Minggu, 17 April 2022

Allah, Sang Pemberi Rezeki

Minggu, April 17, 2022 0 Comments


‘Telur habis, minyak goreng menipis, gula habis. Hhhfff besok harus belanja lagi kalau begitu.’ Desis bu Ratna setelah mengontrol keadaan dapur asrama.

Keadaan pondok pesantren yatim dhuafa yang dikelola bersama mediang suaminya sedang tidak baik-baik saja. Terutama dalam keadaan pemasukan finansial. Ia harus benar-benar putar otak untuk mengatur keuangan yang pemasukannya tak seberapa. Tak jarang ia mengetuk pintu menjalin silaturrahim kepada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari donatur pesantren, dan meminta sedikit infaknya untuk pesantren. Agar dapur bisa terus ngebul.

“Ya Allah, Ya Rabb… bantu kami. Kirimkanlah rezeki untuk anak-anak santri kami melalui orang-orang baik yang Engkau gerakkan hatinya. Cukupkanlah segala kebutuhan mereka ya, Rabb. Dzat yang Maha Pengasih Maha Penyayang.” Pinta Bu Ratna pada suatu malam seusai tahajudnya. Ia tahu, bahwa hanya ada satu dzat yang tidak pernah mengecewakan dan akan selalu mengabulkan segala permintaannya, Allah. Entah bagaimana cara-Nya, seringkali Bu Ratna merasakan Maha Kuasanya Allah dengan mengirimkan orang-orang baik yang mencukupi kebutuhan makan sehari-hari untuk anak-anak santri di tempatnya.

Keesokan harinya, ia mendapat kabar bahwa akan ada salah seorang kerabatnya yang ingin berkunjung. Tentu hal tersebut disambut dengan sangat baik oleh Bu Ratna. Pukul sembilan pagi, sang kerabat yang ditunggu pun tiba.

“Berdua aja?” tanya Bu Ratna menyapa sang kerabat saat baru tiba.

Kamis, 14 April 2022

Bijak Bermedia Sosial

Kamis, April 14, 2022 0 Comments

“Assalammualaikum…” terdengar suara Ayah yang baru pulang kerja. Dhira yang sedang sibuk dengan tugas sekolahnya segera keluar kamar menyambut kedatangan sang Ayah. Tiga hari tidak bertemu dengan Ayahnya merupakan kerinduan terberat bagi Dhira.

“Walaikumsalam… Ayah….” Sapa Dhira yang langsung menghambur kepelukan Ayah. Ayah yang masih duduk di kursi tamu demi melepas penat sejenak langsung tersenyum bahagia mendapatkan pelukan hangat dari anak perempuan semata wayangnya.

“Ibu mana, Nak?” tanya Ayah setelah melepaskan pelukannya dan mendaratkan kecupan hangat di kening Dhira.

“Lagi ke luar tadi sama abang Faiz.” Jawab Dhira. “Aku kira Ayah akan pulang selepas Isya.” Lanjut Dhira.

“Enggak, Alhamdulillah kerjaan Ayah selesai lebih cepat dari perkiraan.”

“Alhamdulillah, soalnya Dhira kangen banget sama Ayah.” Ucap Dhira sambil menyandarkan kepalanya di lengan Ayah.

“Baru juga tiga hari enggak ketemu Ayah.” Ledek Ayah.

“Tiga hari tuh lama, Ayah!” rajuk Dhira.

“Iya..iya..maaf.” Jawab Ayah sambil mencubit kecil hidung Dhira yang mungil. “Ayah ke kamar dulu ya, istirhat dulu. Nanti kita buka puasa dan terawih di rumah aja, ya..” lanjut Ayah.

“Siap ayah! Dimanapun asal sama Ayah, Dhira ikut!” jawab Dhira sambil berlagak seperti prajurit yang sedang hormat kepada komandannya.

“Tolong kasih tahu Fawwaz dan Farzan, Ayah tunggu buka puasa di rumah.” Perintah Ayah sebelum benar-benar memasuki kamar.

Tanpa menunda, Dhira langsung menghubungi Fawwaz, kakak pertama, dan juga Farzan, kakak kedua yang sedang berada di kampus masing-masing. Setelah itu, Dhira kembali melanjutkan mengerjakan tugas sekolahnya di kamar.

Tidak lama kemudian,

Rabu, 13 April 2022

Tak Ada yang Tertolak

Rabu, April 13, 2022 0 Comments


 

((10/30)) Ditinggalkan oleh seseorang yang paling penting dalam hidup ini adalah hal yang paling menyesakkan. Ditambah ada amanah besar yang harus dijalankan. Sedangkan ilmunya belum banyak diwariskan.

Bingung! Ingin menyerah! Ingin pergi meninggalkan, namun rasnaya sulit. ‘Ah, Abi, aku harus bagaimana?’ pertanyaan itu sering kali terlontar dalam diamku.

Tujuh tahun lalu, Abi kembali ke kampung abadi dengan begitu tenang, dan terlihat bahagia. Terpancar dari wajahnya yang bersih, bercahaya, dan juga tersenyum setelah ruhnya terlepas dari jasad. Ia meninggalkan sebuah pesantren sebagai ladang dakwahnya. Pesantren yang mengutamakan menampung anak-anak yatim dhuafa.

Selasa, 12 April 2022

Bukan Milik Kita

Selasa, April 12, 2022 0 Comments


 9/30

Beberapa hari lalu, aku membaca berita tentang dua orang anak lelaki yang ditinggalkan di pinggir jalan oleh orangtunya. Ada juga tayangan berita yang memberitahukan tentang seorang bayi yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Yang sempat viral adalah tentang seorang ibu yang tega menggorok anaknya dengan dalih ia tak ingin anaknya merasakan sakit karena kejamnya hidup baginya.

Mungkin bagi mereka itu bentuk dari kasih sayang mereka. Mereka tentu berpikir bahwa anak-anak mereka harus tumbuh bahagia dan berkecukupan. Aku yakin mereka tentu juga pedih melakukan itu semua, namun mereka seolah tak memiliki pilihan. Padahal, bagi seorang anak, hidup bersama dengan orangtuanya adalah sebuah kebahagiaan itu sendiri.

Ah, rasanya Miris! Sedih!

Rabu, 16 Maret 2022

Hai, Kenangan!

Rabu, Maret 16, 2022 0 Comments
pict form pixabay

Hai, kenangan...
Selama ini, kau terlalu rapat kusimpan dalam sudut memori.
Seringkali... aku takut menghadirkanmu kembali ke permukaan ingatan 
Aku takut, saat menghadirkanmu kembali, aku akan kembali ikut tenggelam ke masa itu. 
Masa dimana semua begitu indah, penuh tawa bahagia, sekaligus penuh torehan luka tak berdarah
Aku ingin membuangmu dari sudut memori
Karena adanya dirimu; walau hanya sebatas sebuah kenangan, seringkali membuat sesak dada ini

Senin, 14 Februari 2022

Coming Back (part 1)

Senin, Februari 14, 2022 1 Comments

 

Oktober, 2016.

Sejak hari itu, aku ingin membuktikan kepadanya, bahwa tanpanya aku akan baik-baik saja. Ya! Setidaknya aku tidak ingin terlihat lemah didepannya. Aku tidak ingin dia melihat air mata menetas dari sudut mataku. Walau hanya setetes! Tidak akan ku biarkan dia melihatnya. Aku tidak ingin dia merasa bahwa lelaki baik di bumi ini hanya dia saja. Masih banyak lelaki baik yang akan datang dan menggantikan posisi mu kelak di hatiku. Itu yang aku katakan dan aku tancapkan dalam hatiku yang basah karna menangisi perpisahan itu. Tentu saja aku katakan itu demi menguatkan hati dan diriku atas keputusannya yang begitu tiba-tiba. Walau nyatanya aku nyaris tak bisa bernapas dan berdiri saat dia katakan perpisahan itu dengan begitu tegas.

Senin, 07 Februari 2022

Just for You

Senin, Februari 07, 2022 0 Comments

 


















Kali ini, izinkan aku mengabadikan rasa syukurku karena dititipkan oleh Allah kepada lelaki seperti mu, di ruang ini.

Kamu, lelaki terbaik yang aku miliki setelah Abi. Sebentar lagi, usia bahtera ini memasuki angka delapan tahun. Aku tahu, ini bukanlah perjalanan yang singkat. Walau dilihat dari usia anak-anak, usia pernikahan kita ini ibarat ny masih anak-anak sekali. Tapi selama delapan tahun ini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan darimu. 

Pada awalnya,

Senin, 25 Oktober 2021

Manusia Hanyalah Manusia

Senin, Oktober 25, 2021 0 Comments


 Manusia, hanyalah manusia

Sehebat apapun ia di mata manusia lainnya, tetap saja ia hanyalah manusia biasa, yang tidak sehebat itu, karena ia sama-sama diciptakan oleh Tuhan yang sama.

Semanis apapun ia pada seseorang, tetap saja ia hanyalah manusia biasa, yang tanpa disadari akan berubah menjadi hal terpahit bagi orang lain. Karena waktu dapat merubahnya

Sebaik apapun ia, tetap saja ia hanyalah manusia biasa, yang memang tidak sebaik itu, karena ada masanya dimana waktu membuat ia berubah menjadi sosok yang tidak pernah bisa dikenali lagi

Sabtu, 09 Oktober 2021

Beradab Dulu Berilmu Kemudian

Sabtu, Oktober 09, 2021 0 Comments


Saat ini, berapa banyak kita bisa melihat dan menyaksikan sendiri dari orang-orang terdekat, dari kerabat karib, bahwa mereka memiliki ilmu yang tinggi, hafalan quran yang banyak, penguasaan ilmu tafsir, fiqih, hadist yang luar biasa. Namun sikap, dan adab mereka terhadap orang-orang sekitarnya tidak mencerminkan dan tidak sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. 

Para ulama kita telah banyak memberikan peringatan bahwa kita harus mempelajari adab terlebih dulu sebelum menggeluti sebuah bidang keilmuan. Imam Malik rahimahullah pernah mengatakan:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Belajarlah adab sebelum belajar ilmu” (Hilyatul Auliya [6/330], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17])

Mengapa beradab dulu menjadi lebih penting sebelum kita menguasai sebuah ilmu?

Lihat! Yusuf bin Al Husain rahimahullah pernah berkata:

بالأدب تفهم العلم

“Dengan adab, engkau akan memahami ilmu” (Iqtidhaul Ilmi Al ‘Amal [31], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).

Jumat, 17 September 2021

Air Mata

Jumat, September 17, 2021 0 Comments

 


Hai, kamu yang telah memanggilku. terimakasih telah menjadikanku kawanmu. Kawan di setiap keadaan. Aku tahu, hadirku tak selalu menandakan suatu yang buruk. Terkadang, untuk hal yang membahagiakan saja, kamu pasti menghadirkanku. Lalu kau sebut aku ini "air mata kebahagiaan." Banggakah aku? Oh tentu, karena dengan hadirku orang yang melihatmu akan ikut menjadi haru, dan haru kebahagiaanmu akan semakin meningkat bukan?

Aku mungkin sering kali hadir di saat yang tak baik. Di saat kamu berduka, di saat kamu merasa sangat lelah, di saat kamu merasa sepi, atau bahkan di saat kamu sedang merindu. Apapun itu keadaan mu, aku tetap bangga dan bahagia, karena kamu menghadirkan aku sebagai kawanmu. Mengeluarkan ku secara nyata bukan berarti kamu adalah manusia lemah dan cengeng. Hadirku bisa saja menguatkan kamu kembali dari segala kelemahan dan kerapuhan yang menimpa. Ya kan?

Aku bangga dengan kamu, yang mampu menahanku untuk tidak keluar dari persembunyian. Walau nyatanya, aku sangatlah kamu butuhkan. Tidak mengapa. Walau ku tak nyata di wajahmu, namun aku tetap ada. Mendampingimu, dan menjadi saksi dari segala rasa yang tercipta di hatimu. 

Duhai kamu yang telah menyimpanku begitu rapih, yang mengizinkan aku keluar ketika kita hanya berdua, yang tidak ingin menampakkan aku secara nyata dan berlebihan kepada khalayak banyak, aku ucapkan, terimakasih. Terimakasih kamu sudah belajar selalu kuat sejauh ini. Walau aku adalah bagian dari partikel kecil yang membantu menguatkan mu. Jangan malu untuk menghadirkanku, apalagi saat kamu sedang bersimpuh kepada-Nya. Aku akan sangat bangga dan bahagia saat kamu mampu menghadirkanku di saat kamu sedang bersama-Nya.

Sekali lagi, terimakasih ya.