Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2026

Tetaplah Melangkah

Jumat, Mei 22, 2026 0 Comments

Tak ada satu pun di bumi ini yang melewati perjalanan hidup hanya dengan cerita tentang keindahan, kebahagiaan, tawa, dan pesta keberuntungan. Semua pasti berjalan melewati kerikilnya masing-masing. Ada yang harus terjatuh, terluka, bahkan terseok melanjutkan langkah.

Termasuk kamu.

Jika hari ini kamu kembali berdiri pada persimpangan jalan, kali ini pilihannya hanya ada dua: berjalan menuju tempat yang sama dengan ribuan kerikil yang sama dan tak mengubahmu menjadi apa-apa, atau berjalan ke arah yang baru, dengan rintangan baru sebagai kejutan. Dan mungkin, itulah jalan yang membawamu menuju tempat yang lebih baik—meski harus melahirkan dirimu yang baru, dirimu versi yang jauh lebih kuat.

Mana yang akan kamu pilih?

Ketika kamu memilih diam, itu pun sudah menjadi pilihan yang kamu tetapkan. Kamu tak bergerak. Tak melangkah. Hingga akhirnya, kamu tak pernah benar-benar tahu arah, apalagi sampai pada tujuan.

Di saat yang lain memilih jalannya, mengambil segala konsekuensinya, menghadapi setiap badainya, mereka sampai pada tujuannya. Sedangkan kamu? Memilih diam. Dan akhirnya tak pernah benar-benar sampai pada tempat yang kamu impikan.

Hidup tak selalu berisi tentang keindahan. Terkadang, kamu hanya perlu berani jujur dalam memilih. Berjalan dengan berani, meski kamu tak pernah benar-benar tahu badai apa yang sedang menanti untuk kamu hadapi. Tugasmu hanya cukup percaya bahwa pundakmu cukup kuat untuk menghadapi setiap rintangan yang menyapa dalam langkahmu menuju tujuan yang telah kamu tetapkan.

Hidup memang banyak pahitnya. Tapi jangan menutup mata dan telinga. Sebab di balik pahit yang kamu cicipi hari ini, sang penulis cerita kehidupanmu sedang menyiapkan hadiah yang begitu manis untuk kamu nikmati sambil beristirahat, menghapus lelah dan luka-luka yang tercipta di hari kemarin.

Hidup akan selalu penuh kejutan. Karena sejatinya, cerita hidup ini hanya berisi misteri yang akan terjawab ketika kita melangkah.

Tak perlu berlomba untuk menjadi lebih baik dari yang lain.
Berlombalah untuk menjadi lebih baik dari dirimu di masa lalu.

Sebaik apa pun kamu memandang masa lalumu yang indah, ia tetap hadir untuk memberikan pelajaran agar kamu terus melangkah dan menjemput dirimu yang lebih baik.

Dan pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit terluka. Melainkan tentang siapa yang mampu menjadikan luka-lukanya sebagai alasan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya di masa lalu.

Maka jangan terlalu lama menyesali langkah yang pernah salah. Jangan terus memeluk luka yang seharusnya sudah kau jadikan pelajaran. Karena hidup tidak meminta kamu menjadi sempurna. Hidup hanya ingin melihatmu terus bertumbuh—menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mengenal dirimu dibanding hari-hari kemarin.

Kamis, 21 Mei 2026

Tak Melupa

Kamis, Mei 21, 2026 0 Comments


Aku tahu, tidak ada perpisahan yang meninggalkan kesan baik-baik saja. Aku sadar, tidak ada seorang pun yang ingin berpisah secara tiba-tiba dengan seseorang yang masih dengan sangat ia cintai. Tapi jika takdir mengharuskan itu terjadi, lantas bisa kita?

Menyalahi takdir tidak akan pernah mengembalikan ia dalam dekapan. Memaki realita, tidak akan mendatangkan ia kembali dalam barisan cerita. Menyedihkan memang. Tapi inilah kehidupan! Terkadang alurnya bisa kau atur, bisa kau duga, bisa kau terima. Namun sering kali, alurnya memberikan banyak kejutan tanpa menunggu kau siap atau tidak. 

Perpisahan, tidak akan pernah benar-benar menghilangkan ia dari hidupmu. Ia akan selalu ada. Abadi. dalam memori. Segaris senyumnya. Nada bicaranya. Kalimat-kalimat berharganya. Suara tawanya. Semua tentangnya seolah enggan beranjak sedikitpun dari kotak kenangan di hatimu.

Perpisahan hanya membuatmu berjarak dengannya. Bukan membuatmu melupa apalagi menghapus segala tentangnya. Bahkan, terkadang perpisahan mendekatkanmu dengannya dengan cara yang berbeda- dengan jalur langit yang bekerja. Karena ada pengharapan untuknya yang selalu kau sebut dalam setiap doa yang kau langitkan.

Jika saat ini dadamu terasa sesak karena merindu. Itu adalah wajar. Karena kau dengannya pernah memiliki satu cerita yang sama. Namun, Sadarlah, yang kau rindukan bukan dia, melainkan kenangan yang pernah kau cipta bersamanya. Bisa jadi yang kau rindukan bukan sosoknya, melainkan cara ia memperlakukanmu yang sedang kau rindukan, dan tak lagi kau temukan di siapapun orang yang kamu temui.

Sebab beberapa orang memang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berubah bentuk—menjadi kenangan, menjadi rindu, menjadi nama yang tetap hidup dalam doa-doa paling diam. Dan kita, mau tak mau harus belajar menerima bahwa tidak semua yang tinggal di hati, bisa tinggal dalam kehidupan yang nyata.

Sabtu, 16 Mei 2026

Pulang Kepada DIri Sendiri

Sabtu, Mei 16, 2026 0 Comments

Dulu aku pikir hidup akan terasa mudah jika semuanya berjalan sesuai harapan.

Tapi semakin dewasa, aku mengerti bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit lukanya, melainkan siapa yang tetap mencoba pulang kepada dirinya sendiri, meski berkali-kali merasa hancur.

Ada hari-hari ketika aku lelah menjadi diriku sendiri.
Melihat orang lain terasa lebih terang, sementara aku sibuk menenangkan kepala yang tidak pernah benar-benar tenang.

Dan diam-diam, aku marah pada hidupku sendiri.

Marah karena semuanya terasa berat.
Marah karena hati ini terlalu rapuh.
Marah karena aku belum menjadi versi terbaik yang selama ini aku impikan.

Kadang bentuk bertahan itu sesederhana bangun pagi meski hati masih berisik.
Tetap tersenyum walau dada penuh sesak.
Tetap terlihat baik-baik saja, padahal di dalam diri ada banyak hal yang sedang runtuh perlahan.

Ada malam-malam ketika aku menangis tanpa suara, hanya supaya dunia tidak tahu kalau aku sedang selelah itu.
Dan lucunya, di saat aku mencoba menguatkan semua orang, justru aku sendiri yang paling sering lupa dipeluk.

Tapi sekarang aku sedang belajar…
Bahwa diriku juga manusia yang pantas dipeluk, bukan terus disalahkan.

Aku sedang belajar menerima hidupku perlahan, seperti langit senja yang tetap indah meski tidak selalu cerah.

Dan mungkin, sembuh bukan tentang menjadi manusia baru.

Tapi tentang berhenti membenci diri sendiri, sedikit demi sedikit.

Sebab pada akhirnya, rumah paling sulit untuk diterima adalah diri sendiri.

Selasa, 12 Mei 2026

Ketika Malam Bertanya Tentang Tenang

Selasa, Mei 12, 2026 0 Comments


Malam sunyi seringkali menggemakan tanya, “tenang seperti apa yang kamu dambakan? Bergelimpang harta? Bermahkota tahta? Berjubah ketenaran? Apa? Tenang yang seperti apa yang kau inginkan?”

Napas berat berembus tak memberi jawaban. Entahlah. Bahkan, hati dan logika yang sering kali tak sejalan pun sulit meredam pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi rangkaian kalimat itu, akan selalu menjadi api renungan untuk jiwa-jiwa yang lelah.

Lelah dalam perjalanan. Lelah dalam pencarian. Lelah dalam pengharapan. Lelah dengan segala kejutan yang disajikan oleh dunia. Lelah dengan penghakiman yang tak adil. Lelah dengan peraturan yang entah siapa si pencipta aturan itu. 

Lucunya, semakin dewasa seseorang, semakin ia sadar bahwa ketenangan ternyata bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dimiliki. Bukan pula tentang seberapa tinggi seseorang dipandang oleh dunia. Bukan pula semegah apa istana yang ia tempati. 

Sebab nyatanya, banyak manusia bergelimang harta tetap tidur dengan dada yang sesak. Banyak yang berdiri di puncak ketenaran justru merasa paling kesepian. 

Lalu, tenang seperti apa yang kau cari? Tenang seperti apa yang kau pahami?

Mungkin… 

Tenang adalah ketika hati tidak lagi sibuk membandingkan hidup dengan milik orang lain. Ketika seseorang mampu menerima bahwa seringkali realita tak selalu berjalan sesuai harapan, namun tetap memilih melangkah meski perlahan.

Tenang adalah saat kita berhenti memaksa dunia untuk selalu berpihak. Saat kita belajar bahwa tidak semua kehilangan harus digantikan, tidak semua luka harus segera sembuh, tidak semua hal harus berpihak pada kita, dan tidak semua do`a harus dikabulkan saat itu juga.

Karena kadang, hidup hanya meminta kita untuk bertahan sedikit lebih lama. Bernapas sedikit lebih dalam. Dan percaya, bahwa badai sebesar apa pun pada akhirnya akan lelah menghantam.

Mungkin ketenangan bukan tentang hidup tanpa masalah.
Melainkan tentang hati yang tetap mampu pulang pada dirinya sendiri, meski telah dihantam beribu badai kehidupan.

Dan mungkin, malam-malam sunyi itu sebenarnya tidak sedang menghakimi kita dengan pertanyaan-pertanyaannya. Ia hanya sedang mengingatkan… bahwa jiwa ini juga butuh dipeluk, didengar, dan dimaafkan. Agar langkahnya semakin berani dan diiringi oleh ketenangan yang tidak bisa didapatkan oleh semua orang. 

Selasa, 05 Mei 2026

Habiskan Hingga Lelah

Selasa, Mei 05, 2026 0 Comments


Untukmu, yang sedang kalut dan bingung tak tahu harus apa, ke mana, dan bagaimana— hanya karena merasa ditinggal oleh seseorang yang kau anggap penting, bahkan pernah kau sebut sebagai rumah.

Seringkali kau merasa berdiri pada persimpangan pertanyaan;

"berdiri di sini meski sakit?" 

atau 

"melangkah pergi tak tau arah meski terasa hancur?"

Hai kamu... berhentilah sebentar. Tenanglah sedikit. Walau aku tau, kau sedang tidak baik-baik saja.

Jangan terburu-buru menyalahkan takdir, menyalahkan pertemuan, atau dia yang memilih pergi.
Karena sekeras apa pun kau mencaci, tak akan mengubah langkahnya untuk kembali.

Karena siapapun dan apapun yang kau salahkan, kau caci maki, kau hantam dengan egomu, tak akan mungkin mengembalikan langkahnya yang telah memillih menjauh darimu untuk kembali mendekat seperti dulu. 

"Lalu aku harus apa untuk bisa melupakan dan move on darinya?"

Kawan, dengarkan ini baik-baik—

move on bukan tentang melupakan.
Move on adalah ketika hatimu siap melangkah tanpa harus terus membawa bayangannya. Kamu mungkin tidak akan pernah benar-benar lupa. Tapi kamu bisa… berdamai. Perlahan.

"Caranya?"

Habiskan hingga kamu lelah dan tersadarkan oleh realita. 

"Habiskan?"

Ya. Habiskan semua perasaanmu untuknya.

Jika kamu ingin bertanya, lakukan.
Jika kamu ingin mengirim kabar, lakukan.
Jika kamu ingin mengatakan rindu, katakan.
Jika kamu masih ingin berharap… akui saja.

Jangan ditahan. Jangan disimpan setengah-setengah.

Biarkan semuanya habis. Apapun yang kamu rasakan.

Hingga kemudian, sikapnya yang dingin, jarak yang semakin terbentang, realita yang selalu menghadirkan hal yang bertolak belakang dengan impian, semua itu menyadarkanmu bahwa semua memang telah selesai. Semua membuatmu lelah dan sadar, bahwa yang kamu kejar akhirnya hanyalah sebuah harapan kosong yang tak pernah menjadi nyata. 

Habiskan semua rasamu hingga kamu lelah, Lelah yang bukan lagi ingin bertahan, tapi siap untuk melepaskan.

Habiskan rasamu, hingga kamu lelah.
Lalu pulanglah… pada dirimu sendiri.

Jumat, 29 Maret 2024

Tetaplah Bersamaku

Jumat, Maret 29, 2024 0 Comments


Langkah terseok menyusuri jalan panjang kehidupan

Lelah menggelayuti pundak yang seringkali merasa lemah

Dipeluk malam berselimut kesunyian

Didekap rindu akan hangatnya rumah


Allah... Engkau Dzat yang Maha Tahu

Betapa diriku rapuh! Duniaku runtuh!

Saat setengah jiwaku berpulang kembali ke sisi-Mu

Hilang sudah separuh rumah yang akan menghapus lelahku


Jalanku masih panjang

Banyak harapan dan impian yang terpampang

Walau dirinya tak lagi mampu ku dekap

Saat rindu begitu sesak menyekap

Tapi langkah kakiku harus selalu menderap

Dan kini, aku hanya memiliki-Mu

Agar pundakku selalu mampu untuk tetap tegap

Minggu, 04 Februari 2024

Lucunya Hidup Ini

Minggu, Februari 04, 2024 0 Comments

 


Aku sering kali mendengar kalimat bijak mengatakan, jika kamu ingin dihargai orang, maka, hargailah orang lain. Jika kamu tak ingin dikecewakan, maka jangan lah mengecewakan orang lain. Hidup seolah terlihat sesimpel itu. Seolah pengaturannya ada di tangan kita. Berlandaskan hukum sebab akibat. Namun pada nyatanya hidup tak semulus itu. Banyak sekali kelucuan yang terjadi di luar nalar dan logika.

Sabtu, 13 Januari 2024

Hai, diriku

Sabtu, Januari 13, 2024 0 Comments

 


Hai, diriku.

Sudah puluhan tahun dirimu berjalan mengarungi kehidupan yang fana ini. Langkahmu semakin dekat dengan gerbang akhir perjalanan hidup.

Lalu, bekal apa yang telah kau persiapkan sampai hari ini?

Mengenang tanggal lahir bukanlah tentang pesta meriah berlimpah hadiah. Namun hakikat pertemuan dengan tanggal lahirmu adalah perenungan, sebanyak apa bekal yang telah kau persiapkan untuk pulang? Sebesar apa dirimu bermanfaat untuk orang banyak?

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya?

Hai, diriku.

Jangan berhenti berterimakasih pada Tuhan, ya. Karena DIA masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri, berproses menjadi lebih baik lagi, belajar untuk terus menebar kebaikan sepanjang hari, dan mengasah ilmu ikhlas juga sabar yang harus terus terisi.

Selasa, 07 Maret 2023

Pesan Cinta Dari-Nya

Selasa, Maret 07, 2023 0 Comments

 

Hari dimana Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup di usia yang baru, ku bisikkan harapan dan doa, juga ku goreskan tekad dan azzam dalam hati, bahwa aku ingin hidup menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Aku ingin belajar menjadi pribadi yang lebih sabar dan ikhlas, serta lebih dewasa dari aku yang dulu.

Mungkin segala harap dan do`a itu terdengar. Mungkin segala azam dan tekad itu Allah saksikan. Hingga kemudian hadir kejadian demi kejadian yang membuat hati begitu terluka dan perih. Berderet tanya terlukis indah dalam benak. Tapi yang paling nyata adalah kata "Mengapa?"

Ada tangis yang ingin ku luapkan. Membuang perih yang tergores. Tapi nyatanya, tangis itu tak kunjung pecah. Seolah tak rela jika aku menangis hanya karena disebabkan oleh orang-orang tak tahu diri dan tak tahu cara menghargai juga menghormati orang lain.

Rabu, 09 Desember 2020

Penuh Misteri

Rabu, Desember 09, 2020 0 Comments

 


Sahabat, hidup ini begitu banyak misteri. Allah sengaja membuat kita tak pernah tahu apa yang terjadi di waktu yang akan datang. Jangankan esok, sedetik kedepan pun kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita. Hidup ini sungguh penuh misteri.

Sahabat, misteri dalam hidup ini begitu banyak. Dalam hal apapun. Bahkan, ketika kita berpikir bahwa kita benar-benar mengenal seseorang, atau kita yakin segala rencana kita akan berjalan dengan baik, ternyata, sebuah kenyataan yang Allah berikan tidak seperti itu.

Suatu hari nanti, akan ada masa kita merasa si A adalah seseorang paling mengerti, menyayangi, dan peduli dengan kita. Ternyata, dibelakang kita dia tidak benar-benar seperti itu.

Atau, kita pernah berada pada situasi dimana kita bertemu dengan si B, yang terlihat tidak begitu peduli dengan kita, tatap matanya tak pernah bersahabat, tutur katanya tak pernah halus. Namun nyatanya, di belakang kita dia adalah orang yang paling sering dan paling kencang menyebut nama kita dalam setiap rangkaian do'a yang ia langitkan.

Bisa jadi, si C yang terlihat jahat ternyata berhati malaikat. Si D yang dinilai berhati malaikat, justru penjahat paling kejam yang tak pernah diketahui siapapun. 

Bahkan mungkin, kita pernah mengalami keadaan yang begitu membahagiakan. Membuat kita merasa orang paling bahagia di dunia ini. Namun ternyata, sejam kemudian Allah ganti lekuk tawa itu dengan rintikan air mata kesedihan yang tidak pernah bisa dibendung. Sehingga yang lahir dalam pikiran dan lisan kita adalah "Mengapa harus begini, Ya Allah?"

Saat tanya itu menggema, hanya ada satu jawaban yang pasti. Bahwa hidup ini terlalu penuh misteri!!

Tidak ada yang pernah tahu dan bisa menerka apa yang akan terjadi esok, atau apa yang sedang terjadi di belakang kita hari ini.

Sahabat, ingatlah bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara. Kita hanya sedang memainkan peran kita masing-masing. Kita sedang diberi tugas oleh Allah memainkan peran kita dengan baik selama masih berada di bumi-Nya. 

Segala misteri yang ada dalam hidup ini biarlah menjadi cerita yang hanya Allah yang tahu bagaimana akhirnya misteri-misteri ini terungkap, atau tetap menjadi bagian dari cerita yang tak pernah terungkap.

Kelanjutan cerita dari peran yang sedang kita mainkan ini biarlah menjadi urusan Allah. Tugas kita cukup terimalah dengan hati yang lapang. Apapun cerita yang disajikan oleh-Nya untuk kehidupan kita. Apapun alur cerita yang diberikan oleh-Nya untuk kita mainkan. Karena dunia ini hanya sementara, hanya panggung permainan, yang cepat atau lambat akan kita tinggalkan.

Bagaimana cara kita meninggalkan panggung ini akan selalu menjadi misteri dari Allah.

Bahagia, sedih, tangis, dan tawa, tak akan pernah abadi, duhai sahabat. Terimalah semua cerita itu dengan penuh ikhlas dan rasa syukur. Karena hidup ini sangat penuh dengan misteri. Hanya Allah yang benar-benar tahu setiap detik ke detik setiap kejadian ke kejadian, setiap alur cerita yang kita perankan selama kita berada di dunia ini.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S.57:20)

Senin, 11 Maret 2019

Tiga Pilar Kebahagiaan

Senin, Maret 11, 2019 12 Comments
Tiga Pilar Kebahagiaan- Bahagia apa yang kamu inginkan? Bagaimana kita mendatangkan kebahagiaan itu? Dan siapakah yang tak ingin bahagia dalam hidupnya?
Sudah tentu setiap orang ingin selalu merasakan bahagia dalam hidupnya. Bahagia yang selalu kekal hingga ke akhirat nanti, tentu itu menjadi kebahagiaan dambaan setiap insan. Namun sayangnya, tak sedikit yang mampu menghadirkan kebahagiaan itu. Padahal hakikatnya kebahagiaan itu harus diciptakan. Karena memang sejatinyanya kebahagiaan itu dekat. Tapi lagi-lagi tak semua orang mampu menciptakan kebahagiaan itu. 
Dan tahukah, bahwa ternyata untuk sebuah kebahagiaan, kita perlu memiliki pilar-pilar kebahagiaan itu sendiri. Karena sebelum kita menciptakan kebahagiaan itu, paling tidak kita perlu tahu tiga pilar untuk kita mendatangkan kebahagiaan yang diharapkan. 
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ada tiga pilar kebahagiaan yang harus kita miliki.
Pertama: Mensyukuri Nikmat.
Sekarang, coba kita tengok sekitar kita. Sudah berapa nikmat yang kita dapati hari ini?
Oksigen yang gratis dari Allah. Orang tua yang sayang dan pedulinya luar biasa. Teman dan sahabat yang terasa seperti saudara sedarah karena sikapnya yang sangat baik. 
Tetangga yang sering peduli kepada kita, Kakak atau adik yang sayang dan mencintai kita. 
Bos di tempat kerja yang perhatian dan peduli kepada karyawannya. Perjalanan menuju kantor yang tak semacet biasanya.

Dosen pembimbing skripsi yang baik nan memudahkan perjalanan si skripsi hingga cepat terselesaikan. Bisnis yang terus meroket dan berkembang hingga ke seantreo Indonesia bahkan mancanegara.
Suami/ Istri yang sayang dan perhatian banget soal agama dan akhirat. Anak-anak yang penurut, dan sholeh. Dan tentu masih banyak lagi kenikmatan yang kita dapati hari ini. 
Sudahkah kita bersyukur untuk itu semua??
Bersyukur, bersyukur, bersyukur dan terus bersyukur atas apa yang telah kita dapati dari-Nya. Ketika kita mampu mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan, tentu kebahagiaan akan datang menemani hari-hari kita.
Allah pun telah berjanji bagi siapa yang bersyukur maka akan ditambahkan kenikmatannya (Q.S Ibrahim : 7). Bahkan dengan bersyukur pun akan menyelamatkan kita dari adzab Allah. Seperti firman Allah dalam surat An-Nisa : "Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim”. Bukankah janji-janji Allah itu akan mendatangkan kebahagiaan walau bukan di dunia sudah pasti di akhirat kelak. 
Pilar kedua : Bersabar atas cobaan
Manusia mana yang dalam hidupnya tak Allah berikan cobaan? Dalam perjalan hidup kita, dari sekian banyak kenikmatan yang kita dapati, tentu ada cobaan pula yang menghampiri. Namun setiap orang berbeda menyambutnya. Ada yang mengeluh tak berkesudahan. Ada yang meratapi tiada henti, dan ada pula yang mencoba selalu bersabar, karena percaya ada Allah yang selalu membantu. Ini sulit memang, tapi ketika kita mampu bersabar atas cobaan yang datang, kita pasti merasakan kebahagiaan. Tak di dunia, pasti kelak di akhirat.
 Seperti janji Allah dalam firman-Nya : “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)”
Bahkan dalam Hadist pun dikatakan “Tak seorang muslim pun yang ditimpa  gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bukankah dihapuskan segala dosa, dan memasuki surga-Nya akan menjadi kebahagiaan abadi untuk kita?

Dan pilar ketiga: Memohon Ampun atas Kesalahan
“Manusia mah tempatnya salah, enggak ada manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan.”   Sahabat tentu sering mendengar kalimat seperti ini bukan? Yap! Saya pun setuju. Enggak ada manusia yang luput dari kesalahan. Tapi tidak semua manusia menyadari kesalahannya dan segera memohon ampun kepada sang Khalik. Atau bahkan, tak jarang pula yang langsung meminta maaf ketika berbuat kesalahan kepada kerabatnya.
Padahal, memohon ampun atas kesalahan merupakan salah satu pilar penting untuk kita meraih kebahagiaan. Tak perlu malu, Tak perlu sungkan. Allah senang kepada hamba-Nya yang datang dan memohon ampunan. Jangan berpikir “Ah, udah banyak dosa begini. Malu ngadu sama Allah.” Kalau kita malu ngadu dan memohon ampunan kepada Allah, lantas kita mau memohon kepada siapa lagi??
Lihat nih janji Allah dalam surat Az-Zumar ayat 53 “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” Dan juga dalam surat Asy-Syuura ayat 25 “Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Bukankah mendapatkan rahmat, ampunan dari Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kita?
Sahabat, itulah tiga pilar kebahagiaan yang harus kita miliki. Ingatlah bahwa kebahagiaan yang kita tuju bukan sekedar kebahagiaan di dunia, melainkan juga kebahagiaan di akhirat kelak. Kebahagiaan yang akan abadi selamanya.
Semoga apa yang saya tuliskan ini bermanfaat untukmu dan kita semua dalam menciptakan kebahagiaan.
~~~~~****~~~~~

Rabu, 06 Maret 2019

Warna Warni Kehidupan

Rabu, Maret 06, 2019 1 Comments

Dalam perjalanan hidup ini, kita akan menemukan banyak warna warni yang yang selalu siap mengindahkan kanvas putih kehidupan kita. 

Karena sangat tidak mungkin jika hidup ini hanya diisi oleh satu warna, satu rasa. Entah itu hanya terisi oleh kebahagiaan atau kesedihan dan penderitaan saja. Yang pasti itu adalah hal yang mustahil.

Karena jika kita hanya bisa merasakan kebahagiaan, bagaimana caranya kita bisa tahu rasanya bersedih? Dan darimana kita tahu caranya menangis? Sedangkan kita tidak pernah merasa kesedihan dan penderitaan?? 

Lalu, jika kita hanya bisa merasakan kesedihan, bagaimana caranya kita bisa tahu rasanya bahagia? Dan tahu bagaimana caranya tertawa? Sedangkan kita tidak pernah merasakan kebahagiaan?

Jika hidup ini hanya ada kenikmatan, kekayaan, serba kecukupan, maka darimana kita akan belajar bersabar menghadapi keadaan yang menghimpit?

Atau, ketika hidup ini hanya ada kesulitan, penderitaan, serba kekurangan, maka darimana kita akan belajar bersyukur saat menghadapi keadaan yang penuh kenikmatan?

Kebahagiaan, kesedihan, penderitaan, canda, tawa, rindu, cinta, serta tangis, merupakan warna-warni di atas lembar putih sejarah kehidupan kita. Warna warni kehidupan yang begitu berimbang yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta kehidupan ini.

Rasanya lelah dan menyakitkan memang ketika kita berjumpa dengan suatu masalah yang tidak pernah kita sukai, dan masalah itu pun muncul karena ulah jahatnya lidah berucap. Rasanya lelah memang. Saat ujian hidup dirasa tak ada hentinya. Walau jiwa dan raga sudah semaksmimal mungkin mencari solusi dari setiap ujian yang menimpa.

Namun, sadarkah kita?? Ketika masalah menerpa, di balik itu semua banyak tersimpan hikmah, dan pembelajaran hidup menuju proses pendewasaan diri.

 Tergantung kita memandang ke arah mana dari setiap masalah dan ujian yang menimpa?? Negatif? Ataukah, positif??

Kekuatan yang paling ampuh ketika kita menghadapi sebuah masalah, kesedihan, ujian, penderitaan, hanyalah SABAR dan IKHLAS diiringi dengan DOA.

Ingatlah Sahabat bahwa sesungguhnya bukan sabar jika masih terbatas ruang dan waktu. Bukan ikhlas jika kita tak pernah diuji. Dan hanya doa yang akan menguatkan diri dan hati saat ujian datang menimpa. 

Percayalah!! Ketika kesabaran, keikhlasan, dan do`a kita ini digali melebihi dalamnya lautan, maka, keberkahan untuk kita pun seperti laut beserta isinya.

Hidup ini terlalu singkat nan sesaat jika hanya kita lukis dengan satu warna. Maka lukislah perjalanan hidup ini dengan berbagai warna, dan biarkan hidup ini menjadi berwarna warni. 

Jumat, 01 Maret 2019

Ciptakanlah Bahagiamu!

Jumat, Maret 01, 2019 0 Comments
Jangan iri melihat bahagianya orang lain saat ini. Karena kamu tak tahu sudah berapa duka yang ia lewati. Dan seberapa besar kesedihan yang ia sembunyikan.

Ciptakanlah bahagiamu sendiri!

Karena hal yang seringkali terjadi adalah ketika seseorang merasa dirinya paling merana, paling sedih, paling susah, dan tidak memiliki kebahagiaan seperti orang-orang yang ia lihat di kehidupan nyata maupun di dunia maya. Merasa tergoda dengan anak-anak muda yang menjadi selebgram. Merasa teruji dengan mamakgram (sebutan untuk mak emak aktif di instagram) yang terlihat sangat bahagia, sedangkan kita tidak bisa.

Duhai diri!

Sadarlah. Bahwa bahagia itu bukan melihat standar orang lain. Bukan bersandar pada sosok ideal bagi pikiran orang lain.

Bahagia itu dekat! Bahagia itu tercipta ketika kamu menciptakan standar dirimu sendiri untuk bahagia. Ketika kamu mampu menciptakan sesuatu yang ideal versi kamu. Bukan versi orang lain. Dan bahagia itu adalah ketika kamu mampu bersyukur atas apa yang kau miliki saat ini, tanpa membandingkannya dengan orang lain.

Jika hanya ada kecewa dan duka ketika sibuk menatap kebahagiaan orang lain, mengapa tak kau sibukkan diri saja menciptakan bahagiamu?

Bukankah setiap manusia itu berhak untuk bahagia??


Sabtu, 27 Oktober 2018

Ada Apa Denganmu, Bu?

Sabtu, Oktober 27, 2018 0 Comments
Ada apa denganmu, Bu?
.
.
Miris rasanya hati saat mendengar berita seorang ibu kandung tega menganiaya si buah hati hingga meninggal. Bahkan si Ibu melakukannya tidak sendiri. Ia tega melakukan itu bersama si selingkuhannya. Ya Allah, Ya Rabb… betapa dunia ini sudah sangat tua, dan akhir zaman semakin dekat..
.
Ada apa denganmu, Bu?
.
Semengganggu apakah anakmu hingga kau tega sampai hati menyakitinya bahkan hingga nyawa meregang. Bukankah kau telah merasakan bagaimana lelah dan beratnya kau membawa ia selama sembilan bulan dalam rahimmu? Bukankah kau merasakan pula bagaimana sakitnya saat kau harus melahirkannya? Lalu kenapa kau setega itu?
.
Ada apa denganmu, Bu?
.
.
Kilahmu, “Itu caraku untuk mendidik dan memperingatinya agar tak rewel.” Namun, haruskah sampai ia terluka lalu tak lagi bernyawa?
.
.
Ia adalah anakmu, Bu. Darah dagingmu. Tangan mungilnya yang kelak akan membawamu menuju surga-Nya. Jika seperti ini, apakah masih pantas kelak ia meminta kepada Allah untuk membawamu ikut serta hingga surga-Nya?
.
.
Ada apa denganmu, Bu? Hingga sampai hati kau melakukan itu.
.
.
Ah. Rasanya miris dan sedih sekali. Membayangkan si balita yang harus mengakhiri nafas di tangan ibunya sendiri.
.
Ada apa dengan, Bu?
.
Kai tau? Padahal Allah begitu memuliakan peran seorang Ibu.
.
.
~~~~ "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" (Q.S Al-Ahqaf:15)
~~~
#wildahrahmi
#tulisanrahmi
#petuah_kehidupan
#ibudananak
#ibu

Kamis, 25 Oktober 2018

Kalimat Tauhid

Kamis, Oktober 25, 2018 0 Comments
Bukankah rukun pertama islamnya seseorang adalah dengan kalimat syahadat?
.
.
Kau muslim bukan?
.
.
Lalu mengapa kau lakukan pembakaran itu?
.
.
Jika alasanmu untuk "memuliakannya", maka maukah kamu dimuliakan dengan cara yang sama seperti itu?
.
.
Ingatlah wahai saudaraku, kalimat "Laa Ilaha Illallaha" bukanlah kalimat dari sebuah ormas. Itu adalah kalimat ketauhidan kita sebagai muslim. Ia adalah kalimat yang mengandung keutamaan luar biasa. Dan kalimat itu pula yang akan selalu mendekatkan kita kepada syurga-Nya?
.
.
Bukankah syurga-Nya menjadi kampung halaman impian yang selalu kita tuju? Bukankah syurga-Nya menjadi tempat yang selalu kita harapkan menjadi tempat tinggal kita nanti setelah dunia ini??
.
.
Allahu Akbar ...
.
.
Sadarkah kau, ketika dengan pongahnya kau bakar sehelai kain berlafadzkan kalimat agung nan mulia itu, saat itu pula kau bakar hati para pecinta Allah dan Rasul-Nya. Kau sulut api amarah akan sebuah penistaan.
.
.
Ah, mungkin kau lupa. Padahal hari ini kau hidup dengan kalimat itu. Mungkin kau juga lupa, saat usia mu berakhir nanti, sejatinya kau ingin kalimat itu yang menjadi pengiring langkahmu untuk menjemput jannah-Nya.
Semoga Allah mengembalikan ingatanmu dan menghujanimu dengan hidayah-Nya.
.
.
Namun ingatlah, kata maaf akan sebuah tindakan penistaan tak mampu menghapuskan kecewa, sakit hati, dan terlukanya kami sebagai umat muslim.
.
.
~~~
Duhai Allah ...
.
.
Terimakasih untuk rasa cinta kami kepada ketauhidan ini, kepada diri-Mu, Rasul-Mu, juga kepada agama ini.
.
.
Duhai Allah ...
.
.
Jadikanlah kalimat "Laailaha Illallah, Muhammad Rasulullah" sebagai kalimat penutup di akhir usia kami.
.
.
~~~•••~~~
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud)
~~~•••~~~
.
#wildahrahmi
#tulisanrahmi
#tauhid
#tauhidhargamati
#islamituindah

Kamis, 05 April 2018

Tak Usah Merasa Paling

Kamis, April 05, 2018 0 Comments
Assalammualaikum...haaii sahabat..
Bagaimana kabarnya hari ini?
Semoga selalu sehat.. Dan selalu bahagia.. :)

Sahabat, pernah gak sih merasa "Paling bahagia," atau mungkin merasa "paling sengsara." Sehingga seringkali membuat kita merasa sombong terhadap apa yang kita miliki, atau membuat kita lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah Tuhan berikan.


Aku pernah!! (Jujur aja ini sih.. hahaha.. Astaghfirullah.). Dan pasti kebanyakan orang seperti itu. ada yang merasa paling baik, merasa paling bahagia, merasa paling menderita, merasa paling berat mendapatkan beban hidup, merasa paling kaya, dan merasa paling paling yang lainnya.


Dan memang pada kenyataannya banyak orang yang seperti itu.

Merasa tak punya uang serupiah pun dalam dompet (padahal di celengan atau di bank masih punya simpenan), lalu merasa menjadi orang yang "susah" banget. Padahal ternyata, di luar sana, masih ada orang yang hidupnya bener bener lebih susah. Mungkin, yang namanya "memiliki simpanan dalam celengan" hanya menjadi angan-angan belaka.

Merasa menjadi anak yang paling menderita lantaran tiap pagi dibangunin tidur sama emak pake teriakan yang nyaringnya melebihi priwitan tukang parkir! (Hahaha,, oke, ini sih lebay!!). Padahal disekitar kita mungkin aja ada yang sangat menderita lantaran gak pernah ketemu sama emaknya sejak kecil.


Atau, ada orang yang merasa paling berduit karena baru bisa beli mobil secara cash. Dia pamer sana sini. Padahal ternyata, ada orang yang lebih berduit, yang bisa mampir ke luar negeri kapanpun dia mau tapi diam-diam aja tuh!


Ya!! dan masih baaaanyaaak lagi contoh kasus disekitar kita yang bisa diperhatikan dengan seksama untuk diambil hikmahnya.


Tak usahlah kita merasa paling menderita hanya karena orangtua telat kirim uang untuk bayar kost, atau hanya karena si doi pergi begitu saja tanpa kabar tau-tau sudah nikah dengan pilihan hati yang lain, atau hanya karena hal-hal sepele lainnya.


Tak usah pula merasa paling bahagia, paling jemawa, paling memiliki segalanya hanya karena memiliki materi ber-jut-jut, atau ber-eM-eM.

Karena kita tak pernah sadar, bahwa disekitar kita sejatinya masih ada yang jauh dibawah kita, jauh lebih menderita dari kita. Atau bahkan ada yang lebih bahagia dari kita walaupun tak punya materi sama seperti kita.

Bahagia dan bersedihlah secukupnya. Tak perlu merasa paling. Karena dari kebahagiaan dan kesedihan yang kita rasakan, pasti ada orang lain yang sedang merasa lebih bahagia atau lebih menderita.

:)

Senin, 19 Februari 2018

Tak kenal "Mengapa?" dan "Bagaimana?"

Senin, Februari 19, 2018 0 Comments
Memprotes Tuhan kala takdir menimpa merupakan kematian agama, kematian tauhid, kematian tawakal dan keikhlasan. Hati yang beriman tak kenal "Mengapa" dan "Bagaimana?". Tak kenal! (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)
.
.
Astaghfirullah..
Tak jarang..hati kita sering kali menggoreskan tanya "Mengapa?" atau "Bagaimana...?" pada ketentuan yang  telah Allah tuliskan untuk kita..walau kalimat "saya ikhlas dengan keadaan ini" mungkin saja sering kita ucapkan. Namun pada nyatanya,, "keikhlasan" itu sendiri telah mati di balik tanya "Mengapa?" atau "Bagaimana?" 😕😕😢
Astaghfirullah...
.
.
Semoga di sisa waktu yang masih kita miliki, kita mampu kembali menguatkan keimanan kita.. Kita mampu untuk tak membiarkan agama, tauhid, tawakal, juga keikhlasan kita mati sebelum waktunya..
.
.
#wildahrahmi
#selfreminder
#goresanpenarahmi
#muhasabahdiri

Sabtu, 11 November 2017

Rintik Hujan

Sabtu, November 11, 2017 0 Comments
Jangan kau tatap rintik hujan yang jatuh membentur bumi sebagai sesuatu yang membuka luka lama.
Atau sebagai suatu hal pembawa cerita
Tentang kamu dan masa lalu
Tentang kamu dan juga rindu.
Atau mungkin tentang kamu dan juga cinta.
Sejatinya ia memiliki keistimewaan lebih dari itu.
Ia memberikan ruang pada diijabahnya setiap doa dan harapan
Pada sang Khalik yang Maha Segala..
.
.
Jangan enggan berbisik mesra pada-Nya
Memohon segala kebaikan yang kau harapkan..
Mungkin saja..
Tiap tetes hujan itu akan menjadi saksi
Juga membawa bisikkanmu kepada Nya

Rabu, 08 November 2017

Akan tiba masanya

Rabu, November 08, 2017 0 Comments
Semua akan tiba masanya
.
.
Mengapa harus kau ukir rasa iri dan cemburu
Pada kebahagian yang tengah mereka rasakan
Jika pada akhirnya
Waktu mu pun akan datang
Jika sesungguhnya
Bahagiamu dapat kau ciptakan
.
Mengapa harus kau pendam rasa amarah
Pada kenyataan yang tak sejalan dengan harapan
Jika kelak nanti
Akan tiba masanya
Apa yang kau harapkan menjadi nyata
Jika sebenarnya
Kau dapat merubah rasa amarahmu menjadi kelapangan yang begitu luas dalam dada
.
Ah, sudahlah!
Berhenti merengek!
Berhenti mengeluh!
Berhenti mengingkari nikmat-Nya
.
Semua akan tiba masanya
Karena kehidupan ini terus berjalan
Dan kamu, tak selamanya berdiri disini

Sabtu, 04 November 2017

Hidup ini penuh kejutan!!

Sabtu, November 04, 2017 0 Comments
Kejutan. Siapa yang tak bahagia saat mendapatkan kejutan? Dan hidup ini terlalu penuh dengan kejutan. Setiap harinya, setiap detiknya, kita selalu mendapatkan "Kejutan" dari Allah. 

Entah itu yang membahagiakan, atau justru menyakitkan dalam perspektif kita. Karena sejatinya, setiap "hadiah" dan setiap "kejutan" yang DIA berikan, pasti itu yang terbaik untuk kita. 

Hanya saja kita terlalu sempit menilai setiap pemberian-Nya. Jika kita menyukai "kejutan" tersebut kita akan berkata "Ya Allah, Engkau baik sekali mengabulkan apa yang aku mau.."

Namun, jika "kejutan" itu dirasa tak sesuai dari yang diharapkan, kita akan berkata "Ya Allah,, kenapa begini? kenapa begitu?" dan akan ada sederetan pertanyaan lainnya yang seolah terkesan kita menolak "kejutan" dari-Nya. 

Kenapa kita tidak mencoba untuk berdamai lebih dulu dengan hati dan pikiran kita? bahwa apapun yang Allah berikan, kejutan dalam bentuk apapun, pasti mengandung hikmah yang sanagt luar biasa untuk kehidupan kita.


Bukan kah Allah Maha Penyayang?


Maka Dia memiliki baaanyaaak sekali cara untuk menyayangi kita dengan kejutan-kejutan yang tak pernah kita duga.

Sahabat,, hidup ini terlalu banyak kejutan-kejutan sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita.
maka, persiapkan lah diri kita untuk menerima setiap kejutan dari-Nya.
Cobalah untuk selalu berpositif hati dan pikiran saat menerima kejutan dari-Nya.. :)


_I talk to my self :) tak ada maksud mengguruimu, Sahabat.. :)_