Kamis, 19 Februari 2026

Selesai Tanpa Hadir


Aku menerima kabar itu di pagi yang biasa saja. Tidak ada hujan, tidak ada petir, hanya pesan singkat berisi undangan pernikahan—namamu di sana, berdampingan dengan nama orang lain. Tanganku gemetar bukan karena terkejut, tapi karena aku tahu, ini memang akan terjadi. Aku hanya tidak menyangka, aku harus mengetahuinya dengan cara yang begitu sunyi.

Kita pernah saling berjanji tanpa kata “selamanya”. Cukup dengan tatapan dan rencana-rencana kecil yang kita simpan diam-diam. Aku menunggumu tumbuh, sementara kamu memilih jalan yang lebih pasti. Aku kalah bukan oleh cinta yang habis, melainkan oleh waktu yang tak sabar menungguku siap. Dan sejak hari itu, aku belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti dipilih.

Kini aku belajar berdamai. Mengikhlaskanmu menikah bukan berarti aku lupa, hanya saja aku lelah memeluk kenangan sendirian. Di hari pernikahanmu nanti, mungkin aku tidak datang, tapi doaku akan tetap singgah—bukan agar kamu menyesal, melainkan agar aku benar-benar selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.