Jumat, 24 April 2026

Yang Tak Pernah Ikut Pergi


Langkah ini sudah terlalu jauh.
Jarak yang terbentang bahkan tak lagi ingin kuhitung.

Namanya—perlahan ingin kuhapus.
Dari ingatan. Dari kenangan.

Tapi ternyata, menghapus seseorang tak pernah sesederhana keinginan.

Hati ini berkali-kali mencoba lupa,
namun tak pernah benar-benar berhasil menuntaskan itu.
Selalu saja ada hal kecil yang datang tiba-tiba—
sebuah kejadian, sepotong kenangan,
atau bahkan suara yang entah dari mana…
yang diam-diam mengantarkan rindu kembali kepadanya.

Logika sering berkata,
ia hanyalah luka yang tak pantas lagi dikenang sebagai keindahan.

Tapi hati…
selalu saja menyebut namanya perlahan,
di sela doa dan pengharapan.

Logika menuntutku untuk membencinya.
Hati justru membisikkan—
ia hanya manusia biasa yang pernah khilaf.

Logika meyakinkan bahwa ia telah benar-benar pergi.
Tak lagi melihat, tak lagi mengingat.

Namun hati, sesekali masih percaya—
bahwa mungkin… ia tak pernah benar-benar melepaskan.

Dan sejauh apa pun aku melangkah menjauh darinya,
nyatanya… ada yang tak pernah ikut pergi.

Kenangan—
dan rindu yang datang tanpa permisi,
masih setia menyebut namanya di dalam diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar