Zona Kalut
Jika ada satu hari istimewa yang memberiku kesempatan menentukan pilihan—mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin—mungkin aku akan memilih untuk menghilang sejenak dari kehidupanku hari ini.
Jika ada satu hari istimewa yang memberiku kesempatan menentukan pilihan—mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin—mungkin aku akan memilih untuk menghilang sejenak dari kehidupanku hari ini.
Selamat menjejaki usia baru di tanggal yang sama.
Jika di tahun-tahun yang telah berlalu tanggal ini selalu kau sambut dengan kebahagiaan yang utuh, atau justru dengan harapan yang melangit dan berujung kecewa, biarkan hari ini menjadi hari perenunganmu yang paling menenangkan.
Tentang betapa sering kamu jatuh, terpuruk, lalu tetap memilih bangkit dan memperbaiki langkahmu.
Tiga tahun yang lalu. Di atap salah satu gedung pencakar langit, kami menikmati indahnya guratan langit senja di ibu kota. "Aku ingin kamu tau, bahwa aku hanya butuh kamu untuk melengkapi hidupku." Kalimat itu mengalir dari lisannya begitu halus, seperti desir angin yang dengan lembut membelai wajah. Setelah obrolan panjang tentang banyak hal, aku heran, kenapa harus kalimat itu yang seolah menjadi penutupnya?
Aku terdiam, sambil mencari tanda-tanda kepalsuan dari tatap matanya yang begitu dalam. Tapi aku tak menemukan itu.
"Will you marry me?" Pertanyaan itu terdengar lembut dan penuh pengharapan. Pertanyaan itu, seolah ingin membunuh keraguan yang mungkin bisa ia tangkap dari senyum atau bahkan dari tatap mataku.
"Kamu gak perlu menjawabnya sekarang kalau kamu butuh waktu untuk .... "
"Ya, aku mau." Ucapku memotong kalimatnya.
Kali ini, dia yang menatapku dengan ragu.
"Ya. Aku mau menjadi pendamping hidupmu, seumur hidup." Tegasku memangkas keraguannya.
Kami saling bertukar senyum, senyum bahagia yang disaksikan oleh langit senja ibu kota. Sejak hari itu, kami seringkali merancang cerita tentang masa depan. Menjalani hari-hari dengan banyak belajar saling memahami.
Namun kini, aku kembali berdiri di tempat yang sama. Menikmati semburat jingga yang begitu indah. Sambil membaca ulang undangan pernikahan digital yang dikirimkan salah satu teman kantorku beberapa minggu yang lalu.
Ada nama serta foto dia yang tertera begitu jelas. Bersanding dengan wanita yang konon adalah pilihan orangtuanya. Jangan tanya bagaimana sakitnya aku melihat kenyataan ini. Tiga tahun kami berjalan merangkai impian bersama, dan tiba-tiba kami dipaksa berpisah sebelum benar-benar saling memikili.
Kini, setelah berjeda empat bulan semenjak perpisahan itu, aku berdiri di tempat yang sama sambil mencoba tersenyum melihat potret cincin kawin di jari kanan yang ia unggah di laman media sosialnya, meski ada sayatan luka yang tak berdarah, tak terlihat, tak bersuara, namun sangat menyakitkan.
Dan kesakitan ini membuatku belajar, bahwa sebaik apapun rencana manusia pada akhirnya kita hanya akan dihadapkan pada dua pilihan ; belajar bersyukur ketika rencana itu sejalan dengan takdir atau belajar ikhlas dan sabar saat realita tak bersahabat dengan segala rencana.
Mungkin di balik semua diam yang kupelajari, aku sedang belajar sesuatu yang lebih sulit dari marah dan kecewa: belajar menerima tanpa penjelasan, belajar melepaskan tanpa suara, belajar ikhlas— meski hatiku belum sepenuhnya siap.
Dan di antara semua ketenangan dalam diam yang kupelajari hari ini, aku perlahan mengerti satu hal: ikhlas bukan tentang menghapus rasa, melainkan tentang menerima bahwa tidak semua kebenaran perlu diperjuangkan dengan suara.
“Pa, minggu depan aku sidang skripsi.” Ucap Andhita di sela makan
malamnya bersama Papa.
“Hmm. Terus kenapa?” jawab Papa. Masih dengan aura dingin,
dan tak peduli seperti biasanya.
Andhita menarik senyum pahit yang ia coba sembunyikan dari
tatapan sang ayah. Seperti biasa, Ta! Lu ada tapi seolah tak terlihat!
Ngapain juga kasih laporan, apalagi berlagak minta didoakan. Lucu! Gumam
Andhita dalam hati.
“Terus kenapa kalau kamu mau sidang? Semuanya udah
dibayarkan, kan? Apa lagi?” tanya Papa tanpa keramahan sedikitpun.
“Gak, Pa. Cuma mau kasih tau dan minta doa dari Papa aja.”
jawab Andhita sambil menahan perih dalam hatinya.
“Oh.” Jawab Papa dengan sangat singkat yang langsung bangkit
dari kursinya dan meninggalkan Andhita di ruang makan sendirian.
Ini bukanlah kejadian pertama yang Andhita dapatkan dari
Papanya. Mestinya enggak harus sesakit ini, Ta. Bukannya udah biasa dengan
perlakuan seperti itu? Andhita bertanya kepada dirinya sendiri.
Ya! Sikap dingin, tak peduli, dianggap tak ada, bahkan
seringkali disebut sebagai anak pembawa sial, sudah sering kali Andhita
dapatkan semenjak lima tahun lalu sang mama pergi untuk selamanya.
Andhita menyeka air mata yang sudah siap terjun bebas dari
ujung matanya. Sebisa mungkin ia menahan rintik air matanya sambil membereskan
piring kotor dan meja makan agar terlihat rapih kembali.
Selesai membereskan piring-piring dan dapur serta ruang
makan, Andhita kembali ke kamarnya. Ia segera merebahkan badannya di atas tempat
tdirunya yang hanya berukuran 60x120cm. Ia merasa sangat lelah. Bukan karena
pekerjaan rumah apalagi persiapan sidang skripsinya. Karena yang membuatnya
merasa sangat lelah adalah sikap papanya sendiri. Bertahun-tahun lamanya
Andhita berada di keadaan yang sama sekali membuat ia tak nyaman.
Bertahun-tahun pula ia terjebak dalam keadaan merindukan kedua orangtuanya.
Andhita membalikkan badan, menatap potret mama dan papanya
yang ia pajang di atas nakas samping tempat tidur. Ia pun merubah posisinya. Ia
duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap potret mama dan papa yang kini
sudah berada dalam genggamannya.
“Aku berdosa banget ya, Ma? Udah membuat Mama harus meninggalkan
Papa secepat ini?” lirih Andhita sambil menatap potret sang Mama yang tersenyum
begitu manisnya.
“Ma, semenjak Mama pergi, aku bukan cuma kehilangan Mama. Aku
juga kehilangan Papa. Papa ada secara fisik di sini, aku yang menemani Papa
setiap hari semenjak Mama pergi. Tapi nyawa dan hati Papa gak ada lagi buat
aku, Ma. Aku rindu Papa yang dulu. Aku rindu Papa yang hangat dan perhatian
sama aku, Ma. Dosa ku besar banget ya, Ma? Sampe Tuhan harus menghukumku
seperti ini?” lanjut Andhita sambil menatap potret Mama dan Papa nya
bergantian. Ia biarkan wajahnya basah oleh air mata. Ia membiarkan bulir air
mata itu membicarakan kerinduan yang menyesakkan dadanya selama ini.
***
Lima tahun lalu.
Andhita baru saja melewati hari terakhir ujian sekolahnya.
Sebagai tanda syukurnya, Andhita meminta ijin kepada Mama untuk pergi
jalan-jalan dengan sahabat-sahabatnya sepulang sekolah sebagai bentuk perayaan
kecil-kecilan karena mereka sudah melewati hari-hari ujian sekolah yang cukup
menjadi beban untuk mereka.
Dengan segala pertimbangan, Mama mengijinkan Andhita pergi
bersama sahabat-sahabtnya itu. “Tapi nanti pulangnya Mama yang jemput. Kasih
tau aja kalian jalan kemana.” Titah sang Mama kepada Andhita. Dengan senang
hati Andhita mengiyakan pesan sang Mama.
Setelah seharian penuh berjalan-jalan bersama
sahabat-sahabatnya, Andhita merasa puas. Senyum tak lepas dari wajahnya. Ia kemudian
ingat pesan mama untuk menghubunginya saat sudah siap untuk dijemput pulang.
"Ma, aku di mall biasa ya. Sebentar lagi pulang."
Ucap Andhita ketika sambungan telepon dijawab oleh Mama.
“Tunggu di situ, Mama segera jemput.” Suara hangat Mama
memberikan rasa aman dan nyaman di telinga Andhita.
“Oke, nanti aku tunggu di lobi pintu utama aja ya, Ma.”
“Iya. Tunggu ya.”
Andhita menunggu dengan hati penuh gembira, membayangkan akan
menceritakan keseruan hari ini pada Mama di perjalanan pulang.
Namun, menit berlalu hingga tanpa terasa sudah bergulir satu
jam. Mama belum juga datang. Berkali-kali Andhita melirik jam di ponselnya,
sambil matanya panjang menatap jalan menunggu Mama datang dengan vios
kesayangannya. Kalau dari kantor Mama harusnya lima belas menit juga udah
sampe. Ini kenapa belum keliatan juga ya? Bisik hati Andhita yang sudah
mulai cemas. Hingga akhirnya telepon dari Papa masuk.
“Andhita, kamu di mana sekarang?” suara Papa terdengar
berbeda, lebih cepat dan cemas.
“Di mall biasa, Pa. Lagi nunggu Mama jemput ini. Mama tadi
bilang sudah mau jemput aku.” Jawab Andhita.
“Pulang sendiri, sekarang!”jawab Papa dengan begitu tegasnya.
“Tapi, Pa.”
“Papa bilang pulang sendiri, sekarang!” Dengan cepat papa
memotong ucapan Andhita.
“Mama… Mama
kecelakaan, kondisinya kritis sekarang.” lanjut Papa singkat, seakan berat
mengatakan hal itu.
Dunia Andhita terasa runtuh seketika. Kakinya lemas, jantungnya
berdegup tak karuan.
“Nyokap gue kecelekaan, Re.” ucap Andhita kepada Rena yang
masih setia menemaninya. Rena berusaha menenangkan, namun Andhita tak bisa
mendengar apa pun. Dengan tatapan kosong, derai air mata, juga rasa bersalah
yang mendadak memeluknya erat, ia hanya terdiam duduk tanpa tau harus berbuat
apa.
Sehari pasca kecelakaan itu, Mama meregang nyawa di ruang
ICU. Rasa bersalah Andhita semakin menjadi. Murkanya sang Papa tak bisa ia
hindari. Sejak hari itu, Andhita disebut sebagai anak pemberi musibah. Bahkan
yang menyebutnya seperti itu adalah ayahnya sendiri. Lelaki sebagai cinta
pertamanya. Lelaki pertama tempat ia berlindung.
***
Andhita menggenggam potret itu semakin erat, mengingat malam
itu—malam yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi malam terakhirnya bersama
Mama. Dalam pikirannya, ia selalu membayangkan bahwa jika ia tidak pergi
bersama teman-temannya, mungkin Mama masih ada di sini.
Ia ingin meminta maaf pada Papa atas hari itu. Namun setiap
kali ia mencoba, hanya dingin yang didapatnya. Andhita tidak pernah mendapat
kesempatan untuk menjelaskan atau meminta pengertian Papa. Hanya kesedihan,
rasa bersalah, dan jarak yang semakin lebar yang ada di antara mereka.
Andhita pulang larut malam, membawa
kepenatan setelah sidang skripsi yang akhirnya selesai. Seusai sidang skripsi,
Andhita tidak segera pulang ke rumah. Ia memilih untuk singgah sebentar ke
makam Mama. menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bisa sampai
menyelesaikan kuliahnya tanpa mama, juga kehangatan sang papa.
Sesampainya di rumah, ia menemukan
Papa duduk di ruang tamu, terlihat termenung dengan tatapan kosong.
“Sidang sudah selesai, Pa,” ucapnya
pelan, berharap ada sedikit kehangatan dari Papa.
Papa menatapnya sejenak, kemudian
mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa. Seperti ada sesuatu dalam dirinya
yang memberontak, Andhita tidak lagi bisa menahan perasaannya. Ia pun segera
duduk di samping Papa setelah meletakkan beberapa bawaannya di sofa kecil di
sampingnya.
“Papa, aku cuma ingin Papa tahu,
aku sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah berusaha untuk sampai di titik ini.
Aku hanya ingin Papa bangga atas pencapaianku, Pa.”
Papa tak sedikitpun bergeming.
“Tapi kenapa Papa selalu melihat
aku sebagai anak yang membawa sial? Kenapa aku selalu disalahkan atas kepergian
Mama?” Suaranya mulai bergetar. Tangisnya pun mulai pecah.
Papa masih terdiam, matanya sedikit
membelalak, seakan kalimat itu menusuk jauh ke dalam dirinya. Beberapa detik
berlalu tanpa ada respons. Andhita merasa lega, sekaligus takut. Andhita
menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, hatinya sudah telanjur
memanas.
“Papa tahu nggak, selama lima tahun
ini aku selalu merasa sendirian. Aku kehilangan Mama, lalu Papa juga pergi.”
“Papa ada, gak pernah pergi. Dan
kamu tau itu.” sergah Papa cepat.
“Papa memang ada di sini, tapi aku merasa
seperti anak yatim. Setiap hari aku merasa bersalah karena Mama pergi saat
ingin jemput aku, dan aku tahu Papa menyalahkanku! Papa ada di sini, tapi Papa
menjauh. Aku merasakan itu, Pa!”
Papa terdiam, ekspresinya masih
dingin, tapi ada bayangan rasa sakit di matanya. “Papa… nggak pernah bermaksud
begitu, Ta.”
“Kalau nggak, kenapa Papa selalu
bersikap seolah aku ini nggak penting? Kenapa semenjak nggak ada Mama perhatian
Papa hanya berupa materi, uang, uang dan uang? Aku cuma mau Papa sadar aku
masih di sini, Pa. Aku rindu Papa yang dulu. Yang hangat. Yang perhatian. Papa
yang… pernah sayang sama aku dengan begitu sempurna.” Tangin Andhita semakin
pecah.
Papa menghela napas panjang, dan
untuk pertama kalinya, tatapannya melunak. Ia meletakkan tangannya di atas
lututnya, suaranya rendah dan berat.
“Papa kehilangan arah waktu Mama
pergi, Ta. Selama ini… Papa nggak tahu cara menghadapi rasa bersalah dan
kehilangan itu. Papa pikir dengan menyalahkan, dengan bersikap dingin, semua
rasa itu bakal hilang. Tapi ternyata justru Papa membuat jarak kita semakin
jauh.”
“Papa tahu, setiap malam aku selalu
bertanya-tanya, apa aku memang salah? Apa aku yang buat Mama pergi? Apa aku
sejahat itu dalam hidup Papa? Dan kenapa Papa nggak pernah kasih aku jawaban?”
getar suara Andhita mengucapkan itu.
Papa akhirnya menundukkan
kepalanya. “Kamu nggak pernah salah, Ta. Mama pergi karena kecelakaan, itu
bukan salahmu. Tapi Papa butuh waktu lama untuk menerimanya. Papa menyesal
nggak pernah kasih kamu kesempatan untuk bicara.” Ujar Papa dengan suaranya
yang mulai serak.
Andhita semakini terisak, dan tanpa
disadari, Papa meraih tangannya. Ini pertama kali sejak bertahun-tahun mereka saling
berjarak dan menjauh. Semenjak lima tahun berlalu, mungkin ini sentuhan pertama
Papa kepada Andhita, sentuhan dengan penuh perasaan. Hangat, sekaligus
menyakitkan.
“Aku rindu Mama, Pa. Aku rindu
keluarga kita yang dulu. Aku cuma ingin kita bisa kembali, walaupun mungkin
nggak sempurna seperti dulu. Dita rindu Papa yang dulu. Yang selalu ada buat
Dita di kondisi apapun. Dita cukup kehilangan Mama, Pa. Dita nggak mau
kehilangan Papa. Dita kangen Papa.” Lirih suara Andhita mengutarakan isi
hatinya.
Papa mengangguk pelan, matanya
basah. “Papa juga rindu, Ta. Dan kalau kamu mau, kita bisa mulai lagi. Mungkin
pelan-pelan, tapi Papa janji nggak akan biarkan kamu merasa sendirian lagi.”
“Dita boleh peluk Papa?” tanya Dita
sambil menatap wajah Papa dengan matanya yang basah.
Tanpa menjawab, Papa menarik
Andhita kedalam pelukannya.
Hangat. Menenangkan. Merasa aman
dan nyaman. Itulah yang dirasakan Andhita. Kehangatan, rasa nyaman dan aman
yang selama lima tahun ini ia kehilangannya.
“Dita kangen Papa. Jangan menjauh
lagi ya, Pa. Dita minta maaf.” Lirih Andhita dalam pelukan Papa.
Dengan lembut Papa mengecup puncak
kepala Andhita. Ada getar rindu yang tak bisa dipungkiri oleh Papa. Juga ada
rasa bersalah atas sikapnya yang selama ini mengabaikan dan menyalahkan putri
semata wayangnya itu.
“Papa yang minta maaf. Kamu nggak
salah, Ta. Maaf sudah membuat kamu harus merasa kehilangan Papa juga.”
Andhita tak dapat menjawab apapun.
Pelukannya semakin erat. Tangisnya pun semakin pecah. Kali ini, tangis yang
berderai dari matanya adalah tangis haru karena kembalinya Papa yang selama ini
ia rindukan. Tuhan, tolong panjangkan waktuku dan Papa untuk bisa selalu
bersama. Untuk menebus segala kerinduan yang selama ini ku simpan sendirian.
Tolong, jangan jemput Papa untuk pulang sebelum aku membahagiakannya.
Jika kamu bertanya apakah ini perihal rasa sayang yang masih tertinggal, mungkin aku akan menjawab dengan ragu bahwa iya… ada sedikit rasa yang tertinggal. Tapi kali ini aku hanya ingin peduli secukupnya, tanpa dua perasaan itu. Perasaan yang dulu sempat membuatku jatuh, terpuruk, meratapi harapan yang ternyata menyakitkan.
Aku pernah berjuang melepasmu, juga berusaha melupakanmu. Namun setiap usahaku selalu berakhir sama: sia-sia. Selalu ada kata mustahil yang berdiri di antara aku dan keinginan untuk benar-benar menjauh darimu. Aku mencoba menanam bibit benci, berharap itu bisa mengusir bayangmu dari hidupku—tapi aku gagal. Kamu terlalu melekat dalam memori kenangan indah untuk bisa kubenci.
Aku kira waktu akan mampu meniadakanmu dari pikiranku. Aku kira, aku bisa begitu yakin bahwa setiap rasa yang tertuju padamu akan lenyap. Tapi ternyata, rindu lebih berkuasa. Ia selalu menemukan celah untuk menghadirkanmu di sela-sela langkahku. Ia selalu berhasil menggoyahkan keputusanku untuk tidak lagi memikirkan dan mengkhawatirkan segala hal tentangmu. Ia menyadarkan ku, bahwa ternyata cinta yang hanya sebentar singgah, rupanya memilih tinggal lebih lama. Dalam ruang diam yang mengubahnya menjadi rindu yang sunyinya tak bisa ku tolak. Rindu yang tahu dirinya tak punya ruang untuk kembali, namun mengingkannya pulang ke hati kecil yang sangat merindu.
Namun pada akhirnya aku selalu sadar, rindu ini cukup ku peluk sendiri, dalam diam, dalam sunyi, dalam harapan yang tak pernah menjelma nyata. Karena kita tidak akan pernah bisa bersama.
Kenapa kesunyian selalu berhasil memutar kembali rekam kenangan yang sudah ku kubur perlahan? Kenapa sepi selalu mengetuk dinding hati hanya untuk menghadirkan rindu? Kenapa kesendirian selalu memunculkan senyuman yang selalu ingin aku lupakan?
Tapi, Ikhlas pun masih boleh merindukan, kan? Merindu tanpa harus tau apakah rindu ini bersambut atau terabaikan.
Aku mencoba menyibukkan diri, mengisi hari dengan tawa baru, berjalan di jalan yang tak pernah kita lalui bersama. Tapi tetap saja, bayanganmu selalu hadir di sela-sela senyumku yang paling pura-pura. Segala tentangmu selalu hadir dalam rindu yang paling sunyi, yang ku sembunyikan di balik tirai malam.
Mereka bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi mengapa setiap detik justru membuatku lebih sakit? Mengapa aku merasa semakin jauh dari sembuh? Padahal aku sudah berusaha sekuat itu. Hingga merapalkan namamu dihadapan Tuhan pun sudah hampir ku tiadakan. Tapi kenapa? Kenapa lagi-lagi harus tentang kamu yang membuat gaduh isi kepalaku?
Apakah aku tak cukup bagimu? Setelah aku mendampingi mu waktu ke waktu. Memelukmu demi bangkit kembali dari satu masalah ke masalah baru. Apakah aku tak cukup? Apakah yang ku curahkan masih jauh dari kata cukup?
Aku hanya ingin merasa menjadi seseorang yang cukup untuk orang lain, terutama untukmu. Ya. Aku ingin hadirku cukup membuatmu tenang. Cukup membuatmu bahagia. Cukup memberikan alasan untukmu merasa harus semangat dan hidup lagi setiap harinya. Aku ingin hadirku cukup untuk kamu menemukan alasan bahwa duniamu akan selalu baik-baik saja.
Namun realitanya tidak! Aku tidak pernah cukup untuk kamu yang selalu mencari sempurna.
Setiap usahaku terasa seperti tetesan air di samudra tak bertepi. Aku berikan waktu, kasih, dan kekuatan, tapi matamu selalu mencari sesuatu yang lebih, sesuatu yang tak pernah kumiliki. Aku berdiri di tepi harapan, menatapmu yang terus berlari mengejar bayangan sempurna itu, meninggalkanku dengan pertanyaan yang menggantung. Apakah cinta yang kuberikan tak cukup manis? Apakah pelukan yang kuberikan tak cukup hangat?
Aku pernah menangis di malam yang sunyi, merasa kecil di bawah beban “tidak cukup” yang kau letakkan di pundakku. Tapi di tengah air mata itu, ada percikan cahaya—suara kecil dalam diriku yang mulai berani bicara. “Mengapa aku harus membuktikan cukup untuk seseorang yang tak melihat usahaku?”
Aku memilih mundur selangkah, memberi ruang untuk diriku sendiri. Aku belajar mendengarkan detak jantungku yang berbisik, “Kau sudah cukup, bahkan jika dia tak melihatnya.” Aku mulai menuai ketenangan dari dalam, dari setiap napas yang kuhirup di pagi hari, dari setiap senyum yang kujaga untuk diriku sendiri.
Kini, aku tak lagi memohon untuk dianggap cukup olehmu. Aku cukup untuk diriku sendiri. Cukup untuk bangkit setiap kali jatuh, cukup untuk mencintai hidup ini dengan caraku. Dan suatu hari, aku harap, aku akan menemukan seseorang yang melihat “cukup” itu—bukan sempurna, tetapi cukup—seperti yang kuperjuangkan untukmu dulu.