Tak ada satu pun di bumi ini yang melewati perjalanan hidup hanya dengan cerita tentang keindahan, kebahagiaan, tawa, dan pesta keberuntungan. Semua pasti berjalan melewati kerikilnya masing-masing. Ada yang harus terjatuh, terluka, bahkan terseok melanjutkan langkah.
Termasuk kamu.
Jika hari ini kamu kembali berdiri pada persimpangan jalan, kali ini pilihannya hanya ada dua: berjalan menuju tempat yang sama dengan ribuan kerikil yang sama dan tak mengubahmu menjadi apa-apa, atau berjalan ke arah yang baru, dengan rintangan baru sebagai kejutan. Dan mungkin, itulah jalan yang membawamu menuju tempat yang lebih baik—meski harus melahirkan dirimu yang baru, dirimu versi yang jauh lebih kuat.
Mana yang akan kamu pilih?
Ketika kamu memilih diam, itu pun sudah menjadi pilihan yang kamu tetapkan. Kamu tak bergerak. Tak melangkah. Hingga akhirnya, kamu tak pernah benar-benar tahu arah, apalagi sampai pada tujuan.
Di saat yang lain memilih jalannya, mengambil segala konsekuensinya, menghadapi setiap badainya, mereka sampai pada tujuannya. Sedangkan kamu? Memilih diam. Dan akhirnya tak pernah benar-benar sampai pada tempat yang kamu impikan.
Hidup tak selalu berisi tentang keindahan. Terkadang, kamu hanya perlu berani jujur dalam memilih. Berjalan dengan berani, meski kamu tak pernah benar-benar tahu badai apa yang sedang menanti untuk kamu hadapi. Tugasmu hanya cukup percaya bahwa pundakmu cukup kuat untuk menghadapi setiap rintangan yang menyapa dalam langkahmu menuju tujuan yang telah kamu tetapkan.
Hidup memang banyak pahitnya. Tapi jangan menutup mata dan telinga. Sebab di balik pahit yang kamu cicipi hari ini, sang penulis cerita kehidupanmu sedang menyiapkan hadiah yang begitu manis untuk kamu nikmati sambil beristirahat, menghapus lelah dan luka-luka yang tercipta di hari kemarin.
Hidup akan selalu penuh kejutan. Karena sejatinya, cerita hidup ini hanya berisi misteri yang akan terjawab ketika kita melangkah.
Tak perlu berlomba untuk menjadi lebih baik dari yang lain.
Berlombalah untuk menjadi lebih baik dari dirimu di masa lalu.
Sebaik apa pun kamu memandang masa lalumu yang indah, ia tetap hadir untuk memberikan pelajaran agar kamu terus melangkah dan menjemput dirimu yang lebih baik.
Dan pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit terluka. Melainkan tentang siapa yang mampu menjadikan luka-lukanya sebagai alasan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya di masa lalu.
Maka jangan terlalu lama menyesali langkah yang pernah salah. Jangan terus memeluk luka yang seharusnya sudah kau jadikan pelajaran. Karena hidup tidak meminta kamu menjadi sempurna. Hidup hanya ingin melihatmu terus bertumbuh—menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mengenal dirimu dibanding hari-hari kemarin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar