Rabu, 05 Agustus 2026

Pelukan Untuk Reiga

Rabu, Agustus 05, 2026 0 Comments

Sudah tujuh belas tahun aku menjadi guru.

Aku pernah menghadapi kelas yang ramai, murid yang sulit diatur, sampai anak-anak yang enggan belajar. Tapi sore itu, di sebuah ruang kecil bernama TPQ Ulil Albab, seorang anak mengajarkanku sesuatu yang belum pernah kupelajari sebelumnya.

Namanya Reiga. Anak spesial yang Allah titipkan untuk aku bersamai proses belajar membaca Iqro`nya. Dia anak speechdelay. Berusia 4 tahun. Setiap sore, dia datang dengan senyum yang sama. Senyum yang membuatku tahu bahwa ia benar-benar bahagia datang ke TPQ. Semangat belajarnya selalu luar biasa. Saat aku menyapanya, ia melambaikan tangan sambil berkata, "Hai...", lalu berlari kecil memelukku.

Dalam dua belas hari belajar, Reiga sudah mampu mengenal huruf hijaiyah hingga huruf Jim. Bagiku, itu adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Bagiku, itu adalah sebuah kemajuan yang sangat berharga. Aku tidak meminta ia membaca layaknya anak-anak yang lain. Aku selalu memintanya untuk menunjukkan kepadaku, dimana letak huruf Alif, Ba, Ta, Tsa, dan Ja. Dan Reiga selalu berhasil menunjukkan dengan tepat huruf-huruf yang aku minta untuk di tunjukkan.

Sore itu, semua berjalan seperti biasa. Kelas yang ramai. Anak-anak yang bersemangat. Sampai akhirnya, tiba waktu untuk pulang. Rutinitas setiap kali anak-anak mau pulang adalah, aku berdiri dengan dengkulku, sehingga tinggiku dengan anak-anak hampir sama, mereka mencium tanganku, dan aku membalasnya ditambah pelukan singkat sebelum mereka keluar kelas. Tapi untuk Reiga, tidak. Dia jarang sekali mencium tanganku. Tiap ingin meninggalkan kelas, Reiga akan menghabmbur ke pelukanku dan memelukku begitu erat.

Tapi sore itu, aku tidak melakukannya. Aku tidak sadar kalau sore itu ada satu rutinitas kecil yang terlewat. Karena aku harus menggendong anak yang down syndrome, anak itu badannya agak panas. Sehingga aku tidak bisa memeluk anak-anak seperti biasanya. Dan Reiga, tidak salim, tidak juga memelukku. Dia keluar kelas sambil menahan tangis. Saat ibunya datang menjemput, dia menangis sejadi-jadinya. Ibunya ku tanya pun bingung sebab yang membuat Reiga seperti itu.

Saat aku mendekatinya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Tangisnya bukan seperti anak yang ingin jajan, bukan pula karena berebut mainan. Ada kesedihan yang seolah ingin ia sampaikan, meski tanpa banyak kata.

“Abang Reiga marah ya sama Ambu?” tanyaku sambil mengusap pundaknya. Dia menjawab dengan membuang muka.

“Abang Reiga sedih ya Ambu gak peluk Abang tadi?” dia memutar badannya dan kembali menangis.
Aku memeluknya dari belakang, sambil aku katakana “Maafin Ambu ya, Bang. Abang sedih ya gak dipeluk Ambu hari ini?” dia menjawab dengnan tangisan. Sesekali waktu dia mengusap air matanya. Dia masih membelakangi ku. “Maafin Ambu ya, Abang. Sini Ambu peluk.” Dia memutar badannya dan mau aku peluk.

“Abang sedih ya, belum dapat pelukan ambu?” dia menjawab dengan anggukan.

“Abang rindu dipeluk Ambu ya?” dia pun mengangguk lagi sambil menangis.

“Sekali lagi ambu minta maaf ya. Ambu dimaafin gak?” dia mengagguk lagi.

“Kalau Abang maafin Ambu, jangan nangis lagi ya..” dia pun menghapus sisa air matanya.

“Abang mau pulang?” lagi-lagi, dia menjawab dengan anggukan kepala.

“Kalau abang maafin Ambu, dan Abang mau pulang, Ambu bagi dulu sedikit senyuman abang.”

Dengan sisa air mata di ujung matanya, di memaksa menarik bibirnya untuk tersenyum. Setelah melambaikan tangan, dia pun berjalan pulang bersama ibu dan adiknya.

Dalam perjalanan ku mengajar selama 17 tahun lamanya, sore itu aku belajar. Betapa berharganya sebuah pelukan bagi seorang Reiga, anak spesial -speecdelay-, anak berusia 4 tahun, yang sedang Allah titipkan untuk ku bersamai proses belajarnya. Sore itu aku belajar dan aku mengetahui, bahwa suatu hal yang kadang kita anggap sepele dan tidak terlalu penting, justru sangat berharga untuk orang lain.

Reiga adalah jawaban atas doa-doaku. Dulu aku sering bertanya kepada Allah, apakah hidupku benar-benar membawa manfaat bagi orang lain.

Selain tiga mujahid yang terlahir dari rahimku, Reiga pun menjadi bukti dan jawaban bahwa ternyata, hadirku tidak harus mengubah dunia. Cukup menjadi dunia kecil bagi seorang anak yang sedang belajar percaya bahwa ia dicintai.

Mungkin itulah alasan Allah masih mengizinkanku menjadi guru sampai hari ini.