Selasa, 21 Januari 2025

Dua Mata Air

Selasa, Januari 21, 2025 0 Comments

Aku, sebuah gelas kristal, berdiri di antara dua sumber yang bermuara pada rindu. Yang satu, airnya bening bagai sepi menyusup sunyi, murni tanpa dusta, dingin namun meneduhkan. Yang lain, derasnya gemuruh, menyala bagai api yang menari di dalam cairan membakar namun memeluk. Kedua mata air itu melintas jauh, namun menemukan muaranya padaku.


Air pertama mengisi setengah ruangku dengan kepastian. Rasanya seperti embun yang jatuh pada dedaunan pagi tak pernah bertanya, hanya hadir dan menggenapi. Tapi air kedua, oh, ia adalah badai yang menjelma tetes. Rasanya asing, namun dalam ketidaktahuannya, aku menjadi candu.


Kini tubuhku penuh, dua rasa saling bertaut, bertabrak, tetapi tak menyatu. Aku gelas yang rapuh, terancam retak oleh berat paradoks ini. Kadang aku merasa ada retakan halus di pinggirku, sebuah peringatan bahwa cinta yang membelah tidak pernah berakhir tanpa luka.


Tetapi, apakah salah mencintai dua rasa yang tak sama? Yang satu memberiku kedamaian, yang lain memberiku hidup. Aku tidak memilih untuk menjadi gelas di antara mereka; aku hanya menjadi wadah bagi keberadaan mereka.


Mungkin suatu hari salah satu akan mengering, dan aku, gelas ini, akan lebih ringan. Atau mungkin aku akan pecah, dan dua air itu akan kembali ke asalnya, membawa sebagian kecil diriku dalam setiap alirannya.


Namun, sebelum saat itu tiba, aku hanya ingin meneguk keberadaan ini. Aku ingin menjadi saksi bahwa tidak semua yang berbeda harus saling menghapus. Kadang, mereka hanya butuh ruang untuk mengisi, meski hanya untuk sesaat.

~~Created By: Opet~~

Kamis, 09 Januari 2025

Lelucon Kehidupan

Kamis, Januari 09, 2025 0 Comments


Kenapa kehidupan ini bercandanya sering banget keterlaluan? Misalnya, mengirimkan sepaket rindu padahal belum pernah ada temu. Menghadirkan rasa kasih sayang penuh cinta, padahal cerita tentang kebersamaannya baru ada di awal kisah. Atau, melahirkan rasa takut kehilangan, padahal memilikinya aja, belum.

Kenapa lelucon kehidupan ini sering kali menghadirkan tawa dibalik tangis menahan perih yang begitu menggigit? Dan kenapa kamu harus hadir menjadi bagian dari candanya kehidupan yang bagiku sama sekali tidak lucu!

Kali ini, bolehkah aku mencaci sang waktu? Yang telah membawa mu masuk terlalu dalam dan jauh di hidupku. Yang tanpa lelah membuatku untuk terus mengenal dan belajar perihal dirimu.

Kali ini, bolehkah ku teriakan amarah pada sang waktu? yang telah begitu kejam menghadirkan mu dalam detak nadi kehidupanku. Entah untuk sebuah kabar bahagia, ataukah justru menjadi duka yang begitu nestapa nantinya.

Mungkin bagimu, aku adalah seseorang yang begitu berarti dan selalu kau inginkan ada dalam setiap cerita kehidupanmu saat ini, bahkan hingga kelak di masa depanmu. Sepenting itu aku bagimu. Begitu menurut pengakuanmu, bukan?

Ketika saat itu kau bertanya, sepenting apa kamu dalam hidupku, maka jawabannya adalah cukup kau lihat sebahagia apa aku saat bersamamu. Bagaimana aku bisa menjadi diriku sendiri di kala aku berada di dekatmu. Bagaimana aku membiarkanmu melihat aku dari berbagai sisi yang tak semua orang memiliki keberuntungan sepertimu. Bahkan di saat banyak orang memandangku sebagai manusia yang memiliki sedikit cacat keburukan, justru kamu yang paling tahu sekacau apa aku sebenarnya.

Meski kau menjadi salah satu orang yang beruntung untuk bisa melihatku dari berbagai sisi yang kau mau, menyedihkannya, kau hanyalah bagian dari impian yang tak akan pernah bisa ku wujudkan menjadi nyata. Namamu hanya akan berhenti pada catatan impian seorang aku yang tak mampu ku gapai. Kamu adalah tawa yang ku dambakan di antara kesedihanku. Kau adalah kisah yang ingin aku tulis ulang dengan akhir bahagia.

Namun, hidup tak selalu memberi pilihan. Kau adalah candaan waktu yang paling aku percayai. Aku tahu, sebagaimana semua candaan, ini hanya selingan sebelum segalanya menjadi nyata—nyata bahwa kita tak pernah benar-benar saling memiliki.

Meski kamu dekat, tapi kamu tak akan pernah bisa untuk ku dekap. Meski kita memiliki satu rasa yang sama, tapi kita tidak akan pernah bertemu pada satu kata hidup bersama. Dan Meski begitu tinggi harapan untuk bisa saling memiliki, pada nyatanya cerita kita hanya akan selalu tersimpan dalam hati.

Kelak, jika perpisahan menjadi pengiring kisah ini, aku harap kita bisa melewatinya tanpa ada sesal. Jika tawa adalah ujung dari tangis, maka biarlah kisah kita berakhir dengan senyum—meski tak lagi bersama. Karena bagiku, candaan kehidupan ini mungkin saja penuh luka, tapi hadirmu adalah satu lelucon yang selalu mencipta bahagia.

Maka, belajarlah menertawakan sebuah kata perpisahan. Ketika kamu atau aku harus bertemu dengan keadaan itu, kita bisa bersahabat dengan tawa, bukan dengan air mata.

Karena memang, candaan kehidupan ini sering kali di luar dugaan bukan?

 ~~~~~

sound