
lagu-lagunya yang ia ciptakan untuk Nala. Hingga kemudian senar G-nya putus.
Melukai jarinya.
Bima tersenyum melihat darah
yang menetes dari jarinya.
Luka ini gak seberapa
dibandingkan setahun lalu, La. Saat aku bangun, kamu hanya memeluk aku tanpa
kata-kata.
Bima sadar, luka dijarinya
tidak sembuh malam itu. Ia hanya berhenti berdarah.
Dan Bima akhirnya mengerti,
bahwa Nala memang pergi. Tapi tak pernah benar pergi. Bima juga tak memilih
untuk mengusir Nala dari ingatannya. Meski ia tahu, ia sakit.
~~~~~•••~~~~~










