Ketika Malam Bertanya Tentang Tenang
Malam sunyi seringkali menggemakan tanya, “tenang seperti apa yang kamu dambakan? Bergelimpang harta? Bermahkota tahta? Berjubah ketenaran? Apa? Tenang yang seperti apa yang kau inginkan?”
Napas berat berembus tak memberi jawaban. Entahlah. Bahkan, hati dan logika yang sering kali tak sejalan pun sulit meredam pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi rangkaian kalimat itu, akan selalu menjadi api renungan untuk jiwa-jiwa yang lelah.
Lelah dalam perjalanan. Lelah dalam pencarian. Lelah dalam pengharapan. Lelah dengan segala kejutan yang disajikan oleh dunia. Lelah dengan penghakiman yang tak adil. Lelah dengan peraturan yang entah siapa si pencipta aturan itu.
Lucunya, semakin dewasa seseorang, semakin ia sadar bahwa ketenangan ternyata bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dimiliki. Bukan pula tentang seberapa tinggi seseorang dipandang oleh dunia. Bukan pula semegah apa istana yang ia tempati.
Sebab nyatanya, banyak manusia bergelimang harta tetap tidur dengan dada yang sesak. Banyak yang berdiri di puncak ketenaran justru merasa paling kesepian.
Lalu, tenang seperti apa yang kau cari? Tenang seperti apa yang kau pahami?
Mungkin…
Tenang adalah ketika hati tidak lagi sibuk membandingkan hidup dengan milik orang lain. Ketika seseorang mampu menerima bahwa seringkali realita tak selalu berjalan sesuai harapan, namun tetap memilih melangkah meski perlahan.
Tenang adalah saat kita berhenti memaksa dunia untuk selalu berpihak. Saat kita belajar bahwa tidak semua kehilangan harus digantikan, tidak semua luka harus segera sembuh, tidak semua hal harus berpihak pada kita, dan tidak semua do`a harus dikabulkan saat itu juga.
Karena kadang, hidup hanya meminta kita untuk bertahan sedikit lebih lama. Bernapas sedikit lebih dalam. Dan percaya, bahwa badai sebesar apa pun pada akhirnya akan lelah menghantam.
Dan mungkin, malam-malam sunyi itu sebenarnya tidak sedang menghakimi kita dengan pertanyaan-pertanyaannya. Ia hanya sedang mengingatkan… bahwa jiwa ini juga butuh dipeluk, didengar, dan dimaafkan. Agar langkahnya semakin berani dan diiringi oleh ketenangan yang tidak bisa didapatkan oleh semua orang.









