Sabtu, 25 April 2026

Bahagianya Adalah Tenangku

Sabtu, April 25, 2026 0 Comments


Aku tak pernah memanggil namanya untuk kembali. Tidak untuk mengisi perjalanan hidupku, atau sekadar singgah dalam kenangan.

Namun entah bagaimana,segala tentangnya selalu menemukan jalan—
berputar, hidup, atau mungkin… menetap diam di dalam ingatan.

Aku tak pernah menghalangi apa pun yang menjadi keputusannya.
Aku belajar menghargai setiap langkah yang ia pilih, meski di dalam hati, ada firasat yang tak pernah benar-benar ingin kupercaya.

Aku bukan peramal. Bukan pula seseorang yang mampu membaca masa depan. Tapi aku mengenalnya. Aku membaca karakternya. Aku membaca setiap inginnya.  Aku tahu apa yang ia butuhkan. Hingga akhirnya aku melihat… siapa yang ia pilih.

Aku tidak mengatakan bahwa aku adalah yang terbaik. Aku tidak mengatakn bahwa aku sempurna. Namun jika aku selalu dijadikan pembanding, maka mungkin… aku memang tak pernah berada di tempat yang seharusnya.

Ia akhirnya memilih— mungkin di waktu yang tak tepat, di saat pikirannya tak sepenuhnya utuh. Di saat hatinya tidak benar-benar ingin memilih yang lain.

Dan aku… hanya bisa memahami dari jauh.

Aku tak berharap firasat itu menjadi nyata.

Karena yang kuinginkan sederhana—
ia bahagia.

Dengan pilihannya.
Dengan jalannya.

Sebab entah sejak kapan,
bahagianya… menjadi satu-satunya cara agar aku bisa merasa tenang.

Jumat, 24 April 2026

Yang Tak Pernah Ikut Pergi

Jumat, April 24, 2026 0 Comments


Langkah ini sudah terlalu jauh.
Jarak yang terbentang bahkan tak lagi ingin kuhitung.

Namanya—perlahan ingin kuhapus.
Dari ingatan. Dari kenangan.

Tapi ternyata, menghapus seseorang tak pernah sesederhana keinginan.

Hati ini berkali-kali mencoba lupa,
namun tak pernah benar-benar berhasil menuntaskan itu.
Selalu saja ada hal kecil yang datang tiba-tiba—
sebuah kejadian, sepotong kenangan,
atau bahkan suara yang entah dari mana…
yang diam-diam mengantarkan rindu kembali kepadanya.

Logika sering berkata,
ia hanyalah luka yang tak pantas lagi dikenang sebagai keindahan.

Tapi hati…
selalu saja menyebut namanya perlahan,
di sela doa dan pengharapan.

Logika menuntutku untuk membencinya.
Hati justru membisikkan—
ia hanya manusia biasa yang pernah khilaf.

Logika meyakinkan bahwa ia telah benar-benar pergi.
Tak lagi melihat, tak lagi mengingat.

Namun hati, sesekali masih percaya—
bahwa mungkin… ia tak pernah benar-benar melepaskan.

Dan sejauh apa pun aku melangkah menjauh darinya,
nyatanya… ada yang tak pernah ikut pergi.

Kenangan—
dan rindu yang datang tanpa permisi,
masih setia menyebut namanya di dalam diam.

Jumat, 17 April 2026

Ruang yang Tetap Ia Sisakan

Jumat, April 17, 2026 0 Comments

Setiap kali gema takbir berkumandang, yang datang bukan hanya kemenangan—melainkan sepi yang tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu membawa kembali satu wajah. 

Satu suara.

Satu rumah yang dulu penuh.

Entah sudah hari raya ke berapa yang harus ia lewati tanpa kehadirannya. Namun ia tetap tersenyum. Menyapa orang-orang. Terlihat baik-baik saja, seperti yang diharapkan. Padahal di dalam, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai—air mata yang selalu menemukan jalannya sendiri.

Ia rindu dipeluk seperti dulu. Rindu mendengar suara yang sederhana, “Tolong siapkan ketupat, ya. Yang ada sayur pepayanya… sama semur daging.”

Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ia jangkau.

Banyak sekali yang ingin ia ulang. Banyak sekali yang ingin ia minta kembali. Tapi ia tahu—itu sama saja seperti berharap matahari terbit di tengah malam.

Pagi itu, ia tetap bangun lebih awal. Dapur kembali hidup, meski tak lagi seramai dulu. Ia memasak seperti biasanya. Mengiris, merebus, menunggu. Gerakannya hafal. Tangannya bekerja seperti mengingat sesuatu yang tak ingin dilupakan. Di meja makan, ia menata semuanya dengan rapi.

Ketupat.
Sayur pepaya.
Semur daging.

Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Langkah orang-orang mulai terdengar di luar. Suara salam bersahutan. Tawa kecil mengisi rumah.
Ia membalas dengan senyum yang sama—rapi, cukup, tak berlebihan.

Tak ada yang benar-benar bertanya.

Tak ada yang benar-benar tinggal.

Menjelang siang, rumah itu kembali sepi.

Ia duduk sendiri di depan meja makan.

Piring-piring mulai dingin.
Kuah tak lagi mengepul.

Ia menarik napas pelan.

Tangannya meraih satu piring, lalu berhenti di tengah gerakan.
Matanya menatap kosong, seolah ada sesuatu yang ingin ia tunggu—meski ia tahu, tak akan ada yang datang.

Akhirnya, ia tersenyum kecil.

Bukan karena semuanya baik-baik saja.
Tapi karena ia mulai mengerti… bahwa beberapa kehilangan memang tidak pernah benar-benar pergi.

Di luar, gema takbir masih terdengar. Dan untuk kesekian kalinya, ia merayakan hari raya— dengan satu ruang di hatinya yang tetap ia sisakan untuknya.