“Nay, gue jatuh cinta sama lo. Kalau nanti kita udah lulus kuliah, nikah yuk.”
Ucapan itu keluar begitu
saja dari mulut Kale setelah suapan terakhir bakso masuk ke mulutnya. Sedangkan
Naya nyaris tersedak mendengarnya.
“Lo ngajak nikah sebercanda
itu? Ngajak nikah udah kayak ngajak orang nonton bioskop!” oceh Naya sambil
menahan gugup yang mendadak menyerbu dadanya.
Kale tertawa kecil. “Gue
serius.”
Naya mengernyit. “Lo
sakit?” tanyanya sambil menempelkan punggung tangan ke kening Kale.
Namun lelaki itu justru
menggenggam tangan Naya perlahan, menurunkannya dari dahinya. Tatapan Kale
lurus menembus mata Naya, membuat perempuan itu salah tingkah dalam diam.
“Nay…” ucapnya pelan.
“Would you be mine?”
Jantung Naya seolah lupa
caranya berdetak dengan benar.
Kale adalah lelaki yang ia
cintai diam-diam sejak putih abu-abu. Lelaki yang selalu berhasil membuatnya
nyaman hanya dengan hal-hal sederhana. Menemani belajar, mendengarkan keluh
kesahnya, membelikannya makanan saat ia lupa makan, atau sekadar hadir di saat
dunia terasa berat.
Berkedok sahabat, Naya
menyembunyikan perasaannya rapat-rapat. Ia terlalu takut kehilangan Kale jika
kenyataan tidak berjalan seperti harapannya.
Namun hari itu, semangkuk
bakso hangat dan gerimis kecil di luar kedai mengubah segalanya.
“Lo serius, Kal?” tanya Naya
hati-hati.
“Apa gue kelihatan
main-main?”
Naya menggeleng pelan.
Tatapan mata Kale terlalu tulus untuk dianggap candaan.
“So?”
Wajah Naya memerah. Ia
menunduk malu sebelum akhirnya menjawab lirih—
“Yes… I do.”
Dan sejak hari itu, dunia
terasa jauh lebih hangat bagi Naya.
Kale bukan tipe lelaki
romantis yang pandai merangkai kata-kata manis. Tapi sikapnya selalu berhasil
membuat hati Naya merasa dicintai. Kale hafal bagaimana cara menenangkan Naya
ketika panik menghadapi tugas kuliah. Kale tahu minuman favoritnya, tahu bagaimana
Naya diam-diam membenci hujan karena takut petir, bahkan tahu cara membuat Naya
tertawa di tengah hari terburuknya.
Bagi Naya, Kale terasa
seperti rumah.
Dan rumah selalu menjadi
tempat pulang paling nyaman.
***
Enam tahun berlalu.
Taman Mawar sore itu terasa
terlalu sunyi untuk sebuah perpisahan.
Naya berdiri membelakangi
Kale, mencoba menahan tangis yang sejak tadi sesak memenuhi dadanya. Sedangkan
Kale mematung di belakangnya, menatap perempuan yang paling ia cintai dengan
mata yang mulai memerah.
“Aku minta maaf, Kal…”
suara Naya bergetar. “Aku enggak bisa memperjuangkan hubungan kita.”
Kalimat itu terdengar
pelan. Namun cukup untuk menghancurkan dunia Kale dalam sekejap.
“Apa kita enggak punya cara
lain?” tanya Kale lirih. Untuk pertama kalinya, lelaki itu terdengar begitu
kalah.
Naya menutup matanya rapat.
Air mata jatuh tanpa izin.
“Aku udah nyoba…”
“Tapi?”
Naya tersenyum pahit. “Aku
enggak bisa menghancurkan keluarga aku cuma demi ego untuk hidup sama orang
yang aku cinta.”
Kale tertawa kecil. Pahit.
Sangat pahit. Sakit. Sangat perih!
“Lucu ya…” katanya lirih.
“Dulu gue ngajak lo nikah sambil makan bakso, dan lo mikir sebercanda itu gue.
Dan sekarang kita malah ngomongin perpisahan, yang gue harap ini cuma candaan
lo, Nay.” Getar sakit suara Kale tak bisa disembunyikan. Matanya pun ikut basah
saat ia mengatakan semua itu dan melihat kenangan yang menari di pelupuk
matanya.
Tangis Naya pecah seketika.
Sebab ia ingat. Sangat
ingat.
Tentang lelaki yang pernah
membuatnya percaya bahwa cinta bisa sesederhana pulang. Tentang lelaki yang
selalu ia bayangkan akan hidup bersamanya di masa depan. Tentang Kale—lelaki
yang selalu menjadi alasan paling sederhana untuk bahagia.
Namun hidup ternyata tidak
selalu berpihak pada cinta.
Naya harus menerima perjodohan
demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Ayahnya mempertaruhkan masa depan
perusahaan pada pernikahan itu. Dan seperti banyak anak lainnya, Naya akhirnya
menjadi tumbal dari ambisi orangtuanya sendiri.
“Aku capek, Kal…” isaknya
lirih. “Aku capek harus milih antara keluarga aku atau kamu.”
Kale menatap Naya lama.
Sangat lama. Seolah sedang berusaha menghafal perempuan itu untuk terakhir
kali.
Kalau saja cinta cukup
untuk membuat seseorang tetap tinggal, Kale pasti sudah memeluk Naya dan
membawanya pergi sejauh mungkin.
Sayangnya, dunia orang
dewasa tidak sesederhana itu.
Kale menarik Naya ke dalam
pelukan hangatnya untuk terakhir kali. Tidak ada suara selain tangis yang
berusaha mereka tahan. Tidak ada janji untuk kembali. Tidak ada kata “tunggu
aku.”
Karena mereka tahu—beberapa
perpisahan memang diciptakan untuk benar-benar selesai.
Setelah pelukan itu
terlepas, Naya melangkah pergi perlahan. Sedangkan Kale tetap berdiri di
tempatnya, menatap punggung perempuan itu yang semakin menjauh bersama bagian paling
bahagia dalam hidupnya.
Dan setiap langkah yang
diayunkan Naya, melahirkan rindu yang kelak akan hidup begitu lama di hati
mereka.
***
Dear, diary.
Hari ini aku melewati
penjual bakso dekat kampus lama kita.
Lucu
ya, Kal…
Dulu,
di depan semangkuk bakso sederhana itu, aku pernah merasa menjadi perempuan
paling bahagia di dunia.
Dan sekarang, bahkan hanya
mencium aromanya saja sudah cukup membuat dadaku sesak.
Katanya waktu akan membuat
seseorang terbiasa kehilangan. Tapi kenapa sampai hari ini, aku masih merasa
kehilanganmu dengan cara yang sama?
Menjadi dewasa ternyata
tidak seindah yang kita bayangkan.
Karena
pada akhirnya, tumbuh dewasa hanya mengajarkan kita satu hal—
bahwa
tidak semua yang saling mencintai… bisa saling memiliki.
~Naya Adriani~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar