Jumat, 17 April 2026

Ruang yang Tetap Ia Sisakan

Setiap kali gema takbir berkumandang, yang datang bukan hanya kemenangan—melainkan sepi yang tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu membawa kembali satu wajah. 

Satu suara.

Satu rumah yang dulu penuh.

Entah sudah hari raya ke berapa yang harus ia lewati tanpa kehadirannya. Namun ia tetap tersenyum. Menyapa orang-orang. Terlihat baik-baik saja, seperti yang diharapkan. Padahal di dalam, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai—air mata yang selalu menemukan jalannya sendiri.

Ia rindu dipeluk seperti dulu. Rindu mendengar suara yang sederhana, “Tolong siapkan ketupat, ya. Yang ada sayur pepayanya… sama semur daging.”

Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ia jangkau.

Banyak sekali yang ingin ia ulang. Banyak sekali yang ingin ia minta kembali. Tapi ia tahu—itu sama saja seperti berharap matahari terbit di tengah malam.

Pagi itu, ia tetap bangun lebih awal. Dapur kembali hidup, meski tak lagi seramai dulu. Ia memasak seperti biasanya. Mengiris, merebus, menunggu. Gerakannya hafal. Tangannya bekerja seperti mengingat sesuatu yang tak ingin dilupakan. Di meja makan, ia menata semuanya dengan rapi.

Ketupat.
Sayur pepaya.
Semur daging.

Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Langkah orang-orang mulai terdengar di luar. Suara salam bersahutan. Tawa kecil mengisi rumah.
Ia membalas dengan senyum yang sama—rapi, cukup, tak berlebihan.

Tak ada yang benar-benar bertanya.

Tak ada yang benar-benar tinggal.

Menjelang siang, rumah itu kembali sepi.

Ia duduk sendiri di depan meja makan.

Piring-piring mulai dingin.
Kuah tak lagi mengepul.

Ia menarik napas pelan.

Tangannya meraih satu piring, lalu berhenti di tengah gerakan.
Matanya menatap kosong, seolah ada sesuatu yang ingin ia tunggu—meski ia tahu, tak akan ada yang datang.

Akhirnya, ia tersenyum kecil.

Bukan karena semuanya baik-baik saja.
Tapi karena ia mulai mengerti… bahwa beberapa kehilangan memang tidak pernah benar-benar pergi.

Di luar, gema takbir masih terdengar. Dan untuk kesekian kalinya, ia merayakan hari raya— dengan satu ruang di hatinya yang tetap ia sisakan untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar