Senin, 21 Juli 2025

Terpenjara Ego Diri


Tidak ada yang baik-baik saja setelah kamu menyuruhku pergi hanya karena kesalahpahaman yang tak seharusnya terjadi. Tidak ada yang baik-baik saja denganku semenjak malam itu. Malam yang kuanggap sebagai malam perpisahan yang tak pernah kita sepakati. Hatiku remuk berkeping-keping. Seperti ada sayatan belati yang menggores setiap sendi tiap kali aku teringat kembali ucapanmu.
Aku tahu, lisanmu menyuruhku pergi, tapi hatimu juga rapuh, bukan? Ada rindu yang berdetak hebat di balik langkah yang saling menjauh.

Setiap malam, aku terjaga dalam sepi, menatap bayangmu yang masih hidup di sudut pikiranku. Aku mencoba melupakannya, tapi kenangan tentangmu seperti lukisan yang enggan pudar. Aku melihatmu dalam mimpi, dalam kilas balik tawa kita, dalam aroma kopi yang dulu kita bagi. Tapi kini, kita hanya dua orang asing yang pernah saling memiliki, terpisah oleh dinding tak kasat mata yang kita bangun sendiri.

Aku ingin tahu, apakah kau juga merasakan luka ini? Apakah kau juga terbangun di tengah malam, dengan dada sesak oleh rindu yang tak kau akui? Aku membayangkanmu di sana, mungkin menjalani hari-harimu dengan senyum yang dipaksakan, seperti aku. Kita sama-sama menyimpan rahasia, menyembunyikan kerapuhan di balik topeng keberanian. Kita saling menjaga jarak, bukan karena benci, tapi karena takut—takut bahwa satu kata saja bisa meruntuhkan benteng yang telah kita susun dengan susah payah.

Dulu, setiap sentuhanmu adalah rumah bagiku. Kini, setiap ingatan itu adalah penjara. Aku ingin berlari kepadamu, ingin mengatakan bahwa aku masih mencintaimu, bahwa aku menyesal atas malam itu, atas kata-kata yang tak seharusnya terucap. Tapi egoku, seperti rantai, mengikatku pada kebisuan. Dan aku tahu, kau juga terikat oleh rantai yang sama. Kita adalah tahanan dari ego kita sendiri, menolak untuk mengaku bahwa kita masih saling membutuhkan.

Malam ini, aku menulis lagi, menuangkan luka yang tak pernah kering. Aku membayangkanmu di ujung cerita ini, membaca kata-kataku dalam diam, dengan hati yang sama perihnya. Mungkin kau juga ingin kembali, ingin memperbaiki apa yang telah retak. Tapi seperti aku, kau memilih untuk tenggelam dalam sunyi, membiarkan rindu itu menggerus kita perlahan. Kita adalah dua jiwa yang saling merindu, namun terkunci dalam penjara yang kita ciptakan sendiri.

Cerita kita mungkin telah usai, tapi rindu ini masih bernapas. Ada luka yang masih berdarah, ada harapan yang masih berkedip di ujung kegelapan. Mungkin suatu hari, ketika ego kita lelah bertahan, salah satu dari kita akan berani mematahkan rantai ini. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa menulis—dan berdoa agar kau tahu, di balik setiap goresan pena, hatiku masih memanggil namamu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar