Tampilkan postingan dengan label cerita mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita mini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2026

Janji Di Semangkuk Bakso

Rabu, Mei 13, 2026 0 Comments



“Nay, gue jatuh cinta sama lo. Kalau nanti kita udah lulus kuliah, nikah yuk.”

Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Kale setelah suapan terakhir bakso masuk ke mulutnya. Sedangkan Naya nyaris tersedak mendengarnya.

“Lo ngajak nikah sebercanda itu? Ngajak nikah udah kayak ngajak orang nonton bioskop!” oceh Naya sambil menahan gugup yang mendadak menyerbu dadanya.

Kale tertawa kecil. “Gue serius.”

Naya mengernyit. “Lo sakit?” tanyanya sambil menempelkan punggung tangan ke kening Kale.

Namun lelaki itu justru menggenggam tangan Naya perlahan, menurunkannya dari dahinya. Tatapan Kale lurus menembus mata Naya, membuat perempuan itu salah tingkah dalam diam.

“Nay…” ucapnya pelan. “Would you be mine?”

Jantung Naya seolah lupa caranya berdetak dengan benar.

Kale adalah lelaki yang ia cintai diam-diam sejak putih abu-abu. Lelaki yang selalu berhasil membuatnya nyaman hanya dengan hal-hal sederhana. Menemani belajar, mendengarkan keluh kesahnya, membelikannya makanan saat ia lupa makan, atau sekadar hadir di saat dunia terasa berat.

Berkedok sahabat, Naya menyembunyikan perasaannya rapat-rapat. Ia terlalu takut kehilangan Kale jika kenyataan tidak berjalan seperti harapannya.

Namun hari itu, semangkuk bakso hangat dan gerimis kecil di luar kedai mengubah segalanya.

“Lo serius, Kal?” tanya Naya hati-hati.

“Apa gue kelihatan main-main?”

Naya menggeleng pelan. Tatapan mata Kale terlalu tulus untuk dianggap candaan.

“So?”

Wajah Naya memerah. Ia menunduk malu sebelum akhirnya menjawab lirih—

“Yes… I do.”

Dan sejak hari itu, dunia terasa jauh lebih hangat bagi Naya.

Kale bukan tipe lelaki romantis yang pandai merangkai kata-kata manis. Tapi sikapnya selalu berhasil membuat hati Naya merasa dicintai. Kale hafal bagaimana cara menenangkan Naya ketika panik menghadapi tugas kuliah. Kale tahu minuman favoritnya, tahu bagaimana Naya diam-diam membenci hujan karena takut petir, bahkan tahu cara membuat Naya tertawa di tengah hari terburuknya.

Bagi Naya, Kale terasa seperti rumah.

Dan rumah selalu menjadi tempat pulang paling nyaman.

***

Enam tahun berlalu.

Taman Mawar sore itu terasa terlalu sunyi untuk sebuah perpisahan.

Naya berdiri membelakangi Kale, mencoba menahan tangis yang sejak tadi sesak memenuhi dadanya. Sedangkan Kale mematung di belakangnya, menatap perempuan yang paling ia cintai dengan mata yang mulai memerah.

“Aku minta maaf, Kal…” suara Naya bergetar. “Aku enggak bisa memperjuangkan hubungan kita.”

Kalimat itu terdengar pelan. Namun cukup untuk menghancurkan dunia Kale dalam sekejap.

“Apa kita enggak punya cara lain?” tanya Kale lirih. Untuk pertama kalinya, lelaki itu terdengar begitu kalah.

Naya menutup matanya rapat. Air mata jatuh tanpa izin.

“Aku udah nyoba…”

“Tapi?”

Naya tersenyum pahit. “Aku enggak bisa menghancurkan keluarga aku cuma demi ego untuk hidup sama orang yang aku cinta.”

Kale tertawa kecil. Pahit. Sangat pahit. Sakit. Sangat perih!

“Lucu ya…” katanya lirih. “Dulu gue ngajak lo nikah sambil makan bakso, dan lo mikir sebercanda itu gue. Dan sekarang kita malah ngomongin perpisahan, yang gue harap ini cuma candaan lo, Nay.” Getar sakit suara Kale tak bisa disembunyikan. Matanya pun ikut basah saat ia mengatakan semua itu dan melihat kenangan yang menari di pelupuk matanya.

Tangis Naya pecah seketika.

Sebab ia ingat. Sangat ingat.

Tentang lelaki yang pernah membuatnya percaya bahwa cinta bisa sesederhana pulang. Tentang lelaki yang selalu ia bayangkan akan hidup bersamanya di masa depan. Tentang Kale—lelaki yang selalu menjadi alasan paling sederhana untuk bahagia.

Namun hidup ternyata tidak selalu berpihak pada cinta.

Naya harus menerima perjodohan demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Ayahnya mempertaruhkan masa depan perusahaan pada pernikahan itu. Dan seperti banyak anak lainnya, Naya akhirnya menjadi tumbal dari ambisi orangtuanya sendiri.

“Aku capek, Kal…” isaknya lirih. “Aku capek harus milih antara keluarga aku atau kamu.”

Kale menatap Naya lama. Sangat lama. Seolah sedang berusaha menghafal perempuan itu untuk terakhir kali.

Kalau saja cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal, Kale pasti sudah memeluk Naya dan membawanya pergi sejauh mungkin.

Sayangnya, dunia orang dewasa tidak sesederhana itu.

Kale menarik Naya ke dalam pelukan hangatnya untuk terakhir kali. Tidak ada suara selain tangis yang berusaha mereka tahan. Tidak ada janji untuk kembali. Tidak ada kata “tunggu aku.”

Karena mereka tahu—beberapa perpisahan memang diciptakan untuk benar-benar selesai.

Setelah pelukan itu terlepas, Naya melangkah pergi perlahan. Sedangkan Kale tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung perempuan itu yang semakin menjauh bersama bagian paling bahagia dalam hidupnya.

Dan setiap langkah yang diayunkan Naya, melahirkan rindu yang kelak akan hidup begitu lama di hati mereka.

***

Dear, diary.

Hari ini aku melewati penjual bakso dekat kampus lama kita.

Lucu ya, Kal…

Dulu, di depan semangkuk bakso sederhana itu, aku pernah merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia.

Dan sekarang, bahkan hanya mencium aromanya saja sudah cukup membuat dadaku sesak.

Katanya waktu akan membuat seseorang terbiasa kehilangan. Tapi kenapa sampai hari ini, aku masih merasa kehilanganmu dengan cara yang sama?

Menjadi dewasa ternyata tidak seindah yang kita bayangkan.

Karena pada akhirnya, tumbuh dewasa hanya mengajarkan kita satu hal—

bahwa tidak semua yang saling mencintai… bisa saling memiliki.

~Naya Adriani~



Jumat, 17 April 2026

Ruang yang Tetap Ia Sisakan

Jumat, April 17, 2026 0 Comments

Setiap kali gema takbir berkumandang, yang datang bukan hanya kemenangan—melainkan sepi yang tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu membawa kembali satu wajah. 

Satu suara.

Satu rumah yang dulu penuh.

Entah sudah hari raya ke berapa yang harus ia lewati tanpa kehadirannya. Namun ia tetap tersenyum. Menyapa orang-orang. Terlihat baik-baik saja, seperti yang diharapkan. Padahal di dalam, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai—air mata yang selalu menemukan jalannya sendiri.

Ia rindu dipeluk seperti dulu. Rindu mendengar suara yang sederhana, “Tolong siapkan ketupat, ya. Yang ada sayur pepayanya… sama semur daging.”

Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ia jangkau.

Banyak sekali yang ingin ia ulang. Banyak sekali yang ingin ia minta kembali. Tapi ia tahu—itu sama saja seperti berharap matahari terbit di tengah malam.

Pagi itu, ia tetap bangun lebih awal. Dapur kembali hidup, meski tak lagi seramai dulu. Ia memasak seperti biasanya. Mengiris, merebus, menunggu. Gerakannya hafal. Tangannya bekerja seperti mengingat sesuatu yang tak ingin dilupakan. Di meja makan, ia menata semuanya dengan rapi.

Ketupat.
Sayur pepaya.
Semur daging.

Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Langkah orang-orang mulai terdengar di luar. Suara salam bersahutan. Tawa kecil mengisi rumah.
Ia membalas dengan senyum yang sama—rapi, cukup, tak berlebihan.

Tak ada yang benar-benar bertanya.

Tak ada yang benar-benar tinggal.

Menjelang siang, rumah itu kembali sepi.

Ia duduk sendiri di depan meja makan.

Piring-piring mulai dingin.
Kuah tak lagi mengepul.

Ia menarik napas pelan.

Tangannya meraih satu piring, lalu berhenti di tengah gerakan.
Matanya menatap kosong, seolah ada sesuatu yang ingin ia tunggu—meski ia tahu, tak akan ada yang datang.

Akhirnya, ia tersenyum kecil.

Bukan karena semuanya baik-baik saja.
Tapi karena ia mulai mengerti… bahwa beberapa kehilangan memang tidak pernah benar-benar pergi.

Di luar, gema takbir masih terdengar. Dan untuk kesekian kalinya, ia merayakan hari raya— dengan satu ruang di hatinya yang tetap ia sisakan untuknya.

Rabu, 04 Maret 2026

Ibu dan Lorong Rumah Sakit

Rabu, Maret 04, 2026 0 Comments


“Kif, pulang, Nak.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di telinga Akif, itu selalu terasa lebih berat dari sekadar ajakan. Sudah ketiga kalinya bulan ini Ibu mengucapkannya. Akif menghela napas panjang sebelum menjawab.

“Sebenarnya ada apa, Bu?” Di seberang sana, suara Ibu terdengar pelan.
“Kamu tidak rindu Ramadhan kumpul sama Bapak dan Ibu?”

Akif terdiam.

Bagaimana mungkin ia tidak rindu? Sejak merantau ke negeri orang, Ramadhan di rumah selalu menjadi bayangan yang ia simpan paling lama sebelum tidur—suara Bapak yang membangunkannya sahur, Ibu yang menyiapkan teh hangat, meja makan kecil yang selalu terasa cukup. Namun rindu tidak selalu bisa mengalahkan keadaan.

Ia menunda. Lagi. Menghitung hari, menimbang cuti, meyakinkan diri bahwa Ramadhan masih panjang. Sampai suatu sore, ponsel ny berdering, tapi bukan suara Ibu yang ia terima saat panggilan itu dijawab. 

“Mas, ini tetangga sebelah rumah. Bapak masuk rumah sakit, Mas. Sekarang di ICU.”

Dunia Akif terasa mengecil dalam satu detik.

Ia pulang bukan dengan rencana, melainkan dengan panik yang menyesakkan.

Lorong rumah sakit itu panjang dan terlalu putih. Bau obat-obatan menempel di udara. Lampu-lampunya terang, tapi tidak menghangatkan apa pun.

Dan di ujung lorong, Akif melihat Ibu.

Duduk sendiri. Mukanya pucat. Tangannya menggenggam ujung jilbab seperti sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh. Untuk pertama kalinya, Akif melihat ketakutan yang tak pernah Ibu tunjukkan lewat suaranya saat telepon. Maupun lewat rut wajahnya yang teduh. Ia ingin memeluknya. Ingin berkata, “Maaf karena tak segera pulang.”

Tapi kata-kata terasa terlalu kecil dibanding hari-hari yang Ibu lewati sendirian di kursi itu.

Dari balik kaca ICU, tubuh Bapak terbaring tanpa suara.

Ramadhan belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya, Akif menyadari—yang paling berat bukan kehilangan. Melainkan membiarkan Ibu menghadapi kemungkinan itu sendirian.

Dan di lorong itu, di antara suara mesin dan doa yang tak putus-putus, Akif akhirnya mengerti kenapa Ibu terus memintanya pulang. Bukan karena rindu semata. Bukan hanya momen Ramadhan yang terasa lebih sepi.

Tapi karena ada takut yang tak sanggup Ibu ucapkan.

 

Senin, 02 Maret 2026

Rumah yang Tak Lagi Memilihnya

Senin, Maret 02, 2026 0 Comments

Adzan maghrib berkumandang, memantul di dinding rumah yang kini terasa terlalu lapang.

Faris duduk sendiri di meja makan. Gelas air di hadapannya tak tersentuh. Dulu, setiap Ramadhan, ia harus menahan tangan kecil anaknya yang tak sabar ingin berbuka. Dulu, ada suara istrinya dari dapur—lelah, tapi hangat—lalu duduk di sampingnya sambil tersenyum.

Kini, kursi itu kosong.

Ia tak pernah menyangka rumahnya bisa berubah hanya karena satu orang asing.

Seorang janda yang awalnya hanya sering datang, sering bercerita, sering mengeluh tentang hidupnya. Entah sejak kapan, kehadirannya membuat istrinya berubah. Perempuan yang dulu mendengarnya dengan tenang, mulai lebih sering membantah. Pendapat Faris terasa seperti serangan. Kekhawatirannya dianggap prasangka.

Percakapan mereka tak lagi mencari jalan keluar, hanya mencari siapa yang paling benar.

Suatu hari, tanpa banyak suara, istrinya memilih pergi. Membawa anak mereka. Tanpa tangis panjang. Tanpa pertengkaran terakhir. Hanya keputusan yang dingin.

Ramadhan ini menjadi yang paling sunyi.

Tak ada yang membangunkannya sahur.
Tak ada yang mencium tangannya seusai salat.
Tak ada suara kecil yang memanggilnya Ayah dari ujung rumah.

Faris bukan lelaki yang sempurna. Tapi ia tak pernah membayangkan kehilangan rumahnya dengan cara seperti ini—bukan karena orang ketiga yang ia cari, melainkan karena orang ketiga yang tak pernah ia undang.

Malam itu, selepas tarawih yang ia jalani sendirian, ia duduk lama di ruang tamu.

Foto keluarganya masih tergantung di dinding.

Ia menatapnya tanpa marah. Tanpa air mata.

Hanya ada ruang kosong yang perlahan melebar di dadanya.

Dan sejak mereka pergi, satu hal itu terus berputar di kepalanya—

Bagaimana mungkin Ramadhan, yang seharusnya mendekatkan hati, justru membuatnya tak lagi dipilih di rumahnya send

Kamis, 19 Februari 2026

Ramadhan Kedua Tanpa Ibu

Kamis, Februari 19, 2026 0 Comments




“Rasanya gak ada hari yang lebih berat selain hari-hari setelah Ibu gak ada. Na sendirian, Bu. Lusa sudah masuk Ramadhan. Ini Ramadhan kedua tanpa Ibu. Masih sama seperti tahun kemarin—sepi.”

Syena menunduk, jemarinya meremas ujung rumput di samping pusara.

“Maaf ya, Bu. Na masih sering nangis kalau kangen Ibu. Bukan Na gak ikhlas Ibu pulang duluan. Na cuma… sesak. Kadang rasanya kayak dada Na penuh, tapi gak tau harus diluapin ke siapa.”

Angin sore berembus pelan. Tak ada jawaban, hanya suara daun yang bergesekan.

“Kalau sabar dan ikhlas bisa bikin kita ketemu lagi nanti di surganya Allah, Na akan belajar. Tiap hari. Na mau ketemu Ibu lagi. Tapi jujur, Bu… diuji kehilangan Ibu saja sudah berat. Ditambah ujian lain yang datang barengan. Na tau Allah gak akan kasih ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Na tau itu. Tapi Na capek, Bu. Kadang Na cuma pengin dipeluk dan dibilang semuanya bakal baik-baik aja.

Tangisnya pecah, tak lagi ia tahan.

Sejak Ibu tak lagi membuka pintu rumah dengan senyum yang sama, segalanya berubah pelan-pelan. Meja makan terasa terlalu lengang. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya untuk sahur. Tak ada lagi tangan yang menepuk kepalanya sambil berbisik, “Yang sabar ya, Nak.” Tak ada lagi yang diam-diam menyelipkan doa panjang setelah setiap sujudnya. Rumah tetap berdiri seperti biasa, tapi rasanya tak lagi sama. Hangatnya hilang.

Kalau dulu lelah bisa ia rebahkan di pangkuan Ibu, kini ia hanya bisa datang ke sini. Duduk lama di samping pusara, berbicara pada tanah yang memisahkan mereka. Bukan karena ia tak ikhlas. Bukan pula karena ia tak waras. Ia hanya sedang berusaha bertahan, dengan cara yang ia tahu.

Air matanya jatuh satu per satu ke atas tanah yang masih menyimpan namanya.

“Na akan coba untuk selalu kuat, Bu. Pelan-pelan.”

Dan untuk kesekian kalinya, setelah semua yang sesak itu terluah di sisi pusara, hatinya terasa sedikit lebih lapang.

Selesai Tanpa Hadir

Kamis, Februari 19, 2026 0 Comments


Aku menerima kabar itu di pagi yang biasa saja. Tidak ada hujan, tidak ada petir, hanya pesan singkat berisi undangan pernikahan—namamu di sana, berdampingan dengan nama orang lain. Tanganku gemetar bukan karena terkejut, tapi karena aku tahu, ini memang akan terjadi. Aku hanya tidak menyangka, aku harus mengetahuinya dengan cara yang begitu sunyi.

Kita pernah saling berjanji tanpa kata “selamanya”. Cukup dengan tatapan dan rencana-rencana kecil yang kita simpan diam-diam. Aku menunggumu tumbuh, sementara kamu memilih jalan yang lebih pasti. Aku kalah bukan oleh cinta yang habis, melainkan oleh waktu yang tak sabar menungguku siap. Dan sejak hari itu, aku belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti dipilih.

Kini aku belajar berdamai. Mengikhlaskanmu menikah bukan berarti aku lupa, hanya saja aku lelah memeluk kenangan sendirian. Di hari pernikahanmu nanti, mungkin aku tidak datang, tapi doaku akan tetap singgah—bukan agar kamu menyesal, melainkan agar aku benar-benar selesai.

Sabtu, 10 Januari 2026

Senja yang Sama

Sabtu, Januari 10, 2026 0 Comments

 

Tiga tahun yang lalu. Di atap salah satu gedung pencakar langit, kami menikmati indahnya guratan langit senja di ibu kota. "Aku ingin kamu tau, bahwa aku hanya butuh kamu untuk melengkapi hidupku." Kalimat itu mengalir dari lisannya begitu halus, seperti desir angin yang dengan lembut membelai wajah. Setelah obrolan panjang tentang banyak hal, aku heran, kenapa harus kalimat itu yang seolah menjadi penutupnya? 

Aku terdiam, sambil mencari tanda-tanda kepalsuan dari tatap matanya yang begitu dalam. Tapi aku tak menemukan itu. 

"Will you marry me?" Pertanyaan itu terdengar lembut dan penuh pengharapan. Pertanyaan itu, seolah ingin membunuh keraguan yang mungkin bisa ia tangkap dari senyum atau bahkan dari tatap mataku. 

"Kamu gak perlu menjawabnya sekarang kalau kamu butuh waktu untuk .... "

"Ya, aku mau." Ucapku memotong kalimatnya. 

Kali ini, dia yang menatapku dengan ragu. 

"Ya. Aku mau menjadi pendamping hidupmu, seumur hidup." Tegasku memangkas keraguannya. 

Kami saling bertukar senyum, senyum bahagia yang disaksikan oleh langit senja ibu kota. Sejak hari itu, kami seringkali merancang cerita tentang masa depan. Menjalani hari-hari dengan banyak belajar saling memahami. 

Namun kini, aku kembali berdiri di tempat yang sama.  Menikmati semburat jingga yang begitu indah. Sambil membaca ulang undangan pernikahan digital yang dikirimkan salah satu teman kantorku beberapa minggu yang lalu. 

Ada nama serta foto dia yang tertera begitu jelas. Bersanding dengan wanita yang konon adalah pilihan orangtuanya. Jangan tanya bagaimana sakitnya aku melihat kenyataan ini. Tiga tahun kami berjalan merangkai impian bersama, dan tiba-tiba kami dipaksa berpisah sebelum benar-benar saling memikili. 

Kini, setelah berjeda empat bulan semenjak perpisahan itu, aku berdiri di tempat yang sama sambil mencoba tersenyum melihat potret cincin kawin di jari kanan yang ia unggah di laman media sosialnya, meski ada sayatan luka yang tak berdarah, tak terlihat, tak bersuara, namun sangat menyakitkan.

Dan kesakitan ini membuatku belajar, bahwa sebaik apapun rencana manusia pada akhirnya kita hanya akan dihadapkan pada dua pilihan ; belajar bersyukur ketika rencana itu sejalan dengan takdir atau belajar ikhlas dan sabar saat realita tak bersahabat dengan segala rencana.

Rabu, 08 Mei 2024

Dibatalkan

Rabu, Mei 08, 2024 0 Comments

 

Sebuah pesan mengejutkan baru saja ku terima. Kakiku yang sejak tadi sudah terasa begitu lelah dan tak bertenaga semakin lemas rasanya. Tubuhku ambruk seketika di atas sofa yang berada di belakangku. Pikiranku mendadak beku. Tak tahu apa yang harus ku lakukan setelah ini.

“La, tadi orang catering telepon Mama. Untuk konfirmasi lagi soal lauk dan makanan yang akan ada di gubukan nanti.” Ucap Mama yang tanpa babibu duduk di sampingku. Dan aku hanya mampu menjawab satu kata singkat, “ya.” Setelah itu aku beranjak ke kamar dengan langkah yang begitu gontai. Berharap pesan yang tadi ku baca adalah sebuah prank atau mungkin sebuah mimpi buruk di detik-detik menjelang hari pernikahanku.

Dengan kepala yang terasa berdenyut, kembali ku buka sebuah pesan di chat teratas.

Maaf, dek. Dengan sangat terpaksa mas harus katakan ke kamu, Mas gak bisa melanjutkan pernikahan ini. Maaf Mas gak bisa jelaskan alasan detilnya ke kamu saat ini. Segala biaya yang sudah dikeluarkan oleh keluargamu untuck persiapan acara kita, nanti Mas ganti. Sekali lagi Maafkan Mas, Dek. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Kalau kamu ingin tau apa alasannya, nanti kita atur waktu untuk membahas ini, tapi untuk sekarang, tolong jangan cari aku dulu, ya. Dan terakhir, hal yang harus kamu tau, Dek. Meski pernikahan ini harus dibatalkan, Mas masih sayang banget sama kamu.”

Sesaat setelah aku membaca pesan itu, rintik air mataku deras membasahi wajah. Sesak di dada yang sejak tadi memeluk ku lepaskan dengan tangisku yang pecah. Satu minggu lagi, seharusnya menjadi hari berbahagiaku. Segala persiapan bisa dikatakan sudah nyaris sempurna. Namun semua harus dibatalkan begitu saja.

Terimakasih, Mas. Sudah menjadi orang paling hebat mencintaiku, namun kamu juga orang yang paling hebat mencipta luka sedalam ini.

 


Menjamu Madu

Rabu, Mei 08, 2024 0 Comments

Malam ini untuk kesekian kalinya ia memberi kabar pulang terlambat dari kantornya. Aku tahu alasan sesungguhnya mengapa ia akhir-akhir ini terlambat pulang ke rumah. Bahkan tak jarang ia kembali ke rumah saat malam sudah semakin larut. Namun begitu, alasan yang ia berikan masih sama, ada rapat mendadak di kantor, yang tidak bisa aku tinggal. Walau aku tahu ia sedang berbohong, dan selalu mencari-cari alasan, aku hanya tersenyum menerima alasannya. Aku tetap bersikap sebagai istri yang berbakti kepada suami.

Sudah mendekati tahun ke dua sikapnya sedikit berubah, serta pulang larut malam yang semakin sering. Rasanya, aku semakin lelah dengan kepura-puraan ini. Hingga akhirnya aku mendapati waktu yang tepat untuk mengatakan apa yang selama ini aku tahu. Bahwa ada seorang madu di belakangku yang ia sembunyikan. “Temui aku dengan dia, kamu tidak perlu lagi menyembunyikan dia seperti ini. Aku sudah tahu semuanya, Mas.” Aku tahu ia sangat terkejut dengan ucapanku. Tentu ia tidak akan mengira bahwa aku mengetahui kebohongannya selama ini.

Dua hari setelah permintaanku, ia benar-benar membawa wanita itu ke rumah kami. Rumah yang sederhana penuh cinta dan bahagia ketika wanita itu belum memasuki hati suamiku. Tentu saja aku menjamu maduku ini dengan sangat baik. Sebaik dulu saat ia hanya bertamu dengan status sahabat terbaikku.

-------

Naskah yang lolos seleksi dalam event menulis antologi pentigraf pada tahun 2022

Minggu, 03 Maret 2024

Bukan Salah Dunia

Minggu, Maret 03, 2024 1 Comments

 


Sering kali aku berada pada titik tanya, dunia yang terlalu keras atau aku yang terlalu rapuh? Dunia yang terlalu pahit atau aku yang terlalu mendambakan hal-hal manis duniawi? Dunia yang terlalu jahat atau aku yang terlalu manja? Dunia yang terlalu tak bersahabat atau aku yang terlalu beharap tinggi? Ah. Ada apa dengan duniaku?

Semenjak kepergiannya aku seperti orang yang melangkah sambil meraba jalan. Aku tak tahu harus bagaimana. Langkah berikutnya harus ke arah mana. Setelah ini aku harus berbuat apa? Argh!! Aku yang terbiasa dibimbingnya kini limbung tak memiliki pegangan. 

Minggu, 04 Februari 2024

Lucunya Hidup Ini

Minggu, Februari 04, 2024 0 Comments

 


Aku sering kali mendengar kalimat bijak mengatakan, jika kamu ingin dihargai orang, maka, hargailah orang lain. Jika kamu tak ingin dikecewakan, maka jangan lah mengecewakan orang lain. Hidup seolah terlihat sesimpel itu. Seolah pengaturannya ada di tangan kita. Berlandaskan hukum sebab akibat. Namun pada nyatanya hidup tak semulus itu. Banyak sekali kelucuan yang terjadi di luar nalar dan logika.

Sabtu, 27 Januari 2024

Berharap Kau Kembali

Sabtu, Januari 27, 2024 0 Comments

 


Aku memang belum melewati banyak waktu bersamamu. Mungkin terdengar berlebihan jika aku katakan bahwa aku merasa telah banyak mengenalmu. Tapi binar mata, irama suara, bahkan helaan sesakmu, aku telah banyak mendengarnya. Akupun telah melewati masa dimana kau pernah memutuskan untuk melangkah pergi dariku, tidak hanya sekali tapi berulangkali.

Jumat, 29 Desember 2023

Terimakasih 2023

Jumat, Desember 29, 2023 0 Comments

 


Hai, 2023.
Gak kerasa, ya. Kita udah berada di detik-detik perpisahan. Terimakasih, ya... telah menemaniku setahun ini. Telah menjadi saksi atas berlikunya kehidupanku. Bahkan, di lima bulan terakhir sudah banyak air mata yang tumpah dan kau saksikan dalam diam.

Hai, 2023.
Aku tidak pernah mengira, bahwa dirimu akan membawa banyak sekali kejutan dalam perjalanan panjangku. Banyak sekali orang asing yang kau bawa dan perkenalkan kepadaku. Semata-mata untukku banyak belajar dan melakukan perbaikan diri atas apa yang telah terjadi.

Kamis, 28 Desember 2023

Aku Kehilangannya

Kamis, Desember 28, 2023 0 Comments

 


Aku yang telah sangat menyayangi seseorang, yang begitu bahagia di saat ia hadir dan membuka pintu rumahnya untukku ternyamankan dengan caranya, yang selalu tersenyum penuh suka cita di kala sambutan hangatnya memeluk hati, kini harus berjuang untuk tetap berdiri di atas kepingan bahagia yang tersisa, diiringi denting kerinduan tersebab sebuah kehilangan dirinya.

Aku, yang telah menemukan rumah singgah untuk melepas lelah dan mengisi ulang keceriaan, yang telah menemukan ruang untukku berdiam sesaat melukis senyuman, sekarang harus menerima kenyataan bahwa rumah singgahku telah terkunci dan tak lagi dapat menerima kehadiran ku. Tak akan ada lagi tawaku tercipta karenanya. Tak akan ada lagi sedihku tertumpah padanya. Dan aku, kembali kehilangannya.

Senin, 25 Desember 2023

Memilih Pergi

Senin, Desember 25, 2023 0 Comments


Saat kau datang meminang, kebahagianku begitu terasa sempurna. Kita saling berjanji untuk berjuang bersama memperjuangkan ikatan cinta di antara kita. Meskipun sebuah restu menjadi salah satu bagian dari kerikil yang harus kita lalui. Bersamamu aku merasa yakin, apapun bentuk kerikil yang menguji perjalanan panjang ini tentu kita bisa melaluinya.

Namun ternyata keyakinanku tak bertahan lama. Belum genap enampuluh hari, aku melihat dirimu yang tak lagi ku kenal. Langkah kita mulai tak seiring sejalan. Aku mulai tak mengerti bagaimana bentuk sayang dan cinta yang sesungguhnya kau miliki untukku. Tangan kekarmu mulai tak jarang melukai ragaku dengan sengaja. Lebam biru yang membekas menjadi bukti dari hilangnya perlakuan manismu kepadaku. Di saat buah hati kita masih berjuang untuk tumbuh dalam rahimku, kamu belum juga berhenti untuk mencetak memar pada setiap sisi sariraku. Hingga akhirnya kita harus kehilangan buah hati yang bahkan ia pun belum ku lahirkan. Namun semua itu masih bisa ku maafkan.

Sabtu, 23 Desember 2023

Menunggu Kata Maaf

Sabtu, Desember 23, 2023 0 Comments


Tidakkah kau ingat, Tuan? Ketika kau menyebut namanya saja hatiku tergores. Lalu kemarin, dengan tanpa berdosa, kamu dengan nyata menghadirkannya di hadapanku. Dengan wajah bahagia, kau memperkenalkan ia kepada ku. Kau ini kenapa? Sedang menguji sedalam apa cintaku padamu? Sedang mengejek kesetianku?? Atau apa?? Dari hari berganti minggu, aku menunggu dirimu yang dulu kembali lagi. Namun sayangnya, yang kembali ke sisiku hanyalah jiwamu. Sedangkan sebagian dari hatimu, masih terpaut padanya.

Bulan berganti tahun, ketika sikapmu menyatakan bahwa jiwa ragamu telah kau serahkan lagi seluruhnya untukku, aku menyambutmu dengan sangat hangat. Meski cintaku telah hancur, kepercayaanku telah tercerai berai, dan hatiku telah hilang rasa padamu. Mungkin kamu merasakan sedikit perubahan dari sikapku kali ini. Bukankah itu hal yang wajar? Ketika sebuah luka sengaja kau sayat pada hati yang utuh, walau telah kau obati sedemikian rupa, tentu bekasnya masih ada, bukan?

Jumat, 22 Desember 2023

Hilang Rasa

Jumat, Desember 22, 2023 0 Comments


Ratusan bulan bersama kita melangkah. Melewati hari-hari yang penuh tawa juga air mata. Saling menguatkan dan menjaga ikatan suci yang telah kita bina bersama. Semua begitu indah dan ringan ketika kuhadapi bersamamu.
Hingga kemudian, ia yang berasal dari masa lalumu tiba. Mencuri perhatianmu. Merenggut bahagiaku. Menghancurkan kebahagiaan yang selama ini tercipta diantara kita.

Kamu si paling lembut dan memuliakanku, si paling tak mampu menyakitiku secara lahir dan batin, kini menjadi si paling tak ku kenal.

Sabtu, 16 Desember 2023

Surat Untuk Awan

Sabtu, Desember 16, 2023 2 Comments



Hai, Wan. Kamu apa kabar hari ini?

Aku ingin, kamu baik-baik saja, Wan. Walau aku tau hatimu pasti tidak bisa baik-baik saja. Apalagi, setelah aku memutuskan sepihak untuk mengakhiri segala hal tentang kita.

Wan, maaf harus aku katakan, aku tidak bisa kembali lagi bersamamu. Meski berulang kali kamu menyatakan mencintaiku. Berulang kali kamu mencoba mencari dan memintaku untuk tidak pernah pergi darimu. Maaf, aku tidak bisa, Wan.

Aku tau, perpisahan ini tentu menyakitkan untukmu. Tentu ini juga menyesakkan untukku. Namun, aku rasa ini yang terbaik untuk kita. Agar kamu tak semakin sakit, dan agar aku tak semakin dalam melukaimu.

Senin, 04 Desember 2023

Perebut Cinta

Senin, Desember 04, 2023 2 Comments


Aku mengenalmu tanpa direncanakan apalagi dipaksakan. Aku berpikir ini adalah takdir yang telah Tuhan tetapkan atas kita. Sebuah cerita hidup yang telah Tuhan tuliskan bahkan jauh sebelum aku menyapa dunia ini. Aku tak mengira, jika ternyata pertemuan singkat dan salam perkenalan denganmu bisa berlanjut hingga kita semakin dekat seperti saat ini.

Aku tidak benar-benar mengenalmu sebelum ini. Aku hanya tahu, kamu adalah seorang lelaki yang telah memiliki kekasih, dan ingin sekadar berteman denganku. Aku sambut salam pertemanan darimu. Namun aku membangun pembatas tinggi untukmu agar tak semakin mendekat.

Rabu, 04 Oktober 2023

Hanya Menunggu

Rabu, Oktober 04, 2023 0 Comments


"Kapankah temu itu menjadi nyata?"
tanyaku padamu nona manis yang ku puja. Ini adalah pertanyaan kesekian kali, yang mungkin membuatmu merasa sedikit jengah.

Sejak menatap wajahmu untuk pertama kali, meski hanya dalam layar, harus ku akui, kagumku berubah menjadi getar cinta yang tak bisa ku tepiskan.

Tatap matamu, suara merdumu, bahasa pesanmu, seolah mengunci hatiku agar terpaku hanya kepadamu. Desir cinta yang kurasakan tiap kali menatap namamu, membaca barisan pesan darimu, atau bahkan sekadar mendengar suaramu, membuatku ingin menepis jarak yang membentang antara kita.

Aku ingin mendekapmu dalam nyata, bukan dalam hayalan belaka. Berkali pertanyaan soal pertemuan itu kusinggung, dan kamu selalu menjawab,  "sabar ... sebentar lagi, ya. Aku masih belum bisa kalau untuk sekarang." 

Lalu sederet alibi pun akan kamu lontarkan. Menuntut pengertianku, yang terkesan memaksaku untuk tak lagi bertanya soal itu. Aku pun diam dari pertanyaan tentang sebuah pertemuan.

Tenang, Nona ... cintaku kepadamu selalu menang. Hingga tak ada segan untukku menunggu kapan temu itu menjadi kenyataan.

Aku menghitung setiap detiknya. Berharap waktu berpacu sedikit lebih cepat. Hingga kelak mengantarkanku pada temu bersamamu. Aku menunggu dalam kata sabar dan sebentar lagi yang selalu kau janjikan.

Hingga aku tidak tahu lagi, batas sabar tungguku, batas sebentar lagi versi mu berada di detik keberapa, di hari, bulan, bahkan tahun keberapa akan berakhir?

Sampai pada akhirnya ... aku bertemu satu waktu, dimana aku tersadar, bahwa aku selama ini hanya menunggu.

Menunggu dengan sabar yang tak tahu dimana batasnya.

Menunggu di balik kata "sebentar lgai" yang selalu kau gaungkan.

Menunggu dengan harap kosong tentang sebuah pertemuan.

Ya! Aku tersadar ... cintaku sedang dipermainkan. Sabarku sedang tak diindahkan. Tungguku sedang dilecehkan! Selama ini, aku hanya menunggu! 

Menunggu dengan ketidakpastian. Menunggu dengan kehampaan. Menunggu dengan akhir yang disia-siakan!

Hai Nona ... katakan saja jika pertemuan denganku adalah hal yang sangat kau hindari! Agar aku cukup tahu diri dan yakin, bahwa selama ini, yang kulakukan hanyalan percuma. Aku hanya sedang menunggu dan tak akan ada temu.