Minggu, 11 Februari 2024
Selasa, 06 Februari 2024
Merayu Allah
Berada dalam kondisi yang sama bertahun lamanya sungguh melelahkan. Perasaan putus asa dan ingin menyerah sering kali menyapa. Tapi aku tau, bahwa tidak akan ada perubahan jika bukan diri ini yang bergerak melakukan sesuatu untuk sebuah perubahan.
Aku si paling enggan pergi untuk bertemu banyak orang, kini harus mulai mendobrak keberanian untuk bisa tetap tersenyum manis di hadapan banyak orang meski raga begitu lelah, meski energi dalam jiwa seolah ditarik begitu banyak.
Minggu, 04 Februari 2024
Lucunya Hidup Ini
Aku sering kali mendengar kalimat bijak mengatakan, jika kamu ingin dihargai orang, maka, hargailah orang lain. Jika kamu tak ingin dikecewakan, maka jangan lah mengecewakan orang lain. Hidup seolah terlihat sesimpel itu. Seolah pengaturannya ada di tangan kita. Berlandaskan hukum sebab akibat. Namun pada nyatanya hidup tak semulus itu. Banyak sekali kelucuan yang terjadi di luar nalar dan logika.
Sabtu, 03 Februari 2024
Manipulasi Topeng
Rembulan dimalam ini lucu
Ada gelak tawa di dinding
Suara Tuan menggema dalam kelakar jenaka
Pandai memoles tembok menjadi halus
Layaknya manusia yang mencoba bergelut dengan pedang
Langkah kaki tuan memecah kesunyian
Meninggalkan jejak kelok dalam lintasan
Menipu puluhan pasang mata
Dan gencar kesana kemari mencari pembenaran
Sabtu, 27 Januari 2024
Berharap Kau Kembali
Aku memang belum melewati banyak waktu bersamamu. Mungkin terdengar berlebihan jika aku katakan bahwa aku merasa telah banyak mengenalmu. Tapi binar mata, irama suara, bahkan helaan sesakmu, aku telah banyak mendengarnya. Akupun telah melewati masa dimana kau pernah memutuskan untuk melangkah pergi dariku, tidak hanya sekali tapi berulangkali.
Selasa, 23 Januari 2024
Aku Ingin Pulang
Sudah ribuan kilometer ku melangkah, menjauh dari tanah kelahiran. Meninggalkan dua orang teristimewa nan berharga dalam hidupku. Dengan dalih, aku ingin berjuang menggapai impian demi membuat mereka tersenyum bangga. Serta terangkat martabatnya. Aku tahu pergi menjauh dari rumah yang begitu hangat adalah langkah yang paling berat ku ayunkan. Tapi mereka mendorongku untuk tetap pergi, dengan alasan, agar aku mendapatkan segala hal terbaik di tanah rantau. Demi melihat senyum bangga terukir di wajah mereka, ku sapa tanah rantau dengan suka cita. Ku katakana pada mereka aku telah sampai dengan selamat dan bahagia.
Mungkin Tuhan Mendengar Inginku
Mungkin
Tuhan mendengar inginku. Sebuah keinginan untuk menjauh dari apa yang sedang begitu
dicintai. Meski ragu, hati dan pikiran begitu menolak inginnya, pada
kenyatannya aku memang harus menerima keadaan dimana inginku
diwujudkan oleh-Nya perlahan. Segala rasa yang telah terucap begitu indahnya
kemarin, hilang tak meninggalkan jejak.
Mungkin Tuhan mendengar inginku, agar aku tersadarkan pada kenyataan bahwa sejatuh apapun perasaanku saat ini,
pada akhirnya aku harus mulai bangkit dan belajar melepaskan.
Sebab itu, mulai hari ini aku mencoba untuk tidak banyak mencarimu. Tidak terlalu lama menunggumu. Tidak sering hadir memanggilmu.
Minggu, 21 Januari 2024
Berhenti
Apa yang kau cari? Apa yang kau tuju?
Tanya itu berulang menyapa gendang telingaku. Menggelitik pikiran serta hatiku. Berharap aku segera tersadar, bahwa langkah yang aku jejaki adalah keliru. Aku sedang berjalan menjauh dari menggapai impian tertinggi. Padahal, di setiap waktu saat aku bercengkrama dengan sang Pencipta, impian itu menjadi nomor satu yang terucap dengan lirih. Namun, ternyata langkah yang diayun justru membuatku semakin jauh dari gerbang tercapainya impian.
Sabtu, 13 Januari 2024
Maaf
Maaf. Satu kata yang selalu hadir saat bayang wajahmu menari dalam ingatan. Satu kata yang ingin sekali ku ucapkan sejak lama kepadamu, saat aku tak mampu menolak perjodohan itu. Jika kamu merasa tersiksa dengan perpisahan yang tak pernah kita inginkan ini, maka harus ku beritahu padamu, bahwa aku pun tak lebih baik darimu.
Aku sama tersiksanya. Atau bahkan lebih tersiksa darimu. Karena aku, harus menjalankan sebuah pernikahan yang tak ada cinta di dalamnya. Jangan tanya kenapa, karena kamu pasti tau, bahwa cintaku telah habis di kamu. Keadaan ini bukan kita yang mau, kan?
Hai, diriku
Hai, diriku.
Sudah puluhan tahun dirimu berjalan mengarungi kehidupan yang fana ini. Langkahmu semakin dekat dengan gerbang akhir perjalanan hidup.
Lalu, bekal apa yang telah kau persiapkan sampai hari ini?
Mengenang tanggal lahir bukanlah tentang pesta meriah berlimpah hadiah. Namun hakikat pertemuan dengan tanggal lahirmu adalah perenungan, sebanyak apa bekal yang telah kau persiapkan untuk pulang? Sebesar apa dirimu bermanfaat untuk orang banyak?
Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya?
Hai, diriku.
Jangan berhenti berterimakasih pada Tuhan, ya. Karena DIA masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri, berproses menjadi lebih baik lagi, belajar untuk terus menebar kebaikan sepanjang hari, dan mengasah ilmu ikhlas juga sabar yang harus terus terisi.








