Jumat, 09 Januari 2026

Tenang yang Kupelajari


Berdamai seperti apa yang harus ku cipta?
Tenang seperti apa yang harus ku hadapi?
Percaya yang bagaimana yang harus ku pelihara?

Jika melihat namanya saja mendatangkan memori yang membuat dadaku bergetar.
Jika mendengar namanya saja menghidupkan peperangan dalam batin dan logika—antara percaya, dan tenggelam di cerita lama.

Entah…
Aku yang terlalu lugu, atau aku hanya terlalu lelah berkompromi tentang banyak hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

Kali ini, aku sedang melatih hatiku untuk tidak berisik.
Tidak mendorong pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja jawabannya akan melukaiku sendiri
Tidak menuntut kejujuran yang bisa jadi hanya akan dibungkus dengan diam.

Aku memilih tenang.
Bukan karena aku tak tahu.
Bukan karena aku tak merasa apa-apa.
Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk bertengkar dengan pikiran perasaanku sendiri.

Aku sadar, bahwa tenang ini bukan kemenangan.
Ia hanya cara paling sunyi agar aku tidak terlihat hancur di depan siapapun yang melihat aku baik-baik saja.

Aku diam bukan karena aku tidak tahu. Aku diam karena aku tahu terlalu banyak, dan kebenaran itu—jika diucapkan—hanya akan mengajarkanku kehilangan dengan cara yang lebih kejam.

Maka aku memilih tenang
Membiarkan hatiku berdarah tanpa suara. Menyembuhkan luka tanpa saksi.

Mungkin di balik semua diam yang kupelajari, aku sedang belajar sesuatu yang lebih sulit dari marah dan kecewa: belajar menerima tanpa penjelasan, belajar melepaskan tanpa suara, belajar ikhlas— meski hatiku belum sepenuhnya siap.

Dan di antara semua ketenangan dalam diam yang kupelajari hari ini, aku perlahan mengerti satu hal: ikhlas bukan tentang menghapus rasa, melainkan tentang menerima bahwa tidak semua kebenaran perlu diperjuangkan dengan suara.


Untuk hari ini, aku memilih tidak bertanya, tidak menuntut, tidak mengorek kebenaran yang mungkin hanya akan menambah perih. Aku memilih menjaga diriku sendiri. Karena aku sedang belajar -meski perlahan- tentang tenang dan mengikhlaskan tanpa harus benar-benar lupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar