Sabtu, 16 Mei 2026

Pulang Kepada DIri Sendiri

Dulu aku pikir hidup akan terasa mudah jika semuanya berjalan sesuai harapan.

Tapi semakin dewasa, aku mengerti bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit lukanya, melainkan siapa yang tetap mencoba pulang kepada dirinya sendiri, meski berkali-kali merasa hancur.

Ada hari-hari ketika aku lelah menjadi diriku sendiri.
Melihat orang lain terasa lebih terang, sementara aku sibuk menenangkan kepala yang tidak pernah benar-benar tenang.

Dan diam-diam, aku marah pada hidupku sendiri.

Marah karena semuanya terasa berat.
Marah karena hati ini terlalu rapuh.
Marah karena aku belum menjadi versi terbaik yang selama ini aku impikan.

Kadang bentuk bertahan itu sesederhana bangun pagi meski hati masih berisik.
Tetap tersenyum walau dada penuh sesak.
Tetap terlihat baik-baik saja, padahal di dalam diri ada banyak hal yang sedang runtuh perlahan.

Ada malam-malam ketika aku menangis tanpa suara, hanya supaya dunia tidak tahu kalau aku sedang selelah itu.
Dan lucunya, di saat aku mencoba menguatkan semua orang, justru aku sendiri yang paling sering lupa dipeluk.

Tapi sekarang aku sedang belajar…
Bahwa diriku juga manusia yang pantas dipeluk, bukan terus disalahkan.

Aku sedang belajar menerima hidupku perlahan, seperti langit senja yang tetap indah meski tidak selalu cerah.

Dan mungkin, sembuh bukan tentang menjadi manusia baru.

Tapi tentang berhenti membenci diri sendiri, sedikit demi sedikit.

Sebab pada akhirnya, rumah paling sulit untuk diterima adalah diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar