Pelukan Untuk Reiga
Sudah
tujuh belas tahun aku menjadi guru.
Aku
pernah menghadapi kelas yang ramai, murid yang sulit diatur, sampai anak-anak
yang enggan belajar. Tapi sore itu, di sebuah ruang kecil bernama TPQ Ulil
Albab, seorang anak mengajarkanku sesuatu yang belum pernah kupelajari
sebelumnya.
Namanya
Reiga. Anak spesial yang Allah titipkan untuk aku bersamai proses belajar
membaca Iqro`nya. Dia anak speechdelay. Berusia 4 tahun. Setiap sore, dia
datang dengan senyum yang sama. Senyum yang membuatku tahu bahwa ia benar-benar
bahagia datang ke TPQ. Semangat belajarnya selalu luar biasa. Saat aku
menyapanya, ia melambaikan tangan sambil berkata, "Hai...", lalu
berlari kecil memelukku.
Dalam
dua belas hari belajar, Reiga sudah mampu mengenal huruf hijaiyah hingga huruf
Jim. Bagiku, itu adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Bagiku, itu adalah
sebuah kemajuan yang sangat berharga. Aku tidak meminta ia membaca layaknya
anak-anak yang lain. Aku selalu memintanya untuk menunjukkan kepadaku, dimana
letak huruf Alif, Ba, Ta, Tsa, dan Ja. Dan Reiga selalu berhasil menunjukkan
dengan tepat huruf-huruf yang aku minta untuk di tunjukkan.
Sore
itu, semua berjalan seperti biasa. Kelas yang ramai. Anak-anak yang bersemangat.
Sampai akhirnya, tiba waktu untuk pulang. Rutinitas setiap kali anak-anak mau
pulang adalah, aku berdiri dengan dengkulku, sehingga tinggiku dengan anak-anak
hampir sama, mereka mencium tanganku, dan aku membalasnya ditambah pelukan
singkat sebelum mereka keluar kelas. Tapi untuk Reiga, tidak. Dia jarang sekali
mencium tanganku. Tiap ingin meninggalkan kelas, Reiga akan menghabmbur ke
pelukanku dan memelukku begitu erat.
Tapi
sore itu, aku tidak melakukannya. Aku tidak sadar kalau sore itu ada satu
rutinitas kecil yang terlewat. Karena aku harus menggendong anak yang down syndrome,
anak itu badannya agak panas. Sehingga aku tidak bisa memeluk anak-anak seperti
biasanya. Dan Reiga, tidak salim, tidak juga memelukku. Dia keluar kelas sambil
menahan tangis. Saat ibunya datang menjemput, dia menangis sejadi-jadinya.
Ibunya ku tanya pun bingung sebab yang membuat Reiga seperti itu.
Saat
aku mendekatinya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Tangisnya bukan seperti
anak yang ingin jajan, bukan pula karena berebut mainan. Ada kesedihan yang
seolah ingin ia sampaikan, meski tanpa banyak kata.
“Abang
Reiga marah ya sama Ambu?” tanyaku sambil mengusap pundaknya. Dia menjawab
dengan membuang muka.
“Abang
Reiga sedih ya Ambu gak peluk Abang tadi?” dia memutar badannya dan kembali
menangis.
Aku memeluknya dari belakang, sambil aku katakana “Maafin Ambu ya, Bang. Abang
sedih ya gak dipeluk Ambu hari ini?” dia menjawab dengnan tangisan. Sesekali waktu
dia mengusap air matanya. Dia masih membelakangi ku. “Maafin Ambu ya, Abang. Sini
Ambu peluk.” Dia memutar badannya dan mau aku peluk.
“Abang
sedih ya, belum dapat pelukan ambu?” dia menjawab dengan anggukan.
“Abang
rindu dipeluk Ambu ya?” dia pun mengangguk lagi sambil menangis.
“Sekali
lagi ambu minta maaf ya. Ambu dimaafin gak?” dia mengagguk lagi.
“Kalau
Abang maafin Ambu, jangan nangis lagi ya..” dia pun menghapus sisa air matanya.
“Abang
mau pulang?” lagi-lagi, dia menjawab dengan anggukan kepala.
“Kalau
abang maafin Ambu, dan Abang mau pulang, Ambu bagi dulu sedikit senyuman abang.”
Dengan
sisa air mata di ujung matanya, di memaksa menarik bibirnya untuk tersenyum. Setelah
melambaikan tangan, dia pun berjalan pulang bersama ibu dan adiknya.
Dalam
perjalanan ku mengajar selama 17 tahun lamanya, sore itu aku belajar. Betapa berharganya
sebuah pelukan bagi seorang Reiga, anak spesial -speecdelay-, anak berusia 4
tahun, yang sedang Allah titipkan untuk ku bersamai proses belajarnya. Sore itu
aku belajar dan aku mengetahui, bahwa suatu hal yang kadang kita anggap sepele
dan tidak terlalu penting, justru sangat berharga untuk orang lain.
Reiga adalah
jawaban atas doa-doaku. Dulu aku sering bertanya kepada Allah, apakah hidupku
benar-benar membawa manfaat bagi orang lain.
Selain tiga
mujahid yang terlahir dari rahimku, Reiga pun menjadi bukti dan jawaban bahwa ternyata,
hadirku tidak harus mengubah dunia. Cukup menjadi dunia kecil bagi seorang anak
yang sedang belajar percaya bahwa ia dicintai.
Mungkin
itulah alasan Allah masih mengizinkanku menjadi guru sampai hari ini.
















