Senin, 02 Maret 2026

Rumah yang Tak Lagi Memilihnya

Senin, Maret 02, 2026 0 Comments

Adzan maghrib berkumandang, memantul di dinding rumah yang kini terasa terlalu lapang.

Faris duduk sendiri di meja makan. Gelas air di hadapannya tak tersentuh. Dulu, setiap Ramadhan, ia harus menahan tangan kecil anaknya yang tak sabar ingin berbuka. Dulu, ada suara istrinya dari dapur—lelah, tapi hangat—lalu duduk di sampingnya sambil tersenyum.

Kini, kursi itu kosong.

Ia tak pernah menyangka rumahnya bisa berubah hanya karena satu orang asing.

Seorang janda yang awalnya hanya sering datang, sering bercerita, sering mengeluh tentang hidupnya. Entah sejak kapan, kehadirannya membuat istrinya berubah. Perempuan yang dulu mendengarnya dengan tenang, mulai lebih sering membantah. Pendapat Faris terasa seperti serangan. Kekhawatirannya dianggap prasangka.

Percakapan mereka tak lagi mencari jalan keluar, hanya mencari siapa yang paling benar.

Suatu hari, tanpa banyak suara, istrinya memilih pergi. Membawa anak mereka. Tanpa tangis panjang. Tanpa pertengkaran terakhir. Hanya keputusan yang dingin.

Ramadhan ini menjadi yang paling sunyi.

Tak ada yang membangunkannya sahur.
Tak ada yang mencium tangannya seusai salat.
Tak ada suara kecil yang memanggilnya Ayah dari ujung rumah.

Faris bukan lelaki yang sempurna. Tapi ia tak pernah membayangkan kehilangan rumahnya dengan cara seperti ini—bukan karena orang ketiga yang ia cari, melainkan karena orang ketiga yang tak pernah ia undang.

Malam itu, selepas tarawih yang ia jalani sendirian, ia duduk lama di ruang tamu.

Foto keluarganya masih tergantung di dinding.

Ia menatapnya tanpa marah. Tanpa air mata.

Hanya ada ruang kosong yang perlahan melebar di dadanya.

Dan sejak mereka pergi, satu hal itu terus berputar di kepalanya—

Bagaimana mungkin Ramadhan, yang seharusnya mendekatkan hati, justru membuatnya tak lagi dipilih di rumahnya send