Aku masih di sini. Memandang bayangmu dari kejauhan. Sesekali, aku membayangkan kau melakukan hal yang sama—menatap ke arahku, diam-diam menyimpan rindu yang tak pernah kau ucapkan. Walau aku tau, rasanya, menghadapi hal itu
sangatlah menyiksa. Dan hati kecilku tak ingin kau merasakan siksaan yang sama
dengan apa yang aku rasakan. Biarlah, malam selalu menjadi saksi bisu atas rasa
sakit yang ku pendam dalam diam sembari menatapmu dari kejauhan.
Aku masih di sini. Menatapmu dari kejauhan. Berharap mampu
ku tatap lebih jelas segaris senyuman indahmu. Mendengar renyah tawamu. Dan aku
tau, harapanku tak lebih selayaknya aku memeluk angina.
Aku masih di sini. Bukan aku tak ingin mendekat. Bukan pula
aku membenci. Aku hanya sedang membiarkan jarak memainkan perannya. Berdiam di
titik ini, dengan segala kelumit perasaan yang menyesakkan, aku rasa adalah
cara terbaikku untuk melindungimu, dan cara aku untuk menghargai dan
mengaminkan ucapanmu.
Jika kau ingin tahu seberapa banyak rindu yang kuredam dalam diam, tanyakanlah pada langit malam. Ia tahu berapa banyak doa yang kukirimkan dengan namamu yang masih terselip di dalamnya.
Aku masih di sini. Belajar untuk tak lagi menunggumu. Belajar
melepaskan rindu dengan rapalan do`a. Karena ku tau, pintu yang biasa kau datangi
telah tertutup rapat dan tak akan kembali terbuka menyambutmu. Mungkin akan
berbeda ketika kau datang dengan wajah dan nama yang baru. Menyapaku tanpa harus ku tau bahwa yang sedang berada di hadapanku adalah kamu.
Tapi, tak apa. Aku masih di sini. Cukup menatap bayangmu
dari kejauhan. Tak lagi menunggumu. Tak lagi berharap apapun tentangmu selain,
kamu bahagia bersama orang-orang yang mencintaimu, dan kamu pun mencintai
mereka.
Do`aku masih sama. Seperti apa yang pernah kau rapalkan
dihadapanku, “semoga Tuhan mengabulkan segala permohonan mu seperti DIA
mengabulkan segala permohonanku.”
Teruslah berbahagia penuh cinta.
Dan jika suatu hari nanti semesta kembali mempertemukan jalan kita, aku berharap saat itu aku telah benar-benar baik-baik saja.
Sebab hingga hari ini, aku masih di sini—di tempat yang sama, dengan doa yang sama, hanya tanpa penantian yang dulu pernah ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar