Kamis, 13 Agustus 2026

Gantungan Kunci Syaqila

Kamis, Agustus 13, 2026 0 Comments


Pulang dari sekolah dengan sisa tenaga yang ada, aku tidak pulang ke rumah. Tidak berganti pakaian. Bahkan tidak sempat beristirahat.

Aku langsung mendarat di TPQ.

Hari itu, rasanya tubuhku benar-benar lelah. Suaraku bahkan sudah tidak lagi seperti biasanya. Serak dan berat. Tapi sore tetap berjalan, dan anak-anak sudah menunggu untuk belajar.

Dengan sisa energi yang ada, aku melangkah, memasuki kelas dengan tetap menyisipkan senyum menyapa para malaikat kecilku. Dan mereka berhambur menyambutku, berebut mencium tanganku. Bahkan ada yang meminta untuk ku peluk.

Rasanya lelahku menguap perlahan. Dan saat aku duduk di kursiku, sebelum kelas dimulai, seorang gadis kecil menghampiriku. Syaqila namanya.

Di tangannya ada sebuah gantungan kunci dan bunga tulip kecil yang terbuat dari kain flanel.

“Ini buat Ambu.”

Sesederhana itu, namun bisa membuat senyumku semakin mengembang.

Tidak ada pesta. Tidak ada sesuatu yang mewah. Hanya dua benda kecil yang mungkin, bagi sebagian orang tidak berarti apa-apa.

Tapi lagi-lagi, hatiku dibuat terasa hangat oleh perlakuan sederhana seorang anak kecil yang masih begitu polos dan tulus dalam mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Ucapan dan perlakuan sederhananya membuatku merasa ada sesuatu yang pelan-pelan meringankan hati. Ada sesuatu yang membuat lelahku terasa perlahan berkurang.

Mungkin karena ketika kita menjalani sesuatu dengan niat melakukan kebaikan, Allah sering kali mengirimkan cara-cara kecil untuk menguatkan kita.

Lewat senyuman.

Lewat pelukan.

Lewat benda-benda kecil yang terlihat sederhana namun membawa beribu makna dan kenangan.

Pada akhirnya aku semakin menyadari, barangkali menjadi guru memang tidak selalu tentang seberapa banyak ilmu yang berhasil kita berikan. Bukan tentang seberapa mahal hadiah yang didapatkan.

Karena terkadang, menjadi guru adalah tentang pulang membawa sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.

Sebuah perhatian kecil.

Sebuah kasih sayang.

Dan sebuah perasaan bahwa…

ternyata, lelah kita tidak pernah benar-benar sia-sia.

Senin, 10 Agustus 2026

Bros Kecil Dari Amira

Senin, Agustus 10, 2026 0 Comments

Bros itu kecil.

Sangat kecil. Bahkan mungkin tidak akan menarik perhatian siapa pun jika ia diletakkan di antara banyak benda lainnya.

Tapi sore itu, seorang anak perempuan datang menghampiriku dan menyerahkannya dengan kedua tangannya.

"Ini hadiah buat Ambu dari aku."

Aku menerimanya sambil tersenyum, diliputi rasa tak percaya.

Entah mengapa, benda kecil itu terasa jauh lebih besar daripada ukurannya.

Sore itu, baru saja aku memasuki masjid, gadis kecil itu langsung menghampiriku. Ia menunjukkan sebuah benda kecil yang ada di tangannya.

Awalnya aku pikir ia hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.

"Bagus nggak, Ambu?"

"Bagus banget!"

Lalu tanpa kuduga, ia menyerahkannya kepadaku.

"Ini hadiah buat Ambu dari aku."

Namanya Amira.

Seorang anak perempuan yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar.

Dan entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hatiku hangat.

Bukan karena bros kecil yang kini berada di tanganku.

Bukan karena hadiah itu.

Tetapi karena ada seorang anak yang, entah sejak kapan, menyimpan sedikit ruang di pikirannya untuk memikirkan gurunya.

Ia melihat sesuatu.

Mungkin ia menyukainya.

Mungkin ia merasa benda itu indah.

Lalu ia berpikir untuk memberikannya kepadaku.

Sesederhana itu.

Namun bagiku, tidak sesederhana itu.

Karena ini bukan tentang sebuah bros.

Ini tentang rasa.

Tentang perhatian.

Tentang cara seorang anak mengekspresikan kasih sayangnya kepada gurunya.

Dan aku bersyukur.

Sangat bersyukur.

Karena rasanya seperti Allah sedang mengirimkan jawaban, sekali lagi, atas doa yang pernah kupanjatkan sebelum memulai amanah ini.

Aku pernah meminta kepada Allah agar ketika aku mengajar di TPQ, di lingkungan tempat tinggalku sendiri, hal pertama yang ingin kutanamkan kepada anak-anak bukanlah sekadar kemampuan membaca Iqra'.

Aku ingin mereka merasa nyaman.

Aku ingin mereka merasa aman.

Dan aku ingin mereka merasa bahagia ketika datang untuk belajar.

Aku ingin mereka tahu bahwa masjid dan ruang belajar ini bukan tempat yang membuat mereka takut.

Bukan tempat di mana mereka harus selalu merasa salah ketika belum bisa.

Tetapi tempat di mana mereka boleh tumbuh perlahan, dengan cara mereka masing-masing.

Dan mungkin...

Allah sedang memperlihatkan kepadaku bahwa doa itu mulai tumbuh.

Di hari ketujuh belas pertemuan tatap muka bersama anak-anak, aku menerima sebuah hadiah kecil.

Sebuah bros.

Benda yang mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain.

Tetapi sore itu, ia mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih besar.

Bahwa ternyata, rasa nyaman yang kita tanamkan kepada seseorang bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita duga.

Kadang dalam bentuk pelukan.

Kadang dalam sebuah senyuman.

Kadang dalam kalimat sederhana,

"Ambu, aku kangen ngaji."

Dan sore itu...

Dalam bentuk sebuah bros kecil dari seorang anak perempuan bernama Amira.

Mungkin menjadi guru memang bukan selalu tentang seberapa banyak ilmu yang berhasil kita pindahkan kepada anak-anak.

Kadang, menjadi guru adalah tentang membuat seorang anak merasa cukup aman untuk datang menghampiri kita, tersenyum, lalu berkata,

"Ini hadiah buat Ambu dari aku."

Dan saat itu terjadi, kita sadar...

Barangkali bukan hanya mereka yang sedang belajar.

Aku pun sedang belajar.

Belajar bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar.

Terkadang ia hanya berupa sebuah benda kecil, dari tangan kecil seorang anak, yang diam-diam membawa pesan begitu besar:

"Ambu, aku senang berada di sini."

Dan untuk seorang guru... Mungkin itu sudah lebih dari cukup.


Rabu, 05 Agustus 2026

Pelukan Untuk Reiga

Rabu, Agustus 05, 2026 0 Comments

Sudah tujuh belas tahun aku menjadi guru.

Aku pernah menghadapi kelas yang ramai, murid yang sulit diatur, sampai anak-anak yang enggan belajar. Tapi sore itu, di sebuah ruang kecil bernama TPQ Ulil Albab, seorang anak mengajarkanku sesuatu yang belum pernah kupelajari sebelumnya.

Namanya Reiga. Anak spesial yang Allah titipkan untuk aku bersamai proses belajar membaca Iqro`nya. Dia anak speechdelay. Berusia 4 tahun. Setiap sore, dia datang dengan senyum yang sama. Senyum yang membuatku tahu bahwa ia benar-benar bahagia datang ke TPQ. Semangat belajarnya selalu luar biasa. Saat aku menyapanya, ia melambaikan tangan sambil berkata, "Hai...", lalu berlari kecil memelukku.

Dalam dua belas hari belajar, Reiga sudah mampu mengenal huruf hijaiyah hingga huruf Jim. Bagiku, itu adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Bagiku, itu adalah sebuah kemajuan yang sangat berharga. Aku tidak meminta ia membaca layaknya anak-anak yang lain. Aku selalu memintanya untuk menunjukkan kepadaku, dimana letak huruf Alif, Ba, Ta, Tsa, dan Ja. Dan Reiga selalu berhasil menunjukkan dengan tepat huruf-huruf yang aku minta untuk di tunjukkan.

Sore itu, semua berjalan seperti biasa. Kelas yang ramai. Anak-anak yang bersemangat. Sampai akhirnya, tiba waktu untuk pulang. Rutinitas setiap kali anak-anak mau pulang adalah, aku berdiri dengan dengkulku, sehingga tinggiku dengan anak-anak hampir sama, mereka mencium tanganku, dan aku membalasnya ditambah pelukan singkat sebelum mereka keluar kelas. Tapi untuk Reiga, tidak. Dia jarang sekali mencium tanganku. Tiap ingin meninggalkan kelas, Reiga akan menghabmbur ke pelukanku dan memelukku begitu erat.

Tapi sore itu, aku tidak melakukannya. Aku tidak sadar kalau sore itu ada satu rutinitas kecil yang terlewat. Karena aku harus menggendong anak yang down syndrome, anak itu badannya agak panas. Sehingga aku tidak bisa memeluk anak-anak seperti biasanya. Dan Reiga, tidak salim, tidak juga memelukku. Dia keluar kelas sambil menahan tangis. Saat ibunya datang menjemput, dia menangis sejadi-jadinya. Ibunya ku tanya pun bingung sebab yang membuat Reiga seperti itu.

Saat aku mendekatinya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Tangisnya bukan seperti anak yang ingin jajan, bukan pula karena berebut mainan. Ada kesedihan yang seolah ingin ia sampaikan, meski tanpa banyak kata.

“Abang Reiga marah ya sama Ambu?” tanyaku sambil mengusap pundaknya. Dia menjawab dengan membuang muka.

“Abang Reiga sedih ya Ambu gak peluk Abang tadi?” dia memutar badannya dan kembali menangis.
Aku memeluknya dari belakang, sambil aku katakana “Maafin Ambu ya, Bang. Abang sedih ya gak dipeluk Ambu hari ini?” dia menjawab dengnan tangisan. Sesekali waktu dia mengusap air matanya. Dia masih membelakangi ku. “Maafin Ambu ya, Abang. Sini Ambu peluk.” Dia memutar badannya dan mau aku peluk.

“Abang sedih ya, belum dapat pelukan ambu?” dia menjawab dengan anggukan.

“Abang rindu dipeluk Ambu ya?” dia pun mengangguk lagi sambil menangis.

“Sekali lagi ambu minta maaf ya. Ambu dimaafin gak?” dia mengagguk lagi.

“Kalau Abang maafin Ambu, jangan nangis lagi ya..” dia pun menghapus sisa air matanya.

“Abang mau pulang?” lagi-lagi, dia menjawab dengan anggukan kepala.

“Kalau abang maafin Ambu, dan Abang mau pulang, Ambu bagi dulu sedikit senyuman abang.”

Dengan sisa air mata di ujung matanya, di memaksa menarik bibirnya untuk tersenyum. Setelah melambaikan tangan, dia pun berjalan pulang bersama ibu dan adiknya.

Dalam perjalanan ku mengajar selama 17 tahun lamanya, sore itu aku belajar. Betapa berharganya sebuah pelukan bagi seorang Reiga, anak spesial -speecdelay-, anak berusia 4 tahun, yang sedang Allah titipkan untuk ku bersamai proses belajarnya. Sore itu aku belajar dan aku mengetahui, bahwa suatu hal yang kadang kita anggap sepele dan tidak terlalu penting, justru sangat berharga untuk orang lain.

Reiga adalah jawaban atas doa-doaku. Dulu aku sering bertanya kepada Allah, apakah hidupku benar-benar membawa manfaat bagi orang lain.

Selain tiga mujahid yang terlahir dari rahimku, Reiga pun menjadi bukti dan jawaban bahwa ternyata, hadirku tidak harus mengubah dunia. Cukup menjadi dunia kecil bagi seorang anak yang sedang belajar percaya bahwa ia dicintai.

Mungkin itulah alasan Allah masih mengizinkanku menjadi guru sampai hari ini.