Rabu, 04 Maret 2026

Ibu dan Lorong Rumah Sakit

Rabu, Maret 04, 2026 0 Comments


“Kif, pulang, Nak.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di telinga Akif, itu selalu terasa lebih berat dari sekadar ajakan. Sudah ketiga kalinya bulan ini Ibu mengucapkannya. Akif menghela napas panjang sebelum menjawab.

“Sebenarnya ada apa, Bu?” Di seberang sana, suara Ibu terdengar pelan.
“Kamu tidak rindu Ramadhan kumpul sama Bapak dan Ibu?”

Akif terdiam.

Bagaimana mungkin ia tidak rindu? Sejak merantau ke negeri orang, Ramadhan di rumah selalu menjadi bayangan yang ia simpan paling lama sebelum tidur—suara Bapak yang membangunkannya sahur, Ibu yang menyiapkan teh hangat, meja makan kecil yang selalu terasa cukup. Namun rindu tidak selalu bisa mengalahkan keadaan.

Ia menunda. Lagi. Menghitung hari, menimbang cuti, meyakinkan diri bahwa Ramadhan masih panjang. Sampai suatu sore, ponsel ny berdering, tapi bukan suara Ibu yang ia terima saat panggilan itu dijawab. 

“Mas, ini tetangga sebelah rumah. Bapak masuk rumah sakit, Mas. Sekarang di ICU.”

Dunia Akif terasa mengecil dalam satu detik.

Ia pulang bukan dengan rencana, melainkan dengan panik yang menyesakkan.

Lorong rumah sakit itu panjang dan terlalu putih. Bau obat-obatan menempel di udara. Lampu-lampunya terang, tapi tidak menghangatkan apa pun.

Dan di ujung lorong, Akif melihat Ibu.

Duduk sendiri. Mukanya pucat. Tangannya menggenggam ujung jilbab seperti sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh. Untuk pertama kalinya, Akif melihat ketakutan yang tak pernah Ibu tunjukkan lewat suaranya saat telepon. Maupun lewat rut wajahnya yang teduh. Ia ingin memeluknya. Ingin berkata, “Maaf karena tak segera pulang.”

Tapi kata-kata terasa terlalu kecil dibanding hari-hari yang Ibu lewati sendirian di kursi itu.

Dari balik kaca ICU, tubuh Bapak terbaring tanpa suara.

Ramadhan belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya, Akif menyadari—yang paling berat bukan kehilangan. Melainkan membiarkan Ibu menghadapi kemungkinan itu sendirian.

Dan di lorong itu, di antara suara mesin dan doa yang tak putus-putus, Akif akhirnya mengerti kenapa Ibu terus memintanya pulang. Bukan karena rindu semata. Bukan hanya momen Ramadhan yang terasa lebih sepi.

Tapi karena ada takut yang tak sanggup Ibu ucapkan.

 

Senin, 02 Maret 2026

Rumah yang Tak Lagi Memilihnya

Senin, Maret 02, 2026 0 Comments

Adzan maghrib berkumandang, memantul di dinding rumah yang kini terasa terlalu lapang.

Faris duduk sendiri di meja makan. Gelas air di hadapannya tak tersentuh. Dulu, setiap Ramadhan, ia harus menahan tangan kecil anaknya yang tak sabar ingin berbuka. Dulu, ada suara istrinya dari dapur—lelah, tapi hangat—lalu duduk di sampingnya sambil tersenyum.

Kini, kursi itu kosong.

Ia tak pernah menyangka rumahnya bisa berubah hanya karena satu orang asing.

Seorang janda yang awalnya hanya sering datang, sering bercerita, sering mengeluh tentang hidupnya. Entah sejak kapan, kehadirannya membuat istrinya berubah. Perempuan yang dulu mendengarnya dengan tenang, mulai lebih sering membantah. Pendapat Faris terasa seperti serangan. Kekhawatirannya dianggap prasangka.

Percakapan mereka tak lagi mencari jalan keluar, hanya mencari siapa yang paling benar.

Suatu hari, tanpa banyak suara, istrinya memilih pergi. Membawa anak mereka. Tanpa tangis panjang. Tanpa pertengkaran terakhir. Hanya keputusan yang dingin.

Ramadhan ini menjadi yang paling sunyi.

Tak ada yang membangunkannya sahur.
Tak ada yang mencium tangannya seusai salat.
Tak ada suara kecil yang memanggilnya Ayah dari ujung rumah.

Faris bukan lelaki yang sempurna. Tapi ia tak pernah membayangkan kehilangan rumahnya dengan cara seperti ini—bukan karena orang ketiga yang ia cari, melainkan karena orang ketiga yang tak pernah ia undang.

Malam itu, selepas tarawih yang ia jalani sendirian, ia duduk lama di ruang tamu.

Foto keluarganya masih tergantung di dinding.

Ia menatapnya tanpa marah. Tanpa air mata.

Hanya ada ruang kosong yang perlahan melebar di dadanya.

Dan sejak mereka pergi, satu hal itu terus berputar di kepalanya—

Bagaimana mungkin Ramadhan, yang seharusnya mendekatkan hati, justru membuatnya tak lagi dipilih di rumahnya send