Rabu, 30 September 2026

Yang Tak Lagi Ku Cari

Rabu, September 30, 2026 0 Comments

Dulu... aku menduga segala tentangmu akan abadi dalam hari-hari yang kupijak.

Aku mengira, untuk mengubur segala tentangmu tak akan pernah sanggup aku lakukan. Aku berpikir, namamu akan menjadi cerita yang kubisikkan pada malam sesaat sebelum kupejamkan mata. Menjadi seseorang yang akan selalu menemukan jalan untuk kembali hadir, meski hanya melalui ingatan yang diam-diam kusimpan.

Nyatanya... dugaanku salah. Pikiranku keliru.

Saat ini, tak ada lagi cerita tentangmu yang kukisahkan pada siapa pun, juga pada apa pun. Termasuk pada malam sunyi yang kerap kali menjadi saksi bisu tentang rasaku padamu.

Bukan karena aku membenci.
Bukan pula karena aku benar-benar lupa.

Aku hanya sudah terlalu jauh berjalan dari tempat di mana dulu aku begitu sibuk mencarimu dalam setiap sudut kehidupan.

Waktu telah membawaku semakin jauh untuk mengulang cerita tentangmu.

Waktu telah menguburmu dalam setiap detik putaran hari yang bergulir. Perlahan, namamu tak lagi menjadi sesuatu yang harus kuhindari. Kenangan tentangmu tak lagi menjadi sesuatu yang harus kupaksa untuk kulupakan.

Ia hanya menjadi bagian dari sesuatu yang pernah ada.

Dan anehnya, aku baik-baik saja dengan itu.

Dulu, aku takut suatu hari nanti aku akan benar-benar berhenti merindukanmu. Seolah hilangnya rindu berarti aku sedang mengkhianati segala sesuatu yang pernah kurasakan.

Ternyata tidak.

Berhenti merindukanmu bukan berarti apa yang pernah kita miliki menjadi tidak berarti. Melepaskanmu bukan berarti aku menyesali pernah mencintaimu. Dan berdamai dengan kenyataan bahwa kita tak pernah bisa bersama, bukan berarti aku harus menghapus seluruh cerita yang pernah membuatku bahagia.

Pada akhirnya aku mengerti ...

Tidak semua yang pernah kita cintai harus tinggal selamanya.

Ada yang datang untuk mengajarkan bagaimana rasanya mencintai. Ada yang pergi untuk mengajarkan bagaimana rasanya kehilangan. Dan ada pula yang akhirnya harus kita lepaskan agar kita tahu, bahwa hidup masih akan terus berjalan bahkan setelah seseorang yang pernah kita anggap sebagai rumah memilih menjadi bagian dari masa lalu.

Kini, jika namamu sesekali lewat di kepala, aku tak lagi sibuk mengusirnya.

Jika kenangan tentangmu datang tanpa permisi, aku tak lagi buru-buru menutup pintu.

Aku membiarkannya lewat.

Sebentar saja.

Lalu membiarkannya pergi bersama waktu.

Sebab kini aku tahu, ada perbedaan besar antara masih mengingat dan masih menginginkan.

Aku masih bisa mengingatmu tanpa ingin memilikimu.

Aku masih bisa mengenangmu tanpa berharap cerita itu kembali.

Aku bahkan bisa mendoakanmu tanpa diam-diam berharap namamu kembali menjadi bagian dari hidupku.

Dan mungkin, di situlah akhirnya aku benar-benar sembuh.

Bukan ketika aku lupa siapa dirimu, melainkan ketika aku tak lagi merasa harus membawa perasaan yang sama untuk membuktikan bahwa aku pernah mencintaimu.

Terima kasih pernah menjadi bagian dari perjalanan yang membuatku mengenal begitu banyak rasa.

Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang menunggu.
Tentang melepaskan.
Dan tentang diriku sendiri yang ternyata mampu berjalan sejauh ini.

Kini aku tak lagi menunggumu di antara sunyi.

Tak lagi menyebut namamu pada malam.

Tak lagi mencari kemungkinan dari sesuatu yang sejak awal memang tak pernah ditakdirkan untuk menjadi milikku.

Aku telah sampai pada satu titik di mana tidak ada lagi yang perlu kuperjuangkan, tidak ada lagi yang perlu kutanyakan, dan tidak ada lagi yang perlu kuharapkan.

Segala tentangmu, pernah menjadi bagian terindah sekaligus paling melelahkan dalam perjalanan ini.

Dan hari ini, dengan hati yang jauh lebih tenang...

Kunyatakan semuanya selesai.

Bukan dengan marah.

Bukan dengan benci.

Bukan dengan dendam.

Melainkan dengan keikhlasan yang begitu luas.

Karena akhirnya aku mengerti, beberapa orang memang hanya ditakdirkan untuk hadir dalam cerita kita, bukan untuk menetap di dalam hidup kita.

Dan kamu ... pernah menjadi cerita yang begitu ingin kupeluk selamanya.

Namun kini, cukup menjadi cerita yang pernah membuatku tumbuh.

Segala tentangmu, selesai.

Dan untuk pertama kalinya...

aku benar-benar baik-baik saja dengan itu.