Aku tak pernah memanggil namanya untuk kembali. Tidak untuk mengisi perjalanan hidupku, atau sekadar singgah dalam kenangan.
Namun entah bagaimana,segala tentangnya selalu menemukan jalan—
berputar, hidup, atau mungkin… menetap diam di dalam ingatan.
Aku tak pernah menghalangi apa pun yang menjadi keputusannya.
Aku belajar menghargai setiap langkah yang ia pilih, meski di dalam hati, ada firasat yang tak pernah benar-benar ingin kupercaya.
Aku bukan peramal. Bukan pula seseorang yang mampu membaca masa depan. Tapi aku mengenalnya. Aku membaca karakternya. Aku membaca setiap inginnya. Aku tahu apa yang ia butuhkan. Hingga akhirnya aku melihat… siapa yang ia pilih.
Aku tidak mengatakan bahwa aku adalah yang terbaik. Aku tidak mengatakn bahwa aku sempurna. Namun jika aku selalu dijadikan pembanding, maka mungkin… aku memang tak pernah berada di tempat yang seharusnya.
Ia akhirnya memilih— mungkin di waktu yang tak tepat, di saat pikirannya tak sepenuhnya utuh. Di saat hatinya tidak benar-benar ingin memilih yang lain.
Dan aku… hanya bisa memahami dari jauh.
Aku tak berharap firasat itu menjadi nyata.
Karena yang kuinginkan sederhana—
ia bahagia.
Dengan pilihannya.
Dengan jalannya.
Sebab entah sejak kapan,
bahagianya… menjadi satu-satunya cara agar aku bisa merasa tenang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar