Dalam sepi, aku pernah memanggil namamu dengan lirih. Bercerita kepada angin, seolah aku sedang bercerita kepadamu.
Aku tahu, sapaanku, ceritaku, dan segala keluh kesahku tak akan lagi berbalas oleh suaramu. Namun entah mengapa, gema suaramu yang tersimpan dalam memori masih mampu membuatku merasa begitu dekat denganmu.
Aku tak pernah benar-benar tahu di mana kamu sekarang. Bagaimana kabarmu. Sedang sibuk mengejar impian yang seperti apa. Atau bahkan, apakah namaku masih tersisa dalam ingatanmu.
Yang aku tahu, rinduku kepadamu sering kali tak tahu malu. Ia datang tanpa permisi. Menetap tanpa belas kasihan. Dan menolak diam meski berkali-kali aku memintanya untuk tenang.
Kesendirian sering membuatku kembali menyebut namamu dalam hati. Perlahan. Hati-hati. Seolah ada bagian dari diriku yang masih berharap suaraku sampai pada detak nadimu. Membawa kabar bahwa di tempat yang jauh dari jangkauanmu, masih ada seseorang yang sesekali merindukanmu dalam diam.
Setiap kali mengenangmu, aku selalu berpacu dengan diriku sendiri. Antara membuka kembali pintu yang telah lama kututup, atau tetap melangkah menjauh meski hati belum sepenuhnya setuju.
Dan pada akhirnya, aku selalu memilih diam.
Bukan karena rinduku telah usai.
Bukan karena namamu telah hilang dari ingatan.
Melainkan karena aku tak ingin menjadi alasan lahirnya luka pada hati yang tulus setia mendampingi.
Maka aku memilih diam.
Meski rinduku terlalu bising menyuarakan namamu.
Meski kenangan tentangmu masih sesekali mengetuk tanpa permisi.
Meski pada beberapa malam yang panjang, aku masih tanpa sengaja menemukanmu dalam doa-doaku.
Dan jika suatu hari namamu kembali terdengar oleh langit melalui doa yang kupanjatkan, biarlah itu menjadi bahasa rindu yang terakhir kuizinkan hidup.
Sebab ada perasaan yang memang tidak ditakdirkan untuk kembali diperjuangkan.
Hanya untuk diterima, disimpan baik-baik, lalu dilepaskan perlahan bersama doa-doa yang tak pernah meminta balasan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar