Sabtu, 27 Juni 2026

Tak Pernah Pergi

Bima baru saja meletakkan pulpennya di atas kertas yang baru saja ia coret dengan nada-nada baru yang ia ciptakan. Sekali lagi matanya melirik kalender yang berada di depannya.

Tanggal yang sama. Bulan yang sama. Sudah setahun,La.Rasanya masih sama. Seperti baru kemarin.

Bima tersenyum getir. Bayangan seorang perempuan yang pernah menjadi rumahnya yang begitu utuh, kembali menari di pelupuk matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap inci kamarnya.

Kamar ini, masih sama. Masih ada bayangan kamu. Masih ada suara kamu, masih ada cerita tentang kamu.

Tatapan Bima berhenti pada gaun pengantin yang terbungkus rapih dan ia biarkan menggantung dalam lemari kaca khusus baju-baju penting miliknya.

Bima beranjak. Membuka pintu lemari. Mengambil gaun itu.

Memeluk dan mencium gaun itu begitu dalam seolah si pemilik gaun sedang memakainya.

Nala, aku kangen banget sama kamu. Lirih Bima diiringi air matanya yang jatuh satu persatu ke gaun yang berada dalam pelukannya.

Setiap kali memeluk gaun itu, Bima membayangkan ia sedang memeluk Nala. Seseorang yang bukan hanya pernah berperan sebagai istri untuk Bima, tapi juga pernah menjadi rumah ternyaman dan teraman ketika Bima sedang merasa begitu jatuh.

Bima memejamkan mata. Membiarkan bau melati yang tersisa pada gaun itu membawanya pulang setahun kebelakang.

Setahun yang lalu, rumah itu masih berisik. Di bulan-bulan pertama pernikahannya, Nala pernah menggerutu kepada Bima hanya karena Bima tidak ingin mencuci piring. Sampai akhirnya, untuk membuang rasa kesalnya, Nala menuliskan post-it dan menempelkannya di pintu kulkas. dengan tulisannya yang miring Nala menuliskan : Wahai Bima Mahesa, bagian kamu cuci piring. Bagian aku memasak.”

“Kenapa sih harus di taro di pintu kulkas gitu notes-nya?” protes Bima.

“Biar kamu gak bisa lagi bilang ‘maaf sayang, aku lupa’” jawab Nala mengikuti gaya Bima ketika sedang mengeluarkan alasan andalannya.

Bima menahan tawa. Dan Nala merasa menang.

Setiap kali ada undangan untuk manggung di café-café, Nala tidakpernah absen untuk mendampingi Bima. Dia akan menjadi penonton paling depan yang memberikan dukungan untuk Bima dengan senyuman manisnya yang tulus penuh rasa bangga. Bahkan Nala seringkali meminta Bima untuk membuatkan satu lagu khusus tentang dirinya, dan selalu dijawab Bima dengan kalimat, “Iya, nanti aku bikin kalau moodnya oke.” Jawaban itu berhasil membuat Nala cemberut, dan Bima menahan tawa.

Nala tak pernah tahu, bahwa diam-diam Bima sedang menuliskan lagu untuknya.

Di usia pernikahan mereka yang ke-18 bulan, kamar ini begitu hening. Nala duduk di lantai. Bersandar pada tempat tidur. Memeluk lutut. Hasil USG di tangannya terlipat. Pundaknya masih sedikit berguncang.

“Dia tidak berkembang, Bi. Dia gugur, Bi. Maaf. Aku gagal menjaganya.” Bisik Nala begitu lirih.

Bima menelan ludah. Ia ikut merasakan sakit. Gitarnya ia sandarkan ke tembok. Malam itu Bima tidak main gitar bersama Nala seperti malam-malam sebelumnya. Bima juga tidak melanjutkan untuk menciptakan lirik-lirik indah. Ia hanya memeluk Nala sampai tenang. Sampai Nala bisa tertidur dalam peluknya.

Bulan ke-22. Tepat seminggu sebelum tanggal ini. Nala menunjuk tembok dapur yang sedikit retak dan sudah terlihat kotor.

“Tahun depan kita renov ya, Bi. Kita cat warna krem. Biar kayak rumah Ibu.” Pinta Nala sambil tersenyum membayangkan area dapur semakin cantik.

Bima mengangguk tak membantah sedikitpun. Ia sudah membayangkan suara Nala yang banyak mengatur agar kerjaan Bima tertata rapih.

Tapi … tahun depan itu tidak pernah datang. Tidak akan pernah datang.

Bima membuka mata. Gaun di pelukannya sudah basah. Kamar ini pun terasa lebih hening dan menyakitkan.

Setahun lalu, di kamar yang sama, di tanggal yang sama. Saat Bima membuka mata, ia mendapati Nala yang tak lagi bersuara saat ia membangunkannya. Ia mendapati Nala yang sudah sangat pucat. Dingin. Satu tangan berada di atas dada Bima.

“La … bangun. Jangan bikin aku takut, La.” Getar suara Bima saat itu membangunkan Nala.

Berkali-kali Bima mencari detak nadi Nala. Tapi tak ketemu. Bima mencoba mencari suara detak jantung Nala, tapi tak lagi terdengar.

Bima memanggil dokter keluarga untuk memastikan bahwa ia salah. Tapi jawaban dokter justru meyakinkannya bahwa Nala tidak akan pernah bangun lagi.Pagi itu, menjadi pagi yang mencipta luka yang tak pernah reda untuk Bima.

Sudah setahun berlalu, tapi Bima tak pernah benar-benar bisa melepaskan Nala dari pikirannya. Dari hatinya. Lagu-lagu yang pernah ia ciptakan hanya menjadi kenangan yang mengabadikan nama Nala dalam musik ciptaannya.

Gaun dalam pelukannya ia letakkan di atas tempat tidur. Bima mengambil gitar. Memainkan satu persatu lagu-lagunya yang ia ciptakan untuk Nala. Hingga kemudian senar G-nya putus. Melukai jarinya.

Bima tersenyum melihat darah yang menetes dari jarinya.

Luka ini gak seberapa dibandingkan setahun lalu, La. Saat aku bangun, kamu hanya memeluk aku tanpa kata-kata.

Bima sadar, luka dijarinya tidak sembuh malam itu. Ia hanya berhenti berdarah.

Dan Bima akhirnya mengerti, bahwa Nala memang pergi. Tapi tak pernah benar pergi. Bima juga tak memilih untuk mengusir Nala dari ingatannya. Meski ia tahu, ia sakit.

 

~~~~~•••~~~~~

Soundtrack cerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar